<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468</id><updated>2012-02-16T19:28:44.303-08:00</updated><category term='Tokoh Perdamaian'/><category term='tidak ada ajahn chah'/><category term='Ayam atau Telur'/><category term='Kedamaian'/><category term='Renungan'/><category term='Dhamma'/><category term='Saya Buta'/><category term='Mencari Dan Membina Pasangan Hidup'/><category term='Semangat'/><category term='Forgiveness'/><category term='Kasih'/><category term='Teratai'/><category term='Hee Ah Lee'/><category term='Disaat daku tua'/><category term='Pikiran dan Perasaan'/><category term='Kesabaran dan Toleransi'/><category term='Cinta'/><category term='Indahnya Kehidupan'/><category term='Jasmani'/><category term='Lotus'/><category term='YANG ARIYA ANURUDDHA'/><category term='BELAJAR MELEPASKAN APA YANG MENJADI MILIK KITA'/><category term='Smile Again'/><category term='Siswa-Siswa Utama Sang Buddha'/><category term='Gede Prama'/><category term='Kata Bijak'/><category term='YANG ARIYA ANANDA'/><category term='YANG ARIYA SARIPUTTA'/><category term='Agama Buddha'/><category term='YANG ARIYA MOGGALLANA'/><category term='Konosuke Matshushita'/><category term='Your Religion Is Not Important'/><category term='YANG ARIYA RAHULA'/><category term='zen'/><category term='Sepuluh Hal'/><category term='Kematian Juga Menawan'/><category term='Melepas'/><category term='Dalai Lama'/><category term='Sad Paramita in Daily Life'/><category term='Hidup yang Ceria'/><category term='Cinta Kasih'/><category term='Tolong Bantu...'/><category term='Kodok dan Ikan Mas'/><category term='USA for Africa - We Are The World'/><category term='Mother Teresa'/><category term='YANG ARIYA MAHA KASSAPA'/><category term='Menciptakan Pikiran Pencerahan'/><category term='Tentang Ayah'/><category term='Waktu Akan Menyembuhkan Luka Kita'/><category term='Siapakah Buddha'/><category term='Senggenggam Biji Padi'/><category term='Thich Nhat Hanh'/><category term='Nobel Perdamaian'/><category term='Noble Life'/><category term='Konsep Buddhis Tentang Surga dan Neraka'/><category term='Bodhisattva&apos;s Way of Life'/><category term='Guru Zen dan Seorang Kristen'/><category term='Smile'/><category term='Keburukan juga adalah pelajaran'/><category term='Rendah Hati'/><category term='Mahatma Gandhi'/><category term='Hati dan Pikiran'/><category term='Kata Bijak Bunda Teresa'/><category term='Pancasila'/><category term='Buddha'/><category term='Cerita Zen'/><category term='Bertahan Tidak Mati vs Hidup dengan Baik'/><category term='Menghormati Seks dan Tubuh'/><category term='YANG ARIYA UPALI'/><category term='Manjusri Bodhisattva'/><category term='Siddharta Gautama'/><category term='Album Foto Renungan'/><category term='Meledakkan Kemelekatan'/><category term='Asal Usul Manusia'/><category term='Ajahn Chah'/><category term='Hidup Tanpa Musuh'/><category term='Kamu adalah calon Buddha'/><title type='text'>Indahnya Dhamma</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>91</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-8385255460905148845</id><published>2012-01-29T06:19:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T06:22:06.128-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajahn Chah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Biarkanlah Pohon Itu Tumbuh</title><content type='html'>By : Ajahn Chah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sang &lt;a href="http://dipankarajayaputra.com/" title=""&gt;Buddha&lt;/a&gt;  menjelaskan bahwa segala sesuatu secara alamiah, sekali anda telah  melaksanakan tugas anda, serahkanlah hasilnya pada alam, pada kekuatan  akumulasi karmamu. Akan tetapi pengerahan usahamu harus tidak berkurang.  Apakah buah kebijaksanaan itu datangnya cepat atau lambat anda tidak  dapat memaksanya, seperti halnya anda tidak dapat memaksa tumbuhnya  sebuah pohon yang anda tanam. Pohon itu punya masanya sendiri. Tugasmu  hanyalah menggali lubang, mengairi dan memupuknya, serta menjaganya dari  hama. Tapi cara pohon itu bertumbuh adalah terserah kepada pohon itu  sendiri. Jika anda berlatih seperti ini, yakinlah anda bahwa semuanya  akan beres, dan tanaman anda akan tumbuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena itu, anda harus mengerti perbedaan antara kerja anda dengan  kerja pohon itu, Serahkanlah urusan pohon itu kepada pohon itu, dan  bertanggung jawablah kepada urusan anda sendiri. Jika batin tidak tahu  apa yang perlu ia lakukan, ia akan memaksa tanaman itu untuk tumbuh,  berbunga dan berbuah pada hari yang sama. Ini adalah pandangan yang  salah, penyebab besar dari penderitaan. Berlatih sajalah pada arah yang  benar dan serahkan hasilnya pada karmamu. Kemudian, apakah akan  membutuhkan waktu satu atau ribuan kali &lt;a href="http://topmotivasi.com/sebuah-kisah-tentang-kehidupan.html" title=""&gt;kehidupan&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://buddhist.dipankarajayaputra.com/humor.dipankarajayaputra.com" title=""&gt;latihan&lt;/a&gt; anda akan berada d&lt;a href="http://topmotivasi.com/sebuah-kisah-tentang-kehidupan.html" title=""&gt;alam &lt;/a&gt;kedamaian.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-8385255460905148845?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/8385255460905148845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=8385255460905148845&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/8385255460905148845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/8385255460905148845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2012/01/biarkanlah-pohon-itu-tumbuh.html' title='Biarkanlah Pohon Itu Tumbuh'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-6963973268619678981</id><published>2011-08-29T20:50:00.000-07:00</published><updated>2011-08-29T20:58:20.802-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bodhisattva&apos;s Way of Life'/><title type='text'>Bodhisattva's Way of Life</title><content type='html'>By : Shantideva&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama aku mesti berusaha&lt;br /&gt;Untuk bermeditasi atas persamaan diri dan orang lain&lt;br /&gt;Aku mesti melindungi semua makhluk sebagaimana aku melindungi diriku&lt;br /&gt;Karena kita semua sama dalam hal (menginginkan) kebahagiaan (tidak menginginkan) penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu aku mesti menghilangkan kesengsaraan orang lain&lt;br /&gt;Sebab hal itu adalah penderitaan, sama seperti kesengsaraanku sendiri,&lt;br /&gt;Dan aku mesti menguntungkan orang lain&lt;br /&gt;Karena mereka adalah makhluk berperasaan, sama seperti diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diriku dan orang lain&lt;br /&gt;Sama dalam hal mengharapakan kebahagiaan&lt;br /&gt;Apa yang khusus dari diriku?&lt;br /&gt;Mengapa aku harus memperjuangkan kebahagianku sendiri?&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-6963973268619678981?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/6963973268619678981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=6963973268619678981&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6963973268619678981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6963973268619678981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2011/08/bodhisattvas-way-of-life.html' title='Bodhisattva&apos;s Way of Life'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-6872979059391162998</id><published>2011-08-29T18:38:00.000-07:00</published><updated>2011-08-29T20:15:54.287-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Buddha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep Buddhis Tentang Surga dan Neraka'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Konsep Buddhis Tentang Surga dan Neraka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img.ehowcdn.com/article-page-main/ehow/images/a08/1t/ce/beliefs-buddhists-afterlife-800x800.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 220px;" src="http://img.ehowcdn.com/article-page-main/ehow/images/a08/1t/ce/beliefs-buddhists-afterlife-800x800.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bijaksana menciptakan surganya sendiri, sementara orang bodoh menciptakan nerakanya sendiri disini dan sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Buddhis tentang surga dan neraka sepenuhnya berbeda dengan agama lain. Umat Buddha tidak menerima bahwa tempat ini adalah abadi. Tidak beralasan untuk mengutuk seseorang dalam neraka abadi atas kelemahan manusiawinya, tetapi cukup beralasan untuk memberinya setiap kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Dari sudut pandang umat Buddha, mereka yang masuk neraka dapat meningkatkan dirinya sendiri dengan menggunakan kebaikan yang telah mereka dapatkan sebelumnya. Gerbang neraka tidak tergembok. Neraka adalah tempat sementara dan tidak beralasan bagi makhluk itu untuk menderita disana selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Buddha menunjukkan pada kita bahwa ada surga dan neraka, bukan hanya di luar dunia ini, tetapi dalam dunia ini sendiri. Jadi konsep Buddhis tentang surga dan neraka sangatlah masuk akal. Sebagai contoh, Sang Buddha pernah berkata, "Ketika seorang yang tidak tahu membuat pernyataan tegas bahwa ada suatu neraka di bawah lautan, ia membuat pernyataan yang salah dan tanpa dasar. Kata 'neraka' adalah istilah untuk sensasi yang menyakitkan. Gagasan tentang tempat khusus yang siap atau yang diciptakan oleh Tuhan sebagai surga dan neraka tidak dapat diterima oleh konsep Buddhis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api neraka di dunia ini lebih panas daripada yang mungkin ada di neraka di luar dunia. Tidak ada api yang setara dengan kemarahan, nafsu atau ketamakan dan ketidaktahuan. Menurut Sang Buddha, kita terbakar oleh sebelas jenis kesakitan fisik dan penderitaan mental :  nafsu, kebencian, khayalan, derita, kehancuran, kematian, kecemasan, ratapan, rasa sakit (fisik dan mental), kemurungan dan kesedihan. Orang dapat membakar seluruh dunia dengan beberapa api pertikaian mental ini. Dari sudut pandang Buddhis, cara termudah untuk mendefinisikan neraka dan surga adalah dimana pun ada lebih banyak penderitaan, baik di dunia maupun di tempat lain, tempat itu adalah neraka bagi yang menderita. Dan dimana pun ada lebih banyak kesenangan atau kebahagiaan, baik di dunia ini maupun di tempat keberadaan lain, tempat itu adalah surga bagi mereka yang menikmati kehidupan duniawinya di tempat itu. Bagaimanapun karena alam manusia adalah campuran dari penderitaan dan kebahagiaan, manusia mengalami keduanya dan akan dapat menyadari sifat sejati kehidupan. Tetapi di banyak tempat keberadaan lain, penghuninya memiliki lebih kesempatan untuk penyadaran ini. Di tempat tertentu ada lebih penderitaan daripada kesenangan, sementara di tempat lain ada lebih banyak kesenangan daripada penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Buddha yakin bahwa setelah kematian, tumimbal lahir dapat terjadi di salah satu dari beberapa alam keberadaan yang mungkin. Keberadaan masa depan ini terkondisikan oleh moemen pikiran terakhir yang menentukan keberadaan berikutnya ini adalah hasil dari perbuatan masa lampau seseorang, baik dalam kehidupan ini atau sebelumnya. Jadi, jika pikiran yang utama mencerminkan perbuatan yang baik, maka ia akan menemukan keberadaan  masa depannya dalalm keadaan bahagia. Tetapi keadaan tersebut bersifat sementara dan jika telah habis maka suatu kehidupan baru harus dimulai lagi, ditentukan oleh energi kamma dominan lainnya yang menetap dalam pikiran bahwa sadar, menunggu kondisi yang tepat untuk jadi aktif. Hal ini sangat menyerupai benih yang menanti hujan dan cahaya untuk tumbuh. Proses berulang ini terus berlangsung tanpa akhir kecuali seseorang tiba pada 'Pandangan Benar' dan bertekad teguh untuk mengikuti jalan mulia yang menghasilkan kebahagiaan tertinggi Nibbana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga adalah tempat sementara di mana mereka yang telah berbuat baik mengalami lebih banyak kesenangan inderawi selama jangka waktu yang lebih lama. Neraka adalah tempat sementara lainnya dimana para pelaku kejahatan mengalami lebih banyak penderitaan fisik dan mental. Tidak dapat dibenarkan untuk percaya bahwa tempat-tempat semacam itu adalah abadi. Tidak ada Tuhan di belakang layar surga dan neraka. Setiap dan semua orang mengalami kesakitan atau kesenangan tergantung dari kamma baik dan buruknya. Umat buddha tidak pernah mencoba memperkenalkan ajaran Buddha dengan menakut-nakuti orang melalui api neraka atau memikat orang dengan menunjukkan surga. Tujuan utama Umat Buddha adalah pembentukan karakter dan pelatihan mental. Umat buddha menjalankan agamanya tanpa bertujuan pada surga atau tanpa mengembangkan rasa takut pada neraka. Tugas mereka adalah menjalani hidup yang benar dengan menegakkan sifat-sifat manusiawi dan kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-6872979059391162998?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/6872979059391162998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=6872979059391162998&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6872979059391162998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6872979059391162998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2011/08/konsep-buddhis-tentang-surga-dan-neraka.html' title='Konsep Buddhis Tentang Surga dan Neraka'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-210341949066670811</id><published>2011-08-29T04:34:00.000-07:00</published><updated>2011-08-29T04:38:35.413-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Zen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kodok dan Ikan Mas'/><title type='text'>Kodok dan Ikan Mas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XNLRgl044N0/TJjBz9MfiOI/AAAAAAAAA2Y/tv5zF0-6nME/s320/kodok.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 112px; height: 140px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XNLRgl044N0/TJjBz9MfiOI/AAAAAAAAA2Y/tv5zF0-6nME/s320/kodok.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ini sebuah kisah Zen. Alkisahnya, ada seekor kodok yang baru saja  pergi dari berjalan-jalan di daratan. Ketika kembali berenang di kolam,  dia bertemu dengan seekor ikan mas yang telah mengenalnya. “Halo Tuan  Kodok, Anda dari mana saja?”, “Oh, saya baru saja datang dari  berjalan-jalan di daratan”,jawab Sang Kodok. “Daratan? Apa itu daratan?  Saya belum pernah mendengar ada tempat yang bernama daratan”. “Daratan  ialah tempat di mana Anda dapat berjalan-jalan diatasnya”, Sang Kodok  mencoba menerangkan tentang daratan pada Si Ikan Mas. “Oh ya, dapat  berjalan-jalan diatasnya? Saya tidak percaya bahwa Anda baru saja dari  daratan. Menurut saya, tidak ada tempat yang disebut daratan”, Si Ikan  Mas membantah dengan sengit. “Baiklah jika Anda tidak percaya, yang  pasti saya tadi memang datang dari daratan”, balas Sang Kodok dengan  sabar. “Tetapi, Tuan Kodok, coba katakan pada saya, apakah daratan itu  dapat dibuat gelembung, jika saya bernafas didalamnya?” “Tidak”. “Apakah  saya dapat menggerakkan sirip-sirip saya didalamnya?” “Tidak”. “Apakah  tembus cahaya?” “Tidak”. “Apakah saya dapat bergerak mengikuti  gelombang?” “Tidak, tentu saja”, jawab Sang Kodok dengan sabar. “Nah,  Tuan Kodok, saya sudah menanyakan Anda tentang daratan, dan semua  jawaban Anda adalah “Tidak”, dan itu berarti daratan itu tidak ada”, Si  Ikan Mas menjawab dengan perasaan puas. “Baiklah, jika Anda  berkesimpulan seperti itu. Yang jelas, saya tadi memang datang dari  daratan dan daratan itu nyata adanya”,Sang Kodok menjawab sambil  berlalu.&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Si Ikan Mas, karena dia adalah seekor ikan yang hidupnya di air, maka  dia tidak pernah mengetahui bahwa ada dunia lain selain dunia airnya.  Kareena dia hanya mengenal dunia air, maka semua pertanyaan ynag  diajukan tentang daratan, tetap berkaitan dengan dunia air. Sebaliknya  Sang Kodok, dia dapat hidup di dua dunia, dunia air dan daratan.  Karenanya, Sang Kodok mengerti bahwa ada dunia lain selain dunia air  tempat para ikan hidup. Dia mengerti sepenuhnya dunia air, dia juga  mengerti sepenuhnya daratan, karena dia sudah mengalami pengalaman  empiris di dua dunia itu.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-210341949066670811?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/210341949066670811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=210341949066670811&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/210341949066670811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/210341949066670811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2011/08/kodok-dan-ikan-mas.html' title='Kodok dan Ikan Mas'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_XNLRgl044N0/TJjBz9MfiOI/AAAAAAAAA2Y/tv5zF0-6nME/s72-c/kodok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-6821729726128690613</id><published>2011-08-29T04:10:00.000-07:00</published><updated>2011-08-29T04:28:23.255-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keburukan juga adalah pelajaran'/><title type='text'>Keburukan juga adalah pelajaran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://cikembar.files.wordpress.com/2010/07/813510_compost.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 235px; height: 282px;" src="http://cikembar.files.wordpress.com/2010/07/813510_compost.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Lama Dharmavajra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada hal yang mutlak di dunia ini, tidak ada orang yang jahat-sejahatnya, dimana sampai tidak ditemukan setitik kebaikan pun di dalam dirinya, begitu juga sebaliknya dengan orang yang sebaik-baiknya yang tidak ditemukan setetes pun keburukan yang bersemayam di dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaik-baiknya orang suatu kali pasti berbuat jelek, seburuk-buruknya orang pasti dia berbuat baik, tidak ada yang abadi, tidak ada yang mutlak, tidak ada yang kekal. Jika kita belajar Dharma secara mendalam, pengertian karma itu akan membias, tidak sedangkal seperti pada awal kita belajar. Maksud membias adalah misalnya saat kamu sudah bisa menerima keburukan sebagai pelajaran, berarti sudah tidak ada karma lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kita tidak bisa, tidak mampu, tidak siap menerima keburukan sebagai pelajaran, selamanya karma itu ada. Ketika hasil karma buruk muncul dan kita bisa menerimanya, berarti kita tidak menciptakan karma yang lebih buruk lagi. Jika kita sudah bisa melihat keburukan dunia, kebencian, kejahatan, sebagai bagian dari pelajaran, maka bagi kita sudah tidak ada karma lagi, tidak ada batasan lagi. Yang buruk bisa berubah jadi baik. Kalau sudah begini apa yang menjadi halangan kita? Tidak ada lagi. Mau bertemu yang baik atau buruk, sama saja. Saat bertemu yang baik, ya itu pelajaran. Bertemu yang buruk, ya itu pelajaran juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk yang paling baik di dunia ini berasal dari kotoran, bukan berasal dari bahan kimia, bukan berasal dari benda-benda yang mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dari keburukan dunia kita bisa belajar dan kalau kita bisa menggunakannya, bisa memanfaatkannya, akan menjadi bermanfaat sekali.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-6821729726128690613?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/6821729726128690613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=6821729726128690613&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6821729726128690613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6821729726128690613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2011/08/keburukan-juga-adalah-pelajaran.html' title='Keburukan juga adalah pelajaran'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-6807332575668716541</id><published>2010-12-17T02:39:00.000-08:00</published><updated>2010-12-17T02:58:08.059-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pikiran dan Perasaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Pikiran dan Perasaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0pxJJAqbypQ/SdntvNWStGI/AAAAAAAAAvc/y1Yzxler7T8/s400/awan3.4.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 328px; height: 247px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0pxJJAqbypQ/SdntvNWStGI/AAAAAAAAAvc/y1Yzxler7T8/s400/awan3.4.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;By : Hendra Kurniawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana awan dapat berubah setiap hari.&lt;br /&gt;Dapat menjadi mendung juga cerah.&lt;br /&gt;Sama seperti perasaan.&lt;br /&gt;Terkadang senang, kadang kecewa.&lt;br /&gt;Terkadang tertawa, kadang menangis.&lt;br /&gt;Setiap saat dapat berubah.&lt;br /&gt;Perasaan dapat dibuat oleh pikiran.&lt;br /&gt;Pikiran bahagia, perasaan bahagia.&lt;br /&gt;Pikiran menderita, perasaan menderita.&lt;br /&gt;Dimana pun berada, pikiran selalu ada.&lt;br /&gt;Hanya melatih pikiran,&lt;br /&gt;Perasaan akan sulit berubah.&lt;br /&gt;Tersenyum ketika bahagia,&lt;br /&gt;Tersenyum ketika sedih.&lt;br /&gt;Tersenyum menyadari ketidakkekalan.&lt;br /&gt;Sadar akan segala kondisi yang selalu ada.&lt;br /&gt;Segala sesuatu itu berubah,&lt;br /&gt;dan tak ada yang tidak berubah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pikiran akan menentukan perasaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-6807332575668716541?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/6807332575668716541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=6807332575668716541&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6807332575668716541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6807332575668716541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/12/pikiran-dan-perasaan.html' title='Pikiran dan Perasaan'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0pxJJAqbypQ/SdntvNWStGI/AAAAAAAAAvc/y1Yzxler7T8/s72-c/awan3.4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-2665308334968006232</id><published>2010-12-17T02:20:00.000-08:00</published><updated>2010-12-17T02:36:51.985-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indahnya Kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Indahnya Kehidupan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TQs9BtSCIPI/AAAAAAAAAR8/wZfP_UzM9CY/s1600/meilland_leonidas.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 330px; height: 206px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TQs9BtSCIPI/AAAAAAAAAR8/wZfP_UzM9CY/s200/meilland_leonidas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551598065208664306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;By : Hendra Kurniawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir sebagai manusia adalah berkah.&lt;br /&gt;Walaupun di dunia banyak penderitaan,&lt;br /&gt;namun juga banyak kebahagiaan.&lt;br /&gt;Semua yang ada hanya ilusi.&lt;br /&gt;Semua yang ada hanya sementara.&lt;br /&gt;Semua yang ada adalah tidak ada.&lt;br /&gt;Ketika semua berakhir,&lt;br /&gt;hanya ada satu kebenaran.&lt;br /&gt;Kebaikan akan pikiran, ucapan, dan perbuatan,&lt;br /&gt;akan selalu melindungi kebenaran.&lt;br /&gt;Tak ada yang perlu dicari.&lt;br /&gt;Belajar untuk melepas semua hal.&lt;br /&gt;Belajar untuk mengenal diri sendiri.&lt;br /&gt;Belajar untuk mengenal semua makhluk.&lt;br /&gt;Semuanya sama...tak ada yang berbeda.&lt;br /&gt;Semua memiliki cinta dan semua ingin dicintai.&lt;br /&gt;Belajarlah mencintai dengan tulus.&lt;br /&gt;Tanpa syarat...tanpa imbalan.&lt;br /&gt;Dengan begitu,&lt;br /&gt;Hidup menjadi lebih bermakna,&lt;br /&gt;Dan Hidup menjadi lebih Indah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-2665308334968006232?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/2665308334968006232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=2665308334968006232&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/2665308334968006232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/2665308334968006232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/12/indahnya-kehidupan.html' title='Indahnya Kehidupan'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TQs9BtSCIPI/AAAAAAAAAR8/wZfP_UzM9CY/s72-c/meilland_leonidas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1238700737426133848</id><published>2010-12-13T00:54:00.000-08:00</published><updated>2011-08-29T18:37:38.019-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dhamma'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Buddha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mencari Dan Membina Pasangan Hidup'/><title type='text'>Mencari Dan Membina Pasangan Hidup</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.chinasmack.com/wp-content/uploads/2009/11/newly-wed-couples-recieves-blessing-from-buddhist-monk-01-560x373.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pertapaan sebagai kondisi pengembangan batin sempurna amatlah terpuji; namun perkawinan dengan seorang wanita (pria) dan setia kepadanya adalah salah satu bentuk pertapaan juga. Poligami dikritik Sang Buddha sebagai kegelapan batin dan menambah ketamakan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;(Anguttara Nikaya IV, 55)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam pandangan Agama Buddha, perkawinan adalah suatu pilihan bukan kewajiban. Artinya, seseorang dalam menjalani kehidupan ini boleh memilih hidup berumah tangga ataupun hidup sendiri. Hidup sendiri dapat menjadi pertapa di vihara —sebagai bhikkhu, samanera, anagarini, silacarini —ataupun tinggal di rumah sebagai anggota masyarakat biasa. Hidup berumah tangga ataupun tidak hanyalah merupakan satu sarana untuk mencapai kebahagiaan di dunia sebagai salah satu dari tiga tujuan beragama Buddha. Tiga tujuan itu adalah pertama, memperoleh kebahagiaan di dunia; kedua, terlahir di salah satu dari dua puluh enam alam surga setelah kehidupan ini dan ketiga, tercapainya Nibbana sebagai tujuan tertinggi seorang umat manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; Sesungguhnya dalam Agama Buddha, hidup berumah tangga ataupun tidak adalah sama saja. Masalah terpenting di sini adalah kualitas kehidupannya. Apabila seseorang berniat berumah tangga maka hendaknya ia konsekuen dan setia dengan pilihannya, melaksanakan segala tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Orang yang demikian ini sesungguhnya adalah seperti seorang pertapa tetapi hidup dalam rumah tangga. Sikap ini pula yang dipuji oleh Sang Buddha, seperti dalam syair di atas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; Namun, apabila seseorang memutuskan untuk hidup membiara, menjadi bhikkhu, samanera ataupun anagarini, maka hendaknya ia juga berjuang sekuat tenaga untuk mencapai cita-citanya sekaligus memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Dan, jika seseorang memutuskan untuk tidak berumah tangga serta tidak juga hidup membiara, ia hendaknya juga dapat memberikan yang terbaik kepada masyarakat sekitarnya ketika ia masih dalam usia produktif dan tidak merepotkan lingkungan ketika sudah habis usia produktifnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; Dalam makalah ini akan dibahas tentang salah satu pilihan jalan hidup yaitu berumah tangga dan memiliki pasangan hidup. Di sini akan diterangkan tentang cara mencari dan membina pasangan hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;PERMASALAHAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dengan berbagai macam alasan, banyak orang kebingungan mencari pasangan hidup. Selama usia mudanya, bahkan mungkin sepanjang usianya, dipergunakan untuk 'berburu' calon pasangannya. Berbagai cara digunakan untuk mencapai tujuan itu. Cara paling halus sampai yang sangat kasar dikeluarkan. Apabila ia telah berhasil mendapatkan pasangan hidup yang diharapkan, sungguh terasa berbahagia hidupnya. Ia akan segera melanjutkan hubungannya dalam ikatan perkawinan. Sebagai pasangan suami istri baru, kebanyakan mereka jarang menjumpai masalah yang berarti. Jika ada permasalahan pun akan dapat cepat diselesaikan. Namun sejalan dengan berlalunya sang waktu, masalah yang timbul pun bertambah banyak. Sedikit saja terdapat perbedaan pendapat akan dapat menjadi masalah besar. Percekcokan semakin ramai mengisi hari-hari perkawinannya. Kebosanan timbul. Kejengkelan muncul. Akhirnya, kadang timbunan permasalahan ini menyebabkan mereka putus hubungan perkawinan, cerai. Dalam benak mereka, perceraian adalah jalan keluar yang terbaik. Ternyata, bukan. Masalah di antara suami istri memang mungkin sedikit terpecahkan, tetapi timbul masalah baru pada diri anak-anak. Mereka menjadi korban. Sedangkan mereka tidak mengetahui dengan jelas permasalahan sebenarnya yang terjadi di antara orangtuanya. Mereka tidak bersalah. Mereka kecewa. Frustrasi. Akhirnya mereka dapat terjebak dalam kenakalan remaja. Atau, kepahitan hidup yang ditemuinya dalam usia dini ini akan memunculkan gagasan di bawah sadarnya: Takut berumah tangga!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;PEMBAHASAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; Agama Buddha dalam menguraikan tujuan hidup manusia, disebutkan salah satunya tentang adanya pencapaian kebahagiaan di dunia. Dengan demikian, pasti ada cara untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup berumah tangga. Pasti ada pula petunjuk dan cara-cara mendapatkan pasangan hidup yang sesuai serta membina hubungan baik, mempertahankan komunikasi serasi setelah menjadi suami istri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Memang, hal tersebut dapat diperoleh dalam Kitab Suci Tripitaka, Digha Nikaya III, 152, 232 atau dalam Anguttara Nikaya II, 32. Diuraikan di sana bahwa ada minimal empat sikap hidup yang dapat dipergunakan untuk mencari pasangan hidup sekaligus membina hubungan sebagai suami istri yang harmonis. Keempat hal itu adalah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;KERELAAN = DANA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Konsep berdana adalah konsep dasar dalam kehidupan ini. Dana berupa materi maupun bukan materi akan mampu menghasilkan kedekatan hati. Reaksi ini bersifat alami, termasuk juga dalam dunia binatang. Seekor kucing akan muncul kesetiaannya dengan orang yang selalu memberi makan kepadanya. Hal serupa juga terjadi pada manusia. Tidak jarang kita jumpai seorang anak lebih dekat dengan ibunya daripada dengan ayahnya. Kedekatan hati ini timbul karena, pada umumnya, pengorbanan ibu kepada anak jauh lebih besar daripada seorang ayah. Oleh karena itu, sebenarnya tidak akan ada kebahagiaan yang kita peroleh apabila kita tidak berusaha mendapatkannya. Dalam Hukum Karma (Samyutta Nikaya III, 415) telah disebutkan bahwa sesuai dengan benih yang ditabur, demikian pula buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan. Dengan demikian, apabila kita ingin diperhatikan orang, mulailah dengan memberikan perhatian kepada orang lain. Apabila kita ingin dicintai orang, mulailah dengan mencintainya. Cinta di sini bukanlah sekedar keinginan untuk menguasai, melainkan hasrat untuk membahagiakan orang yang dicintainya. Kualitas cinta ini seperti seorang ibu yang menyayangi anak tunggalnya. Ia akan mempertahankan anak tercintanya dengan seluruh kehidupannya. Ia akan melindungi anak tersayangnya dari segala macam bahaya dan bencana. Ia akan memberikan segalanya demi kebahagiaan anaknya. Ia akan rela memaafkan segala kesalahan anaknya. Ia, bahkan, memberikan keakuannya; tidak ada istilah 'jaga gengsi' dihadapan anaknya. Memang, dana yang paling sulit dalam hidup ini adalah mendanakan keakuan kita sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kemampuan berdana keakuan dan perhatian ini dapat dilatih dengan berdana materi terlebih dahulu. Dana materi lebih mudah dilakukan. Dana materi digunakan untuk membentuk kebiasaan berpikir: Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Apabila dana materi telah menjadi kebiasaan, maka hendaknya kualitas diri ini dikembangkan dengan latihan merelakan perhatian dan keakuan kepada fihak lain. Hal ini menjadi lebih mudah karena memang konsep: 'Semoga semua mahluk berbahagia' telah ada dalam diri kita. Sebagai tanda berkurangnya keakuan adalah timbulnya kesabaran, berkurangnya iri hati dan banyaknya pikiran positif dalam menghadapi segala bentuk kesulitan hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam mencari dan membina pasangan hidup, kerelaan jelas amat diperlukan. Kerelaan materi di awal perkenalan dapat dikembangkan dengan kemampuan merelakan keakuan. Kerelaan keakuan ini berbentuk pengembangan sifat saling pengertian. Saling memaafkan. Kesalahan pasangan hidup, seringkali bukanlah karena disengaja. Oleh karena itu, menyadari kenyataan ini menjadikan seseorang lebih sabar dan rela memberikan kesempatan berkali-kali kepada pasangan untuk dapat membangun kualitas dirinya. Berilah pasangan kesempatan untuk memperbaiki diri. Maafkanlah kesalahan yang telah dilakukan. Kemarahan bukanlah tanda cinta. Kemarahan adalah tanda keakuan. Ingin segala harapannya terpenuhi. Dengan kerelaan, orang akan lebih mudah mengerti serta menerima kekurangan dan kelemahan orang lain. Sikap ini akan menjadi salah satu tiang kokoh dalam menjalin hubungan dengan orang lain, khususnya dengan pasangan hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;UCAPAN YANG BAIK/HALUS = PIYAVACA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kemampuan untuk mengutarakan segala perasaan dengan ucapan halus sesungguhnya masih dapat dikategorikan berdana juga. Menghindari caci maki dan gemar berdana ucapan yang menyenangkan pendengar akan sangat membantu memperbanyak kawan. Semakin banyak kawan, akan semakin besar pula kemungkinan memperoleh pasangan hidup. Dalam dunia ini, siapapun pasti akan suka mendengar kata-kata yang halus, termasuk pula pasangan hidup. Tidak ada orang yang suka mendengar kata kasar, walaupun orang itu sendiri kasar kata-katanya. Dengan kata halus tetapi berisi kebenaran akan menjadi daya tarik yang kuat dalam mencari dan membina pasangan hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sampaikanlah pujian kita pada pasangan hidup dengan kalimat yang menyenangkan. Demikian pula, ucapkan kritikan pada pasangan hidup dengan bahasa yang halus dan saat yang tepat, untuk menghindari kesalahfahaman. Perlu direnungkan, menyakiti hati orang yang dicintai dengan kata-kata pedas sesungguhnya sama dengan menyakiti diri sendiri. Sebab, orang tentunya akan menjadi sedih apabila orang yang dicintainya juga sedang sedih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;MELAKUKAN HAL YANG BERMANFAAT BAGINYA = ATTHACARIYA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sekali lagi berdana timbul dalam bentuk yang lain. Dalam pengembangan konsep berdana, sudah ditekankan akan adanya pembentukan sikap mental: Semoga semua mahluk hidup berbahagia. Demikian pula dengan pasangan hidup. Ia adalah mahluk pula. Berarti, ia harus diberi kesempatan berbahagia pula. Orang harus berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan pasangan hidupnya. Sesungguhnya, kebahagiaan orang yang dicinta adalah kebahagiaan orang yang mencintainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dengan demikian, kalau di atas telah diuraikan tentang kata yang halus sebagai sarana membahagiakan pasangan hidup, maka sekarang lebih tegas lagi, berkenaan dengan tingkah laku. Tingkah laku hendaknya selalu dipikirkan untuk membahagiakan orang yang dicintai. Banyak pendapat umum yang menganggap bahwa cinta adalah menuntut. Orang yang dicintai haruslah mampu memenuhi harapan orang yang mencintai. Konsep ini sesungguhnya tidak tepat. Sebab, apabila orang yang dicintai sudah tidak mampu lagi memenuhi harapan, apakah ia kemudian diceraikan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Oleh karena itu, cinta sesungguhnya memberi, merelakan. Cinta mengharapkan orang yang dicintai berbahagia dengan caranya sendiri, bukan dengan cara orang yang mencintai. Jika konsep ini telah dapat ditanamkan dengan baik dalam setiap insan, maka mencari pasangan hidup bukanlah masalah lagi. Siapakah di dunia ini yang tidak ingin dibahagiakan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pola pikir 'ingin membahagiakan orang yang dicintai' hendaknya terus dipupuk dan dipertahankan termasuk dalam kehidupan perkawinan. Apabila bukan pasangan hidupnya sendiri yang membahagiakannya, apakah seseorang akan meminta orang lain untuk membahagiakan dirinya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;BATIN SEIMBANG, TIDAK SOMBONG = SAMANATTATA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pengembangan sikap penuh kerelaan, ungkapan dengan kata yang halus dan tingkah laku yang bermanfaat untuk orang yang dicintai hendaknya tidak memunculkan kesombongan. Jangan pernah merasa bahwa tanpa diri ini segala sesuatu tidak akan terjadi. Dalam konsep Buddhis, segala sesuatu selalu disebabkan oleh banyak hal. Tidak akan pernah ada penyebab tunggal. Demikian pula dengan adanya kebahagiaan seseorang, pasti bukan disebabkan hanya karena satu orang saja. Banyak unsur lain yang mendukung timbulnya kondisi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Keseimbangan batin sebagai hasil selalu menyadari bahwa kebahagiaan adalah karena berbagai sebab dan kebahagiaan muncul karena buah karmanya masing-masing akan dapat menghindarkan seseorang dari sifat sombong. Kesombongan selain tidak sedap didengar juga akan menjengkelkan calon maupun pasangan kita. Kesombongan mempunyai pengertian bahwa pasangan kita tidak mampu melakukan apapun juga apabila tanpa kita. Kesombongan adalah meniadakan usaha baik seseorang yang kita cintai. Perjuangan yang tidak dihargai akan sangat menyakitkan. Kurangnya penghargaan yang layak akan menimbulkan masalah besar dalam masa pacaran maupun setelah memasuki kehidupan berumah tangga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;TAMBAHAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam usaha mencari dan membina pasangan hidup, selain selalu berusaha melaksanakan empat sikap di atas, hendaknya jangan melupakan adanya beberapa hal yang perlu dijadikan pertimbangan. Hal ini apabila terpenuhi akan menjadi faktor tambahan yang akan lebih membahagiakan kehidupan berumah tangga. Terdapat empat faktor yang membuat rumah tangga lebih berbahagia. Empat hal tersebut telah diuraikan dalam Anguttara Nikaya II, 60 yaitu bahwa pasangan hendaknya memiliki kesamaan dalam Keyakinan (agama), Sila, Kedermawanan, dan Kebijaksanaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;a. Kesamaan keyakinan (agama)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Perbedaan agama sering dianggap kecil oleh para pasangan baru. Muda-mudi apabila diingatkan tentang hal ini pun seakan tidak percaya. Mereka meremehkan adanya kenyataan ini. Padahal, perbedaan agama sering sudah menjadi masalah pada saat pacaran. Setiap hari Minggu, pasangan menjadi sulit menentukan akan mengikuti kebaktian di tempat ibadah yang mana. Ke vihara atau ke tempat lain. Kadang mereka malah tidak pergi ke mana-mana. Lebih parah lagi, mungkin, mereka memilih satu agama yang sama sekali berbeda dengan agama yang telah mereka anut selama ini. Sikap ini menunjukkan bahwa sering agama hanya dijadikan sekedar pengisi kolom dalam KTP saja, bukan sebagai pedoman hidup yang penting untuk diikuti. Begitu pula apabila hubungan akan dilanjutkan dalam ikatan perkawinan. Menentukan tempat pemberkahan pernikahan menjadi beban ekstra mereka. Setelah memiliki anak pun masalah ini masih terus berlanjut. Pasangan akan terus terlibat dalam diskusi berkepanjangan dan mungkin perdebatan sengit tentang pembinaan agama bagi keturunan mereka. Bahkan di ambang kematian pun masalah ini akan timbul. Ketika seseorang sedang sakit keras, maka sering dijumpai ada beberapa orang yang terus berusaha mengajak si sakit pindah ke agama tertentu. Hal ini kadang justru membingungkan si sakit dan juga keluarganya. Tidak jarang, setelah meninggal, masalah perbedaan agama ini masih terus mengejar. Keluarga akan terlibat diskusi seru tentang agama yang akan digunakan untuk upacara penyempurnaan jenazah, sekaligus memilih tempat pemakaman ataupun kremasi jenazah. Masalah ini masih dapat ditarik lebih panjang lagi. Namun, intinya: perbedaan agama dalam keluarga akan menambah masalah yang tidak perlu! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;b. Kesamaan kemoralan (sila)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Apabila agama telah sama yaitu Agama Buddha, maka hendaknya pasangan memiliki keserasian dalam tingkah laku. Pasangan hendaknya selalu berusaha bersama-sama melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis terdiri dari lima latihan kemoralan yaitu usaha untuk menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan (Anguttara Nikaya III, 203). Pelaksanaan kelima latihan kemoralan ini akan banyak menghindarkan masalah dalam masyarakat dan rumah tangga. Dalam segala lapisan masyarakat, pelanggaran kelima latihan kemoralan ini akan dipandang sebagai kesalahan. Pelaksana kelima latihan kemoralan ini akan menjadikan seseorang diterima masyarakat dengan baik. Pelaksanaan latihan kemoralan ini dalam rumah tangga akan membebaskan seseorang dari rasa bersalah. Membuka wawasan komunikasi yang baik. Menghindarkan saling curiga dan was-was di antara pasangan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;c. Kesamaan kedermawanan (caga)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; Memiliki watak kedermawanan yang sama dimaksudkan agar masing-masing individu mengerti bahwa cinta sesungguhnya adalah memberi segalanya demi kebahagiaan orang yang kita cintai. Selama sikap ini masih belum tertanam baik-baik di pikiran setiap pasangan, masalah sebagai akibat tuntutan agar pasangan dapat memenuhi harapan kita akan selalu muncul. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;d. Kesamaan kebijaksanaan (pañña)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; Kesamaan dalam kebijaksanaan diperlukan agar bila menghadapi masalah hidup, pasangan mempunyai wawasan yang sama. Wawasan yang sama akan mempercepat penyelesaian masalah. Perbedaan kebijaksanaan akan menghambat dan memboroskan waktu. Pasangan membutuhkan waktu lebih lama untuk adu argumentasi menyamakan sikap dan pola pikir terlebih dahulu sebelum memikirkan jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi. Kebijaksanaan yang dimaksud tentu yang sesuai dengan Buddha Dhamma. Buddha Dhamma telah mengajarkan bahwa hidup ini berisikan ketidakpuasan. Penyebab adanya ketidakpuasan ini hanyalah karena keinginan sendiri yang tidak terkendali. Oleh karena itu, apabila seseorang dapat mengendalikan keinginannya maka ketidakpuasannya pun akan dapat segera diatasi. Lalu, akhirnya Dhamma memberikan jalan keluar untuk mengatasi dan mengendalikan keinginan. Dengan memiliki konsep berpikir seperti ini, maka tidak akan ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Sesungguhnya, dengan melaksanakan hidup sesuai dengan Dhamma, kebahagiaan pasti akan dapat dirasakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Perkawinan adalah pilihan pribadi, bukan kewajiban dalam hidup.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Terdapat satu 'jurus' dalam Agama Buddha yang dapat digunakan untuk mencari pasangan hidup sekaligus membina hubungan baik setelah menjadi suami-istri.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;'Jurus' itu terdiri dari: Kerelaan, Ucapan yang lemah lembut, Perbuatan yang memberikan manfaat untuk orang yang dicintai dan menghindari sifat sombong.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Tanamkanlah dalam pikiran: Kebahagiaan orang yang dicintai adalah merupakan kebahagiaan orang yang mencintai.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sebagai tambahan untuk kebahagiaan rumah tangga, pasangan hendaknya memiliki kesamaan agama, kemoralan, kedermawanan dan kebijaksanaan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;        &lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=";font-family:'Times New Roman';font-size:medium;"  &gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Arial Narrow';"&gt;&lt;span style="font-size:xx-small;"&gt;[  Dikutip dari Majalah Jalan Tengah edisi No. 60 Tahun ke-5, Judul Asli:  Confusion in the Modern Age; Voice of Buddhism, Malaysia Vol. 29, No. 2,  Desember 1991; Alih Bahasa: Joe Hoey Beng, SE; Editor: Nani Linda, SH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:ARIAL;font-size:x-small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Arial Narrow';"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial Narrow';font-size:x-small;"  &gt;]  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1238700737426133848?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1238700737426133848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1238700737426133848&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1238700737426133848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1238700737426133848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/12/mencari-dan-membina-pasangan-hidup.html' title='Mencari Dan Membina Pasangan Hidup'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1498326738757074406</id><published>2010-12-11T03:12:00.000-08:00</published><updated>2010-12-11T03:21:28.636-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buddha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siddharta Gautama'/><title type='text'>Siddharta Gautama</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;Gautama Buddha&lt;/b&gt; dilahirkan dengan nama &lt;b&gt;Siddhārtha Gautama&lt;/b&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta" title="Bahasa Sanskerta"&gt;Sanskerta&lt;/a&gt;: Siddhattha Gotama; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Pali" title="Bahasa Pali"&gt;Pali&lt;/a&gt;: "keturunan Gotama yang tujuannya tercapai"), dia kemudian menjadi sang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buddha" title="Buddha"&gt;Buddha&lt;/a&gt; (secara harfiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Shakyamuni" title="Shakyamuni" class="mw-redirect"&gt;Shakyamuni&lt;/a&gt; ('orang bijak dari kaum Sakya') dan sebagai sang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tathagata" title="Tathagata"&gt;Tathagata&lt;/a&gt;. Siddhartha Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang juga merupakan pendiri &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Buddha" title="Agama Buddha"&gt;Agama Buddha&lt;/a&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;.&lt;/span&gt;  Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha  Agung (Sammāsambuddha) di masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya  tidaklah pasti: sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20  memperkirakan kehidupannya antara tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/563" title="563"&gt;563&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Masehi" title="Masehi"&gt;SM&lt;/a&gt; sampai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/483" title="483"&gt;483&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Masehi" title="Masehi"&gt;SM&lt;/a&gt;; baru-baru ini, pada suatu simposium para ahli akan masalah ini,&lt;sup id="cite_ref-1" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Siddhartha_Gautama#cite_note-1"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;  sebagian besar dari ilmuwan yang menjelaskan pendapat memperkirakan  tanggal berkisar antara 20 tahun antara tahun 400 SM untuk waktu  meninggal dunianya, sedangkan yang lain menyokong perkiraan tanggal yang  lebih awal atau waktu setelahnya.&lt;/p&gt; Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Buddha" title="Agama Buddha"&gt;agama Buddha&lt;/a&gt;,  keterangan akan kehidupannya, khotbah-khotbah, dan peraturan keagamaan  yang dipercayai oleh penganut agama Buddha dirangkum setelah kematiannya  dan dihafalkan oleh para pengikutnya. Berbagai kumpulan perlengkapan  pengajaran akan Siddhartha Gautama diberikan secara lisan, dan bentuk  tulisan pertama kali dilakukan sekitar 400 tahun kemudian.  Pelajar-pelajar dari negara Barat lebih condong untuk menerima biografi  Sang Buddha yang dijelaskan dalam naskah Agama Buddha sebagai catatan  sejarah, tetapi belakangan ini "keseganan pelajar negara Barat meningkat  dalam memberikan pernyataan yang tidak sesuai mengenai fakta historis  akan kehidupan dan pengajaran Sang Buddha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Orang_tua"&gt;Orang tua&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Ayah dari Pangeran Siddhartha Gautama adalah Sri Baginda Raja &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Suddhodana&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Suddhodana (halaman belum tersedia)"&gt;Suddhodana&lt;/a&gt; dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Suku_Sakya&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Suku Sakya (halaman belum tersedia)"&gt;Suku Sakya&lt;/a&gt;  dan ibunya adalah Ratu Mahā Māyā Dewi. Ibunda Pangeran Siddharta  Gautama meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran.  Setelah meninggal, beliau terlahir di alam/surga Tusita, yaitu alam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surga" title="Surga"&gt;surga&lt;/a&gt; luhur. Sejak meninggalnya Ratu Mahā Māyā Dewi, Pangeran Siddharta dirawat oleh Ratu Mahā Pajāpati, bibinya yang juga menjadi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Isteri" title="Isteri" class="mw-redirect"&gt;isteri&lt;/a&gt; Raja Suddhodana.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Riwayat_hidup"&gt;Riwayat hidup&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h3&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Kelahiran"&gt;Kelahiran&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=563_SM&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="563 SM (halaman belum tersedia)"&gt;563 SM&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Lumbini" title="Taman Lumbini"&gt;Taman Lumbini&lt;/a&gt;, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pohon_sal&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Pohon sal (halaman belum tersedia)"&gt;pohon sal&lt;/a&gt;a.  Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin  sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha.  Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan  langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya  ditumbuhi bunga &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teratai" title="Teratai"&gt;teratai&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Chakrawartin&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Chakrawartin (halaman belum tersedia)"&gt;Chakrawartin&lt;/a&gt; (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buddha" title="Buddha"&gt;Buddha&lt;/a&gt;.  Hanya pertapa Kondañña yang dengan tegas meramalkan bahwa Sang Pangeran  kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda  menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada  yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Sang Raja, para  pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat  macam peristiwa. Bila tidak, ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha.  Empat macam peristiwa itu adalah:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Orang tua,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang sakit,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang mati,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seorang pertapa.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;h3&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Masa_kecil"&gt;Masa kecil&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak  yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan  dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istana" title="Istana"&gt;istana&lt;/a&gt; yang megah dan indah. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta mempunyai 3 kolam bunga teratai, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru (&lt;i&gt;Uppala&lt;/i&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kolam Bunga Teratai Berwarna Merah (&lt;i&gt;Paduma&lt;/i&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kolam Bunga Teratai Berwarna Putih (&lt;i&gt;Pundarika&lt;/i&gt;)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu  pengetahuan. Pangeran Siddharta menguasai semua pelajaran dengan baik.  Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Yasodhara&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Yasodhara (halaman belum tersedia)"&gt;Yasodhara&lt;/a&gt; yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sayembara" title="Sayembara"&gt;sayembara&lt;/a&gt;. Dan saat berumur 16 tahun, Pangeran memiliki tiga Istana, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Istana Musim Dingin (&lt;i&gt;Ramma&lt;/i&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Istana Musim Panas (&lt;i&gt;Suramma&lt;/i&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Istana Musim Hujan (&lt;i&gt;Subha&lt;/i&gt;)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Masa_dewasa"&gt;Masa dewasa&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p&gt;Kata-kata pertapa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Asita&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Asita (halaman belum tersedia)"&gt;Asita&lt;/a&gt;  membuat Raja Suddhodana tidak tenang siang dan malam, karena khawatir  kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa,  mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak  pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya  menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha  disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua,  dan kematian, sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk berjalan di luar  istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya "Empat Kondisi"  yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang  suci. Pangeran Siddhartha bersedih dan menanyakan kepada dirinya  sendiri, "Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit,  umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada  orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan  segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!". Pangeran Siddharta  berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban  tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan  duniawi. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai  berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rahula&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Rahula (halaman belum tersedia)"&gt;Rahula&lt;/a&gt;  lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk  meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Canna.  Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani  hidup sebagai pertapa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah itu Pangeran Siddhartha meninggalkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istana" title="Istana"&gt;istana&lt;/a&gt;, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tua&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Tua (halaman belum tersedia)"&gt;tua&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sakit" title="Sakit"&gt;sakit&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mati" title="Mati" class="mw-redirect"&gt;mati&lt;/a&gt;.  Pertapa Siddharta berguru kepada Alāra Kālāma dan kemudian kepada  Uddaka Ramāputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang  diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani  lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim  itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan  Agung.&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Masa_pengembaraan"&gt;Masa pengembaraan&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;Didalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bhagava&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Bhagava (halaman belum tersedia)"&gt;Bhagava&lt;/a&gt; dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alara_Kalama&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Alara Kalama (halaman belum tersedia)"&gt;Alara Kalama&lt;/a&gt; dan pertapa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Udraka_Ramputra&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Udraka Ramputra (halaman belum tersedia)"&gt;Udraka Ramputra&lt;/a&gt;.  Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut,  tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah  pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan  mencapai &lt;i&gt;Pencerahan Sempurna&lt;/i&gt;. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Magadha" title="Magadha"&gt;Magadha&lt;/a&gt; untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi Sungai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nairanjana&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Nairanjana (halaman belum tersedia)"&gt;Nairanjana&lt;/a&gt; yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Uruwela&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Uruwela (halaman belum tersedia)"&gt;Uruwela&lt;/a&gt;, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakekat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut. &lt;p&gt;Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang  tua sedang menasehati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai  Nairanjana dengan mengatakan:&lt;/p&gt; &lt;table style="margin: auto; border-collapse: collapse; border-style: none; background-color: transparent;" class="cquote"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="color: rgb(178, 183, 242); font-size: 35px; font-family: 'Times New Roman',serif; font-weight: bold; text-align: left; padding: 10px;" valign="top" width="20"&gt;“&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 4px 10px;" valign="top"&gt;Bila senar kecapi ini  dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan,  putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar  kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu  dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu.&lt;/td&gt; &lt;td style="color: rgb(178, 183, 242); font-size: 36px; font-family: 'Times New Roman',serif; font-weight: bold; text-align: right; padding: 10px;" valign="bottom" width="20"&gt;”&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;p&gt;Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya  memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi.  Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang  tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa  Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut  hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja,  pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pohon_bodhi" title="Pohon bodhi"&gt;pohon bodhi&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Asetta&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Asetta (halaman belum tersedia)"&gt;Asetta&lt;/a&gt;) di Hutan Gaya, sambil ber-&lt;i&gt;prasetya&lt;/i&gt;,  "Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh  berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku  mencapai Pencerahan Sempurna."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja  Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat.  Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh,  akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi  ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi  Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya  di bulan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Waisak" title="Waisak"&gt;Waisak&lt;/a&gt; ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_lunar" title="Kalender lunar" class="mw-redirect"&gt;kalender lunar&lt;/a&gt;.  Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan  Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha  (Buddharasmi) dengan warna &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Biru" title="Biru"&gt;biru&lt;/a&gt; yang berarti bhakti; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kuning" title="Kuning"&gt;kuning&lt;/a&gt; mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Merah" title="Merah"&gt;merah&lt;/a&gt; yang berarti kasih sayang dan belas kasih; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Putih" title="Putih"&gt;putih&lt;/a&gt; mengandung arti suci; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jingga" title="Jingga"&gt;jingga&lt;/a&gt; berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Penyebaran_ajaran_Buddha"&gt;Penyebaran ajaran Buddha&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p&gt;Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain: Buddha Gautama, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Buddha_Shakyamuni&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Buddha Shakyamuni (halaman belum tersedia)"&gt;Buddha Shakyamuni&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tathagata" title="Tathagata"&gt;Tathagata&lt;/a&gt;  ('Ia Yang Telah Datang', Ia Yang Telah Pergi'), Sugata ('Yang Maha  Tahu'), Bhagava ('Yang Agung') dan sebagainya. Lima pertapa yang  mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha  yang mendengarkan khotbah pertama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dharmacakra_Pravartana&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Dharmacakra Pravartana (halaman belum tersedia)"&gt;Dhammacakka Pavattana&lt;/a&gt;,  dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukan-Nya,  yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang  menjelaskan "Empat Kebenaran Mulia".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Buddha Gautama berkelana menyebarkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dharma" title="Dharma"&gt;Dharma&lt;/a&gt;  selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh  cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun,  saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Parinibbana&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Parinibbana (halaman belum tersedia)"&gt;Parinibbana&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sala_%28pohon%29" title="Sala (pohon)"&gt;sala&lt;/a&gt; di Kusinagara, memberikan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Khotbah" title="Khotbah" class="mw-redirect"&gt;khotbah&lt;/a&gt; Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahayana" title="Mahayana"&gt;Mahayana&lt;/a&gt;, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Sifat_Agung_Sang_Buddha"&gt;Sifat Agung Sang Buddha&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p&gt;Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan  Kasih Sayang (karuna). Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak  terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar  sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Samsara" title="Samsara"&gt;samsara&lt;/a&gt;  yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk  mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau  kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran  Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat  Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak  terbatas, yaitu&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Berusaha menolong semua makhluk.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan  kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan  yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tubuh (kaya): pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ucapan (vak): penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pikiran (citta): kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;Cinta kasih dan kasih sayang seorang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buddha" title="Buddha"&gt;Buddha&lt;/a&gt;  adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua  mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah  kepada mereka. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat  atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan perhatian  khusus. Dengan Kasih Sayang-Nya, Sang Buddha menganjurkan supaya mereka  berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam  melawan kejahatan, hingga tercapai "Pencerahan Sempurna".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buddha" title="Buddha"&gt;Buddha&lt;/a&gt;  yang abadi, Beliau telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan  berbagai cara Beliau telah berusaha untuk meringankan penderitaan semua  makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakekat dunia, namun  Beliau tidak pernah mau mengatakan bahwa dunia ini asli atau palsu, baik  atau buruk. Ia hanya menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana  adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar  kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan  masing-masing. Ia tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi  juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk fisik tubuh-Nya tidak ada  akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia yang mendambakan hidup  abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian  untuk membangunkan perhatian mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengabdian Buddha Gautama telah membuat diri-Nya mampu mengatasi  berbagai masalah didalam berbagai kesempatan yang pada hakekatnya adalah  Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakekat yang hakiki  dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang  tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma  yang agung. Ia dapat berkhotbah kepada semua orang, kapanpun  dikehendaki-Nya. Sang Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering  terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan  kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya. Bagi  mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang dapat mengerti dan  menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha akan terbebas dari  penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena  mengandalkan kepintarannya sendiri.&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Wujud_dan_kehadiran_Buddha"&gt;Wujud dan kehadiran Buddha&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Sang Buddha tidak hanya dapat mengetahui dengan hanya melihat wujud  dan sifat-Nya semata-mata, karena wujud dan sifat luar tersebut bukanlah  Buddha yang sejati. Jalan yang benar untuk mengetahui &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buddha" title="Buddha"&gt;Buddha&lt;/a&gt;  adalah dengan jalan membebaskan diri dari hal-hal duniawi/menjalani  hidup dengan cara bertapa. Buddha sejati tidak dapat dilihat oleh mata  manusia biasa, sehingga Sifat Agung seorang Buddha tidak dapat  dilukiskan dengan kata-kata. Namun Buddha dapat mewujudkan diri-Nya  dalam segala bentuk dengan sifat yang serba luhur. Apabila seseorang  dapat melihat jelas wujud-Nya atau mengerti Sifat Agung Buddha, namun  tidak tertarik kepada wujud-Nya atau sifat-Nya, dialah yang sesungguhnya  yang telah mempunyai kebijaksanaan untuk melihat dan mengetahui Buddha  dengan benar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1498326738757074406?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1498326738757074406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1498326738757074406&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1498326738757074406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1498326738757074406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/12/siddharta-gautama.html' title='Siddharta Gautama'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1735607880768342087</id><published>2010-12-11T03:06:00.000-08:00</published><updated>2010-12-11T03:11:23.302-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sepuluh Hal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buddha'/><title type='text'>Sepuluh Hal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://cdn.2lisan.com/wp-content/uploads/2010/03/budha.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 225px; height: 320px;" src="http://cdn.2lisan.com/wp-content/uploads/2010/03/budha.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada sepuluh perbuatan yang membuahkan sepuluh hal yang diinginkan, disukai, mempesona , dan sukar didapat di dunia ini. Apakah sepuluh perbuatan itu ?&lt;br /&gt;1. Bekerja keras membuahkan kekayaan.&lt;br /&gt;2. Perhiasan dan dandanan membuahkan keindahan.&lt;br /&gt;3. Melakukan segala sesuatu dengan teratur membuahkan kesehatan.&lt;br /&gt;4. Bersahabat dengan para bijaksana membuahkan kehidupan suci.&lt;br /&gt;5. Tidak berselisih membuahkan persahabatan.&lt;br /&gt;6. Sering mengulang pelajaran membuahkan pengetahuan yang mendalam.&lt;br /&gt;7. Sering mendengarkan ajaran dan bertanya membuahkan kebijaksanaan.&lt;br /&gt;8. Banyak belajar dan ujian membuahkan kemampuan mengajar.&lt;br /&gt;9. Dan hidup sesuai dengan Dharma membuahkan kelahiran kembali yang membahagiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Buddha Gautama)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1735607880768342087?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1735607880768342087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1735607880768342087&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1735607880768342087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1735607880768342087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/12/sepuluh-hal.html' title='Sepuluh Hal'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-6183615580164755675</id><published>2010-12-08T05:19:00.000-08:00</published><updated>2010-12-08T05:22:15.177-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayam atau Telur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thich Nhat Hanh'/><title type='text'>Ayam atau Telur?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://wanhart.com/blog/wp-content/uploads/2009/07/chicken-or-egg.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;" src="http://wanhart.com/blog/wp-content/uploads/2009/07/chicken-or-egg.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Seorang anak bertanya kepada Thich Nhat Hanh, “Yang mana lebih dulu, ayam atau telur?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Thay :&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; Apakah ayam atau telur lebih dahulu? Ini adalah pertanyaan yang sangat menarik. Namun karena kamu adalah praktisi meditasi, kamu harus berhati-hati dalam menjawab. Kamu harus melihat lebih mendalam untuk dapat menjawabnya. Lihatlah pohon lemon . Kamu hanya melihat ranting-ranting dan dedaunan. Kamu tidak melihat beberapa bunga dan buah lemon pada pohon itu. Namun hal itu terjadi bila kamu tidak mempraktikkan meditasi. Bila kamu melihat lebih dalam, sebagai seorang meditator yang baik, baik saat kamu melihat pohon itu, bahkan bila pohon itu tidak berbunga dan berbuah, kamu tetap dapat melihatnya. Pohon itu tidak berbunga ataupun berbuah karena membutuhkan kondisi seperti waktu, hujan dan panas. Jadi kamu tidak dapat mengatakan bahwa tidak ada lemon disitu. Lemon tetap ada pada pohon itu namun tersembunyi. Pohon dan ranting, daun, bunga, dan buah lemon, mereka bersama-sama berada disana pada saat yang bersamaan. Kamu tidak dapat mengatakan yang mana muncul lebih dulu. Hanya waktu untuk kemunculannya yang berbeda, namun mereka selalu berada disana, apakah kamu melihatnya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Saat kamu melihat ke dalam bunga, kamu hanya melihat bunga, namun sampah juga ada disana. Bila kamu membiarkannya kekeringan dalam waktu lima atau enam hari, atau mungkin hanya dalam waktu sehari bunga itu bisa menjadi sampah. Jadi sampah juga ada pada pohon itu, menunggu kondisi untuk kemunculannya. Adalah tidak tepat mengatakan bahwa tidak ada sampah pada pohon itu. Diperlukan satu atau beberapa kondisi untuk kehadirannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Jadi, sebagai seorang Buddhis jawaban terhadap pertanyaanmu adalah di dalam telur terdapat ayam dan pada ayam terdapat telur. Tidak ada sebelum dan sesudah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-6183615580164755675?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/6183615580164755675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=6183615580164755675&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6183615580164755675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6183615580164755675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/12/ayam-atau-telur.html' title='Ayam atau Telur?'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-2676378872813590771</id><published>2010-12-07T04:41:00.000-08:00</published><updated>2010-12-07T04:50:55.570-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tidak ada ajahn chah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajahn Chah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hati dan Pikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Hati dan Pikiran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://jfkoernia.files.wordpress.com/2010/07/pikiran.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 253px; height: 253px;" src="http://jfkoernia.files.wordpress.com/2010/07/pikiran.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;Hanya ada satu buku yang patut dibaca: hati.   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Buddha mengajarkan kita bahwa apapun yang membuat pikiran kita menderita di dalam latihan artinya mengenai sasaran. Kekotoran batin adalah penderitaan. Bukan pikiran yang menderita! Kita tidak tahu apa isi pikiran dan kekotoran batin kita. Terhadap apapun yang kita rasa tidak puas, kita tidak akan mau berurusan lagi dengan hal itu. Sebenarnya jalan hidup kita tidaklah sulit, yang sulit adalah menjadi orang yang tidak puas, tidak bisa menerima. Kekotoran batin adalah kesulitan yang sebenarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dunia berada dalam bagian yang sangat tergesa-gesa. Pikiran berubah dari suka menjadi tidak suka dengan segala tergesa-gesaan yang ada di dunia. Jika kita bisa belajar untuk membuat pikiran tenang, itu akan menjadi bantuan yang sangat hebat bagi dunia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bila pikiran Anda senang, maka Anda pun akan senang kemana pun Anda pergi. Ketika kebijaksanaan muncul dalam diri Anda, Anda akan menemukan kebenaran kemana pun Anda melihat. Kebenaran itu ada dimana-mana. Sama halnya bila Anda telah belajar membaca, Anda dapat membaca dimana saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jika Anda merasa alergi ke suatu tempat, Anda akan merasa alergi di semua tempat. Namun bukan tempat di luar Anda yang menyebabkan masalah, melainkan “tempat” di dalam Anda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lihatlah pikiran Anda sendiri. Orang yang membawa benda mengira dia mempunyai benda, tetapi orang yang melihatnya hanya melihat beban berat. Buanglah seluruh benda, hilangkan dan temukan keringanan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada hakikatnya, pikiran itu tenang. Di luar ketenangan ini, kegelisahan dan keraguan muncul. Jika seseorang melihat dan mengetahui adanya keraguan, maka pikiran menjadi tenang lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Agama Buddha adalah agama hati. Hanya itu. Seseorang yang melatih hatinya adalah orang yang melatih ajaran Buddha.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika cahaya redup, tidaklah mudah untuk menemukan jarring laba-laba tua di sudut ruangan. Tetapi ketika cahaya terang, Anda dapat melihatnya dengan jelas dan dapat membersihkannya. Ketika pikiran Anda terang, Anda akan dapat melihat kekotoran batin dengan jelas dan juga membersihkannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menguatkan pikiran tidak dapat dilakukan dengan menggerakannya seperti menguatkan tubuh, tetapi dengan membuatnya diam, beristirahat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Karena orang tidak melihat dirinya sendiri, mereka bisa melakukan segala jenis perbuatan buruk. Mereka tidak melihat pikirannya sendiri. Ketika orang akan melakukan perbuatan buruk, mereka akan memastikan sekeliling dahulu untuk melihat apakah ada orang lain yang melihat : “Apakah ibu saya akan melihat?” Apakah suami saya akan melihat?” Apakah anak-anak akan melihat?” Apakah istri saya akan melihat?” Bila tidak ada yang melihat, maka mereka akan melakukan perbuatan buruknya. Ini namanya mempermalukan diri sendiri. Mereka mengatakan tidak ada yang melihat, jadi mereka segera menyelesaikan perbuatan buruknya sebelum orang lain melihat. Dan bagaimana dengan dirinya sendiri? Bukankah ada “seseorang yang memperhatikan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Gunakan hatimu untuk mendengarkan ajaran, bukan telingamu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ada orang yang melakukan perang terhadap kekotoran batinnya sendiri dan menaklukkannya. Ini namanya perang batin. Mereka yang berperang secara fisik, mengambil bom&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan pistol untuk dilempar dan ditembak. Mereka menaklukkan dan ditaklukkan. Menaklukkan orang lain adalah jalan dunia ini. Dalam melaksanakan Dhamma kita tidak perlu berperang dengan orang lain, melainkan menaklukkan pikiran sendiri, dengan sabar menyingkirkan semua suasana hati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dari mana hujan datang? Hujan datang dari semua air kotor yang menguap dari bumi, seperti air seni dan air yang Anda buang setelah membersihkan kaki. Bukankan mengagumkan bagaimana langit dapay mengambil air kotor dan mengubahnya menjadi air murni, air bersih? Pikiran Anda dapat melakukan hal yang sama terhadap kekotoran batin bila Anda membiarkannya bertindak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sang Buddha berkata untuk hanya menilai diri sendiri dan tidak menilai orang lain, tidak peduli seberapa pun baik atau buruknya orang tersebut. Sang Buddha menunjukkan hal ini dengan berkata, “Kebenaran adalah seperti ini.” Sekarang, apakah pikiranmu seperti itu atau tidak?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-2676378872813590771?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/2676378872813590771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=2676378872813590771&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/2676378872813590771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/2676378872813590771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/12/hati-dan-pikiran.html' title='Hati dan Pikiran'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-5622023471995943089</id><published>2010-12-04T20:15:00.000-08:00</published><updated>2010-12-04T20:54:11.846-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gede Prama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kematian Juga Menawan'/><title type='text'>Kematian Juga Menawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Jop_fT7M67w/S8_9PXDyxpI/AAAAAAAAAEE/25SoC6J8-Os/s1600/kematian-400x300.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 327px; height: 245px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Jop_fT7M67w/S8_9PXDyxpI/AAAAAAAAAEE/25SoC6J8-Os/s1600/kematian-400x300.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="entry"&gt;          &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Sebelum Mahatma Gandhi berpidato di salah satu  forum internasional di  London, pendampingnya berpisik pelan sopan: “Mahatma, Anda belum menulis  teks pidato”. Dengan senyum khas Gandhi menjawab: “My life is my true  speech”.  Hidupku adalah pidatoku yang sesungguhnya. Membaca  pemberitaan   meletusnya gunung Merapi 26-10-2010, alam seperti sedang  berpidato ke kita semua. Dan diantara demikian banyak pesan Merapi,  tidak ada yang lebih menyentuh  hati ketika mengetahui juru kunci Merapi  Mbah Maridjan wafat dalam posisi sujud.&lt;span id="more-127"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila benar bahwa kematian adalah “pertempuran”  spiritual menentukan,  Mbah Maridjan terang  benderang memperlihatkan bahwa beliau telah  mengalami kemenangan spiritual.  Disebut kemenangan karena kematian  adalah simbolik alam yang paling ditakuti, bila ada yang bisa sujud  hormat di depan kematian, sungguh ia menjadi kemenangan yang  mengagumkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kematian Sealami Daun jatuh&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagi nyaris semua orang, kematian  berwajah mengerikan. Perpisahan,  kengerian,  kesalahan itulah wajah yang digambar manusia kebanyakan  tentang kematian. Amat manusiawi tentunya. Namun, di tangan pencari  spiritual yang serius, tidak ada guru kehidupan yang lebih agung dari  kematian. Karena ada kematian kemudian manusia belajar ikhlas, jauh dari  kesombongan dan kecongkakan. Itu sebabnya, praktisi meditasi yang  mendalam setiap hari melakukan meditasi kematian. Sebelum bangun dari  meditasi, menyaksikan unsur tanah, air, api, udara dari tubuh ini  kembali ke tempat asalnya melayani semua mahluk. Unsur tanah dari tubuh  menyatu dengan tanah kemudian menghasilkan makanan buat para mahluk.  Unsur air menyatu dengan air kemudian membuat para mahluk bisa minum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam logika sederhana, hari ketika manusia keluar dari kandungan Ibu  sesungguhnya bukan awal kehidupan. Beberapa bulan sebelumnya manusia  sudah lahir dalam bentuk pembuahan di kandungan Ibu. Sebelum pembuahan  terjadi, sebagian dari diri kita ada di Ayah, sebagian lagi ada di Ibu.  Sebelum Ayah dan Ibu lahir, keduanya ada dalam diri kakek dan nenek, dan  seterusnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila hari kelahiran layak dipertanyakan sebagai awal, ia sama  layaknya bila bertanya: apakah kematian adalah akhir?. Serupa dengan  daun jatuh, ia memang mati sebagai daun namun melanjutkan tugas  berikutnya sebagai pupuk. Dan beberapa waktu kemudian akan terlahir  sebagai daun kembali. Mirip dengan gumpalan awan gelap, ketika hujan  turun ia memang mati sebagai awan terlahir sebagai air. Namun di suatu  waktu ia akan terlahir kembali sebagai awan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penderitaan terjadi ketika daun yang putaran waktunya sudah jatuh  memaksa tetap bertahan di pohon, awan yang sudah saatnya berubah menjadi  air ngotot bertahan sebagai awan. Tatkala putaran waktunya bencana  menggoda, sebagian besar manusia ngotot kaku harus bahagia. Ini yang  kerap disebut sebagai ketidakjernihan sebagai akar penderitaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Makanya, dalam meditasi pencapain diukur melalui tiga tingkatan  pikiran: concentrated mind, unified mind, non-abiding mind. Pertama,  pikiran mulai terkonsentrasi rapi. Bagi yang suka menggunakan obyek,  pikiran seperti dipaku  di satu tempat. Bagi yang menyenangi tanpa  obyek, hanya senyum-senyum lembut pada setiap pengalaman yang muncul.  Tanpa penghakiman, tanpa rasa bersalah. Kedua, ia yang lama istirahat  dalam konsentrasi yang rapi suatu saat akan mengalami pengalaman  kebersatuan. Sederhananya, bisa melihat dirinya di mana-mana. Di pohon,  binatang, mineral, manusial, dll. Sesampai di sini, praktisi menjadi  berhenti total menyakiti, amat rindu menyayangi. Karena ketika menyakiti  orang sesungguhnya sedang menyakiti diri sendiri, saat menyayangi  mahluk lain sesungguhnya sedang menyayangi diri sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan setelah lama menyatu, baru sadar ternyata tidak tersisa apa-apa  (non-abiding mind). Anehnya, bila keheningan sebagaimana dimengerti  orang kebanyakan menyisakan kebingungan (sepi, takut), di tingkatan ini  keheningan itu mengagumkan. Serupa ruang, ia sepertinya tiada namun  melimpahkan kasih sayang secara tidak terbatas. Terutama karena  memberikan tempat pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh. Guru  seperti Mbah Maridjan mengajarkan, ia yang bisa sujud di depan kematian  batinnya sudah seluas ruang. Bila bisa memberikan ruang pada kematian,  maka pasti bisa memberikan ruang pada yang lain. Inilah kematian yang  menawan. Tanpa perlawanan, tanpa keluhan, tanpa ketakutan. Ia sealami  daun jatuh, senatural awan yang berubah menjadi hujan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Puncak Doa&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada berbagai jenis manusia dalam berdoa. Apa pun bentuknya, semua  berdoa untuk keselamatan, kesehatan, kebahagiaan. Namun, sudah menjadi  sejarah doa sejak dulu, tidak semua doa terpenuhi. Kendati berdoa untuk  keselamatan, sebagian manusia  tidak selamat. Belajar dari sini, pencari  sejati menghentikan segala bentuk doa yang dipenuhi permintaan.  Pertama, ia sejenis perdagangan yang kotor dari keinginan. Kedua, cara  doa seperti ini membuat subyek doa dan obyeknya terpisah.  Ketiga,  karena masih dua (belum menyatu, apa lagi lebur dalam keheningan), maka  kemungkinan  doa ini banyak kecewanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk itu, penekun spiritual serius kemudian mendekati doa secara  berbeda. Titik berangkatnya sederhana, manusia ada di dalam Tuhan, Tuhan  ada di dalam manusia. Buddha menjadi yang disembah, sekaligus menjadi  yang menyembah. Dari sini, doa mengingatkan kita tentang  kualitas-kualitas mulya yang sudah bersemayam di dalam. Ada Tuhan, ada  Buddha di dalam sehingga sangat hati-hati dalam keseharian. Jangankan  berkata-kata kasar, menghina orang, berjalan di bawah jemuran saja  rasanya tidak rela.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berbekalkan ini, tubuh, kata-kata, pikiran sebagai kendaraan doa  kemudian disatukan (bukannya terpencar) melalui praktek kesadaran.  Kesadaran adalah sejenis cahaya terang di dalam. Tatkala cahaya di dalam  berjumpa cahaya di luar sebagai tanda munculnya guru rahasia, kegelapan  ketidakjernihan, keserakahan, kedengkian lenyap. Akibatnya, kegelapan  ketakutan (termasuk ketakutan akan kematian) menghilang, menyisakan  hanya kerinduan berbagi kasih sayang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam terang pemahaman ini, mudah dipahami bila Milarepa pernah  berpesan death is not death for a yogi, it’s just a little  enlightenment. Di tangan pencari tingkat tinggi seperti Milarepa dan  Mbah Maridjan, kematian tidak diikuti oleh ketakutan. Kematian hanya  pengalaman kecil yang mencerahkan. Inilah puncak doa. Mungkin itu  sebabnya Mbah Maridjan mengungkapkan kasih sayangnya di saat kematian  melalui sebuah pesan simbolik : “wafat dalam posisi bersujud”. Dengan  mengucapkan maaf mendalam (deep bow) kepada seluruh sahabat yang marah  serta tersinggung oleh wafatnya Mbah Maridjan, izinkan babu seperti saya  mengucapkan hormat sambil merunduk: “Matur nuwun sanget  Mbah, semoga  semua mahluk berbahagia”.&lt;/p&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-5622023471995943089?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/5622023471995943089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=5622023471995943089&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/5622023471995943089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/5622023471995943089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/12/kematian-juga-menawan.html' title='Kematian Juga Menawan'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Jop_fT7M67w/S8_9PXDyxpI/AAAAAAAAAEE/25SoC6J8-Os/s72-c/kematian-400x300.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-3544090165126045213</id><published>2010-12-02T22:51:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T03:52:03.559-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BELAJAR MELEPASKAN APA YANG MENJADI MILIK KITA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>BELAJAR MELEPASKAN APA YANG MENJADI MILIK KITA</title><content type='html'>By : Sakya Sugata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang telah diberikan, kita pikir itu MILIK kita&lt;br /&gt;sesuatu yang telah didapatkah, kita pikir itu MILIK kita&lt;br /&gt;sesuatu yang diperoleh, kita pikir itu adalah MILIK kita&lt;br /&gt;semua MILIK kita, PUNYA kita dan menjadi HAK kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kita sadari begitu kita terpisah darinya&lt;br /&gt;begitu sakit rasanya…&lt;br /&gt;begitu dalam penderitaannya…&lt;br /&gt;begitu besar kehilangannya&lt;br /&gt;begitu dalam jurang kesedihannya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia datang tanpa diundang…&lt;br /&gt;Ia pun pergi tanpa berbekas…&lt;br /&gt;Ia yang datang dan pergi semua bukan milik kita&lt;br /&gt;dan tidak perlu kita menderita karena melekatinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selagi bersama, bahagialah&lt;br /&gt;selagi memiliki, hargailah&lt;br /&gt;selagi ada, rasakanlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sewaktu berpisah, kenanglah&lt;br /&gt;sewaktu pergi, relakanlah&lt;br /&gt;sewaktu kehilangan, lepaskanlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat jodoh telah berakhir, relakanlah, lepaskanlah...&lt;br /&gt;Setiap orang terlahir di dunia ini dengan tangan kosong.&lt;br /&gt;Ketika perannya berakhir,&lt;br /&gt;sampai di sanalah skenario kehidupannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-3544090165126045213?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/3544090165126045213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=3544090165126045213&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/3544090165126045213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/3544090165126045213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/12/belajar-melepaskan-apa-yang-menjadi.html' title='BELAJAR MELEPASKAN APA YANG MENJADI MILIK KITA'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-6957991077042349042</id><published>2010-11-29T07:31:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T03:52:03.561-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dhamma'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Senggenggam Biji Padi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Senggenggam Biji Padi - 4 Sikap Manusia dalam menerima Dhamma</title><content type='html'>Senggenggam Biji Padi - Sikap dalam menerima Dhamma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah  pada suatu ketika seorang anak petani bermain-main dengan segenggam  benih padi. Anak ini kemudian bermain di sebuah jalan aspal yang  membelah sebuah lahan pertanian yang sangat subur milik ayahnya.  Kemudian dilemparnya semua benih padi dalam genggamannya ke atas. Maka  berhamburlah benih padi yang siap tanam tadi ketika terbawa angin di  udara. Ketika berhamburan inilah kemudian benih padi tersebut jatuh di  tempat yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ada sebagian biji padi ini kemudian  jatuh di atas jalan keras yang beraspal. Benih ini tentunya tidak akan  tumbuh dan berbuah di atas jalan aspal yang keras. Lalu kemudian benih  ini dilindas mobil atau dimakan burung-burung. Sangat disayangkan benih  ini tersia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ada sebagian lagi kemudian terjatuh di  atas bebatuan yang bercampur sedikit tanah di tepi jalan aspal ini.  Benih ini kemudian tumbuh karena masih ada sedikit tanah di sana. Tetapi  karena kondisi tanah yang sedikit dan berbatu ini, maka akarnya tidak  bisa menembus kerasnya batu sehingga kemudian tanaman padi ini tidak  tumbuh dengan baik dan akhirnya mati sebelum besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga,  sebagian lagi jatuh di sepanjang tepi jalan yang penuh dengan ilalang  dan semak semak. Karena tanah yang subur, maka benih padi ini kemudian  bertumbuh dengan lebih baik. Bahkan akarnyapun mampu menembus cukup kuat  ke dalam tanah. Maka tumbuhlah tanaman padi hingga dewasa. Tetapi  tumbuhan ini kemudian tumbuh dengan kurang baik, bahkan tidak mampu  menghasilkan bulir padi karena kekurangan makanan sebab harus bersaing  dengan ilalang dan semak belukar yang lebih banyak. Meskipun tumbuh dan  berkembang tetapi karena kekurangan makanan maka akhirnya tanaman padi  inipun mati tanpa menghasilkan bulir padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, sebagian lagi  tersebar di atas petak sawah yang siap tanam. Karena tanah yang subur  maka benih padi ini bertumbuh menjadi tanaman padi. Tanaman padi inipun  kemudian tumbuh menjadi sangat subur dan menghasilkan bulir padi yang  cukup besar dan sehat. Hal ini disebabkan semua nutrisi dalam tanah  hanya dipakai untuk menumbuhkan tanaman padi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah  kisah perjalanan segenggam benih padi yang jatuh pada berbagai kondisi  dan mengakibatkan berbagai hasil yang berbeda-beda. Bayangkan benih padi  yang ditebarkan tersebut adalah Buddha Dhamma yang diajarkan dan  dibabarkan di depan banyak orang. Kemudian keempat kondisi di atas  menggambarkan kondisi dan sikap seseorang dalam menerima Buddha Dhamma.  Marilah kita amati bersama persamaan yang mungkin bisa mewakili empat  sikap manusia dalam menanggapi Buddha Dhamma yang diajarkan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama,  adalah kondisi orang yang sama sekali tidak menyakini akan kebenaran  dan manfaat dari kebaikan yang diajarkan. Hati orang seperti ini ibarat  jalanan aspal yang keras dan tidak akan mungkin menjadikan Dhamma tumbuh  di dalamnya. Dhamma yang diajarkan kepada orang yang tidak yakin, akan  tidak dapat dicerna oleh orang tersebut. Hal ini disebabkan karena  ketidakyakinan dan adanya sikap menolak dalam dirinya. Bahkan seringkali  sikap yang ditampilkan adalah sikap yang meremehkan keberadaan Buddha  Dhamma. Oleh karena itulah Dhamma yang disampaikan pada orang yang tidak  menyakini Buddha Dhamma, akan disia-siakan olehnya dan tidak akan  menimbulkan bekas apapun dalam diri orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adalah  kondisi orang yang meskipun keyakinan yang cukup atas kebenaran Buddha  Dhamma dalam dirinya tetapi belum bisa mempraktikkannya. Orang seperti  ini seringkali mendengarkan&lt;br /&gt;Buddha Dhamma dan merasa senang dengan  keindahan dari apa yang diceritakan. Tetapi ketika diminta untuk  melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari akan selalu mengatakan bahwa  hal ini sulit dilaksanakan dalam kehidupan ini. Dhamma bagi mereka  adalah sebuah keindahan yang bisa dimengerti tetapi sangat sulit untuk  dijalankan. Orang yang mempunyai sikap seperti ini akan hanya meletakkan  kebenaran Buddha Dhamma dalam pemenuhan ego pemikiran saja dan  menjadikan Buddha Dhamma hanyalah sebagai sebuah hiburan intelektual.  Atau sebagai hiburan ketika sedang mengalami masalah saja. Memang Buddha  Dhamma seakan-akan tumbuh dalam dirinya tetapi sebenarnya Dhamma ini  tidak dapat dipahaminya dengan baik. Mereka tidak akan pernah  bersungguh-sungguh menjalankan dan membuktikannya dalam kehidupan nyata.  Oleh karena itulah maka orang seperti ini tidak akan mendapat manfaat  Buddha Dhamma. Ini seperti akar tanaman padi yang tidak mampu menembus  kerasnya hati yang tidak terbuka terhadap Dhamma. Orang seperti ini  hanya akan membuka pikirannya saja terhadap Dhamma tetapi tidak mau  membuka hatinya dalam menerima ajaran Buddha Dhamma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga,  adalah kondisi orang yang menyakini kebenaran Buddha Dhamma tetapi  kurang bijaksana akibat masih tertutup `awan' egoisme. Kepercayaan dan  keyakinan orang ini sangat kuat sehingga dia mampu melaksanakan dalam  kehidupan sehari-hari dan merasakan manfaatnya, tetapi karena kurang  bijaksana dalam menilai sebuah kebenaran, maka kemudian dia terperangkap  dalam konsep-konsep kebenaran itu sendiri. Sehingga orang yang seperti  ini kemudian memiliki pengertian yang salah dalam menerapkan Buddha  Dhamma. Dalam pikirannya, banyak sekali konsep dan pengertian yang telah  menyimpang dan dia tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang  salah. Orang seperti ini akan selalu terikat oleh konsepsi pemikiran  pertama yang diciptakan dan diyakininya sendiri akibat ego  (ke-aku-annya). Bahkan dalam kasus yang paling parah dapat dilihat pada  seorang yang fanatik. Seorang yang begitu mempercayai kebenaran yang  diyakini kemudian berusaha mati-matian mempertahankan pengertiannya yang  salah itu. Memang pada awalnya Dhamma ini berkembang dalam dirinya  sampai akhirnya menimbulkan sebuah keyakinan yang cukup mendalam  terhadap satu sisi kebenaran yang mampu dibuktikannya. Tetapi karena  tidak hati-hati akhirnya dia terjebak dalam pemikiran yang mengandung  Lobha, Dosa, dan Moha. Dan karena pemikiran ini lebih dominan sehingga  Buddha Dhamma yang murni seakan-akan tenggelam dalam kesombongan  pikirannya sendiri. Oleh karena itu maka akhirnya pengertiannya yang  salah ini membuat orang tersebut terseret dalam semak-semak pemikiran  yang ruwet, dan dia tidak akan mendapatkan kebenaran lain yang lebih  tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, adalah kondisi orang yang memiliki keyakinan dan  kebijaksanaan dalam mendengar, mengerti, memahami dan melaksanakan  Buddha Dhamma. Karena pikirannya bersih dari semak-semak pikiran yang  tidak benar maka Buddha Dhamma yang hadir dalam hatinya dapat diterima  dengan jelas dan benar. Kekosongan lahan sawah yang ada ibarat  kemurnian/kebersihan hati dan pikiran seseorang ketika mempelajari  Buddha Dhamma. Sikap yang rendah hati dalam menerima sebuah ajaran  Buddha Dhamma dengan mengakui dan mengetahui adanya semak dan ilalang  pengertian salah dalam dirinya akan mengantarkan dia pada sikap yang  selalu berusaha membersihkan pikirannya dari pengertian yang salah. Sama  halnya dengan para petani yang selalu mencabut ilalang yang tumbuh di  tengah tanaman padi mereka karena mengetahui bahwa semua ilalang ini  tidak ada gunanya bagi mereka. Para petani akan bisa membedakan mana  tanaman padi mana tanaman rumput ilalang sejak dari masih kecil.  Kebijaksanaan ini tentunya didasari oleh pengetahuan yang benar. Dengan  cara seperti inilah maka Buddha Dhamma akan berkembang dengan subur  dalam diri kita. Dan dengan demikian pula maka kita akan dapat manfaat  yang lebih banyak dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari  perjalanan segenggam benih padi ini, kita seharusnya mulai menilai  sampai di manakah posisi kita sendiri dalam cerita di atas? Apakah masih  sekeras jalan beraspal? ataukah selunak tanah sawah yang subur?  Nilailah diri anda dengan kejujuran dan kerendahan hati sehingga anda  bisa mempersiapkan diri anda menjadi sebuah lahan subur bagi  bertumbuhnya Dhamma. Dan jadilah petani yang bijaksana yang berusaha  menjaga agar lahan sawahnya tidak dikotori oleh benih ilalang yang tidak  bermanfaat dan dapat menyebabkan benih padi kita tidak mampu berbuah.  Semoga dengan mengetahui kondisi dan situasi dalam mengambil sikap  terhadap Buddha Dhamma, kita semua bisa memperbaiki sikap kita dalam  belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan mengambil sikap yang tepat kita mampu  menyelami dan mengenal Buddha Dhamma yang sesungguhnya. Semoga dengan  ini kita bisa hidup lebih berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: kisah buddhist group&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-6957991077042349042?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/6957991077042349042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=6957991077042349042&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6957991077042349042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6957991077042349042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/11/senggenggam-biji-padi-4-sikap-manusia.html' title='Senggenggam Biji Padi - 4 Sikap Manusia dalam menerima Dhamma'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-2362417848114911532</id><published>2010-11-25T23:43:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T03:52:03.565-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kata Bijak Bunda Teresa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kedamaian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mother Teresa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rendah Hati'/><title type='text'>Kata Bijak Bunda Teresa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.panasianbiz.com/wp-content/uploads/2010/08/Mother-Teresa.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 215px; height: 274px;" src="http://www.panasianbiz.com/wp-content/uploads/2010/08/Mother-Teresa.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sejak semula tidak pernah sekali pun saya meminta imbalan. Saya rindu  melayani kaum miskin hanya dengan kasih kepada Allah. Saya ingin kaum  miskin menerima dengan cuma-cuma apa yang kaum berpunya dapat dengan  uang mereka (Mother Teresa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih yang tulus tidak pernah menilai hasilnya, melainkan hanya memberi (Mother Teresa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita  mengabarkan kepada orang-orang tentang betapa baiknya, betapa maha  pengampun, betapa penuh pengertiannya Allah, tetapi apakah kita sudah  menjadi bukti yang nyata?&lt;br /&gt;Dapatkah mereka sungguh-sungguh melihat kebaikan, pengampunan, pengertian tersebut ada dalam hidup/diri kita? (Mother Teresa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang tidak diinginkan dan tidak dicintai ...mereka yang berjalan di dalam dunia tanpa ada satu pun yang memperhatikan.&lt;br /&gt;Pernahkah  kita pergi untuk menemui mereka? Pernahkah kita mengenal mereka?  Pernahkah kita mencoba untuk menemukan mereka? (Mother Teresa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengasihi  harus menjadi perbuatan yang sedemikian biasa bagi kita sebagaimana  hidup dan bernafas, hari demi hari sampai ajal menjelang (Mother Teresa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu  hal yang saya minta dari Anda: jangan pernah takut untuk memberi,  tetapi jangan memberi dari kelebihan Anda. Berikan dimana hal itu sukar  bagi Anda (Mother Teresa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdoalah dengan keindahan doa anak  kecil, dengan hasrat yang paling dalam untuk mengasihi dengan  sungguh-sungguh dan untuk menyatakan kasih kepada orang yang tidak  dikasih (Mother Teresa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak dapat menempatkan diri kita  langsung di hadirat Allah tanpa membuat jiwa dan raga kita sepenuhnya  berdiam diri (Mother Teresa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Apabila engkau berbuat  baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud tersembunyi  di balik perbuatan baik yang engkau lakukan itu. Tetapi tetaplah berbuat  baik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai  musuh dan teman-temanmu iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah  kesuksesanmu itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apa  yang engkau bangun selama bertahun-tahun dapat dihancurkan oleh orang  lain dalam satu malam saja. Tetapi janganlah berhenti dan tetaplah  membangun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di  dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi tetaplah  berbahagia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi teruslah berbuat baik (Mother Teresa) &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Berikan  yang terbaik dari apa yang engkau miliki dan itu mungkin tidak akan  pernah cukup. Tetapi tetaplah berikan yang terbaik. Jangan pedulikan apa  yang orang lain pikirkan atas perbuatan baik yang engkau lakukan.  Percayalah bahwa mata TUHAN tertuju pada orang-orang yang jujur dan DIA  melihat ketulusan hatimu (Mother Teresa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-2362417848114911532?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/2362417848114911532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=2362417848114911532&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/2362417848114911532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/2362417848114911532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/11/kata-bijak-bunda-teresa.html' title='Kata Bijak Bunda Teresa'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-6048403871385434431</id><published>2010-10-18T05:18:00.000-07:00</published><updated>2010-10-18T05:49:02.408-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Your Religion Is Not Important'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dalai Lama'/><title type='text'>Your Religion Is Not Important</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_xc3eTUmIwuM/S9yDxUTGVmI/AAAAAAAAANQ/3HXQbH6b_bE/s1600/Dalai+Lama.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 259px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_xc3eTUmIwuM/S9yDxUTGVmI/AAAAAAAAANQ/3HXQbH6b_bE/s1600/Dalai+Lama.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_xc3eTUmIwuM/S9yD04dLMQI/AAAAAAAAANY/UFndYOKRLeg/s1600/Leonardo.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 257px; height: 227px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_xc3eTUmIwuM/S9yD04dLMQI/AAAAAAAAANY/UFndYOKRLeg/s1600/Leonardo.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="result_box" class="long_text" lang="id"&gt;&lt;span style="" title=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah dialog singkat antara Brasil &lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;theologist &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Leonardo Boff &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dalai Lama&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Leonardo merupakan salah satu renovator dari Teologi Kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Dalam sebuah diskusi meja bundar tentang agama dan kebebasan yang &lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Dalai Lama dan saya sendiri ikut berpartisipasi pada waktu istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Aku dengan jahat, dan juga tertarik, bertanya kepadanya:&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;"Your Holiness, agama apa yang terbaik?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Saya pikir dia akan mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;"The Buddhisme Tibet" atau&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;"Agama-agama oriental, jauh lebih tua dari Kristen"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Dalai Lama berhenti, tersenyum dan menatap mata saya ....&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;yang mengejutkan saya karena dia tahu kebencian itu &lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;terkandung dalam pertanyaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Dia menjawab:&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;"Agama terbaik adalah salah satu yang membuat Anda dekat dengan Tuhan.&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Ini adalah salah satu yang membuat Anda menjadi orang yang lebih baik. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Untuk keluar dari rasa malu saya dengan jawaban yang bijaksana, aku bertanya:&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;"Apa yang membuat saya menjadi lebih baik?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Dia menjawab:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"Apa pun yang membuat Anda&lt;br /&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;lebih Welas asih,&lt;br /&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;lebih Bijaksana,&lt;br /&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;lebih Objektif,&lt;br /&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;lebih penuh kasih,&lt;br /&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;lebih Kemanusiaan,&lt;br /&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;lebih Bertanggung jawab,&lt;br /&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;lebih Etis. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;"Agama yang akan melakukannya untuk Anda adalah agama terbaik"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Aku terdiam sejenak, mengagumi dan bahkan hari ini&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;memikirkan jawabannya bijaksana dan tak terbantahkan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;"Saya tidak tertarik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="result_box" class="long_text" lang="id"&gt;&lt;span style="" title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="result_box" class="long_text" lang="id"&gt;&lt;span style="" title=""&gt;, tentang agama anda&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;atau Anda beriman atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;"Yang benar-benar penting bagi saya adalah perilaku Anda di&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;depan teman-teman Anda, keluarga, pekerjaan, masyarakat,&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;dan di depan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;"Ingat, alam semesta adalah gema tindakan kita dan pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;"Hukum aksi dan reaksi tidak eksklusif untuk fisika.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Hal ini juga berhubungan dengan manusia.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Jika aku bertindak dengan kebaikan, saya akan menerima kebaikan.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Jika aku bertindak dengan kejahatan, saya akan mendapatkan kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"Apa yang kakek-nenek kita katakan adalah kebenaran murni.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Anda akan selalu memiliki apa yang Anda inginkan untuk orang lain.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Menjadi bahagia bukan masalah takdir.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Ini adalah masalah pilihan. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Akhirnya ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"Jagalah Pikiran Anda karena mereka akan menjadi Kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Jagalah Kata-kata Anda karena mereka akan menjadi Perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Jagalah Perbuatan Anda karena mereka akan menjadi Kebiasaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Jagalah Kebiasaan Anda karena mereka akan membentuk Karakter Anda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;Jagalah Karakter Anda karena mereka akan membentuk Takdir Anda,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" title=""&gt;dan Takdir Anda akan menjadi Hidup Anda&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;... Dan ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"Tidak ada agama yang lebih tinggi dari Kebenaran."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-6048403871385434431?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/6048403871385434431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=6048403871385434431&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6048403871385434431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6048403871385434431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/10/your-religion-is-not-important.html' title='Your Religion Is Not Important'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_xc3eTUmIwuM/S9yDxUTGVmI/AAAAAAAAANQ/3HXQbH6b_bE/s72-c/Dalai+Lama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-7653221368495024801</id><published>2010-07-15T19:08:00.000-07:00</published><updated>2010-07-15T19:22:39.077-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Bodhisatwa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.tibetanart.us/art/bodhisattva.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 182px; height: 242px;" src="http://www.tibetanart.us/art/bodhisattva.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum aku mencapai pencerahan, ketika Aku hanyalah Bodhisatwa yang belum tercerahkan, karena terikat kepada kelahiran, usia tua, sakit, mati, kesedihan, dan kekotoran batin, aku juga mengejar semua hal yang masih  terikat pada kelahiran, usia tua, sakit, mati, kesedihan dan kekotoran batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian merenung : "Ketika diri sendiri dicengkeram oleh kelahiran, tua, sakit, mati, kesedihan, dan kekotoran batin, mengapa aku masih mengejar semua hal yang juga lahir, tua, sakit, mati, sedih, dan kotor ini? Setelah  mengerti bahaya dari keterikatan pada hal-hal ini, Aku mencari yang tidak dilahirkan, tidak tua, tidak sakit, tidak mati, tidak sedih dan tidak kotor, pelindung utama dari semua kemelekatan, Nirwana."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-7653221368495024801?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/7653221368495024801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=7653221368495024801&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/7653221368495024801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/7653221368495024801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/07/bodhisatwa.html' title='Bodhisatwa'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1928016098685142750</id><published>2010-07-15T08:41:00.001-07:00</published><updated>2010-07-15T08:45:58.422-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tidak ada ajahn chah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Damai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sausanatika.files.wordpress.com/2010/01/teratai1.png"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 345px; height: 258px;" src="http://sausanatika.files.wordpress.com/2010/01/teratai1.png" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p&gt;Q : Seperti apakah kedamaian itu?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;A : Mengapa dipusingkan? Baik, kedamaian itu akhir dari kebingungan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kedamaian ada pada diri sendiri, ditemukan di tempat yang sama dengan kesulitan dan penderitaan. Tidak ditemukan di hutan atau di puncak gunung ataupun diberikan oleh guru. Ketika Anda merasakan penderitaan, Anda juga dapat menemukan kebebasan dari penderitaan. Mencoba lari dari penderitaan sebenarnya justru berlari menuju penderitaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila Anda melepaskan sedikit, Anda akan mendapat sedikit kedamaian. Bila Anda melepaskan banyak, Anda akan mendapatkan banyak kedamaian. Bila Anda melepaskan seutuhnya maka Anda akan mendapatkan kedamaian seutuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebenarnya dalam kebenaran, tidak ada apapun pada manusia. Menjadi apapun diri kita, hanya merupakan tampilan luar. Akan tetapi, bila kita melampaui apa yang tampak dan melihat kebenaran, kita akan melihat bahwa tidak ada satupun kecuali karakteristik universal, kelahiran pada awalnya, perubahan pada pertengahan dan penghentian pada akhirnya. Inilah keseluruhan yang ada. Bila kita melihat segala sesuatu dengan cara ini, tidak akan ada masalah yang muncul. Bila kita mengerti hal ini, kita akan mendapatkan  kepuasan dan kedamaian.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengetahui apa yang  baik dan buruk, ketika berpergian atau tinggal di suatu tempat. Anda tidak akan menemukan kedamaian di gunung atau dalam gua. Anda bahkan dapat pergi ke tempat Sang Buddha mencapai penerangan tanpa lebih dekat dengan kebenaran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat keluar diri sendiri adalah untuk membandingkan dan membedakan. Anda tidak akan menemukan kebahagiaan dengan cara itu. Anda juga tidak akan dapat menemukan kebahagiaan bila Anda menghabiskan waktu untuk mencari orang atau guru yang sempurna. Sang Buddha mengajar kita untuk melihat pada Dhamma, kebenaran, dan tidak melihat  pada orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setiap orang dapat membangun rumah dari kayu dan bata, tetapi Buddha mengajarkan kita bahwa rumah yang ada bukanlah rumah kita sesungguhnya. Itu adalah rumah di dunia dan mengikuti langkah duniawi. Rumah kita yang sebenarnya adalah kedamaian di dalam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hutan penuh kedamaian, mengapa Anda tidak? Anda berpegang pada sesuatu yang menyebabkan Anda kebingungan. Biarkan alam mengajari Anda. Dengarkan burung bernyanyi dan lepaskan. Bila Anda mengetahui alam, Anda akan mengetahui Dhamma. Bila Anda mengenal Dhamma, Anda akan mengetahui alam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mencari kedamaian seperti mencari kura-kura berjenggot. Anda tidak akan menemukannya. Tetapi ketika hati Anda siap, kedamaian akan datang mencari Anda.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kebajikan (sila), konsentrasi (Samadhi), dan kebijaksanaan (panna) bersama membuat Sang Jalan. Tetapi Sang Jalan bukan merupakan ajaran sebenarnya, bukan seperti yang diinginkan Sang guru, tetapi hanya jalan yang dapat membawamu. Contohnya, katakanlah Anda melakukan perjalanan dari Bangkok ke Wat Pah Pong. Jalannya perlu untuk perjalanan Anda, tetapi Anda mencari Wat Pah Pong, vihara, bukan jalannya. Dengan cara yang sama, kita dapat mengatakan kebajikan, konsentrasi dan kebijaksanaan berada di luar kebenaran Buddha tetapi merupakan Jalan yang mengarah kepada kebenaran. Ketika Anda telah mengembangkan ketiga faktor ini, hasilnya kedamaian yang terindah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1928016098685142750?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1928016098685142750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1928016098685142750&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1928016098685142750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1928016098685142750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/07/damai.html' title='Damai'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-5158645979974843573</id><published>2010-07-14T19:41:00.000-07:00</published><updated>2010-07-14T20:00:20.910-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Zen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bertahan Tidak Mati vs Hidup dengan Baik'/><title type='text'>Bertahan Tidak Mati vs Hidup dengan Baik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i985.photobucket.com/albums/ae331/trinhan_2009/lrg-4388-sramanera-37-jpg.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 284px; height: 171px;" src="http://i985.photobucket.com/albums/ae331/trinhan_2009/lrg-4388-sramanera-37-jpg.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari sangat terik, bunga-bunga di vihara jadi layu karenanya. “Cepat! Cepat siram air!” Sramenera kecil berteriak, lalu segera pergi mengambil satu tong air. “Jangan tergesa!” Bhiksu tua berkata, “Sekarang ini matahari lagi terik-teriknya, kalau disiram air, dari panas ke dingin, pasti mati nantinya. Nanti saja siramnya.” Petang hari, bunga itu sudah berubah menjadi bunga kering. “Tidak pagian siramnya…,” sramanera kecil mengomel sendiri, “pasti sudah mati dari tadi, disiram pun sudah tak menolong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan cerewet! Siram!” Instruksi bhiksu tua. Tak lama setelah disiram, bunga yang sudah merunduk layu itu ternyata tegak kembali, bahkan memancarkan daya hidup yang kuat. “Oh!” Sramanera kecil berteriak, “Mereka benar-benar hebat, bertahan terus di sana, bertahan tidak mati.” “Omong kosong!” Bhiksu tua mengoreksi, “Bukan bertahan tidak mati, melainkan hidup dengan baik.” “Apa bedanya?” Sramanera kecil menundukkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya tidak sama.” Bhiksu tua menepuk pundak sramanera kecil, “Saya tanya kamu, saya sekarang 80 tahun, bertahan tidak mati atau hidup dengan baik?” Seusai kebaktian malam, bhiksu tua memanggil sramanera kecil. “Bagaimana? Sudah paham?” “Belum,” sramanera kecil masih tetap menundukkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhiksu tua mengetuk kepala sramanera kecil, “Bodoh! Orang yang setiap harinya takut mati, itu namanya bertahan tidak mati; orang yang setiap harinya menatap ke depan, itu namanya hidup dengan baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada usia satu hari, maka laluilah satu hari itu dengan sebaik-baiknya. Mereka yang di waktu hidupnya membakar dupa dan menghormat Buddha setiap hari hanya karena takut mati, berharap setelah mati dapat menjadi Buddha, dapat dipastikan tidak akan menjadi Buddha.” Bhiksu tua tertawa ria, “Orang kalau dalam hidupnya bisa hidup dengan baik, tapi sengaja tidak hidup dengan baik, bagaimana bisa hidup enak setelah meninggal?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-5158645979974843573?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/5158645979974843573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=5158645979974843573&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/5158645979974843573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/5158645979974843573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/07/bertahan-tidak-mati-vs-hidup-dengan.html' title='Bertahan Tidak Mati vs Hidup dengan Baik'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-5647218616955039774</id><published>2010-07-13T00:03:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T00:13:12.418-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajahn Chah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Latihan Meditasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://eof737.files.wordpress.com/2010/02/lake-meditation.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 249px; height: 169px;" src="http://eof737.files.wordpress.com/2010/02/lake-meditation.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt; Kalau Anda ingin menunggu untuk bertemu Buddha yang akan datang, maka jangan  berlatih. Anda mungkin akan berkeliling cukup lama untuk melihat Buddha ketika  Beliau datang. &lt;p&gt;Saya mendengar banyak orang berkata, “Oh, tahun ini adalah tahun yang buruk  bagi saya.” “Bagaimana bisa?” “Saya sakit sepanjang tahun,” jawabnya. “Saya  tidak dapat latihan meditasi sama sekali. “Oh!Kalau mereka tidak berlatih ketika  kematian sudah dekat, kapan mereka bisa latihan lagi? Kalau mereka sehat, apakah  Anda pikir mereka akan berlatih? Tidak. Mereka hanya akan tenggelam dalam  kebehagiaan. Kalau mereka menderita , mereka tetap tidak berlatih. Mereka akan  kehilangan kesempatan pula. Saya tidak tahu kapan mereka akan berpikir untuk  berlatih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya telah menetapkan jadwal dan peraturan vihara. Jangan melewati batas yang  telah ada. Siapapun yang melanggar bukanlah orang yang datang dengan niat untuk  sungguh-sungguh berlatih. Apa yang diharapkan orang tersebut? Walaupun dia tidur  dekat saya tiap hari, dia tidak akan melihat Buddha, jika dia tidak  berlatih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jangan pernah berpikir bahwa hanya dengan duduk dan mata ditutup berarti  telah berlatih meditasi. Jika kamu berpikir seperti itu, maka segera ubah  pemikiranmu. Latihan yang mantap adalah menjaga kesadaran pikiran di setiap  sikap badan, apakah duduk, berjalan, berdiri atau berbaring. Ketika selesai  duduk, jangan berpikir bahwa Anda telah keluar dari meditasi tetapi berpikirlah  Anda hanya mengubah sikap badan. Bila Anda dapat melakukan dengan cara ini, Anda  akan mendapatkan kedamaian. Dimanapun Anda berada, Anda akan mempunyai kesadaran  yang mantap dalam diri Anda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sebelum saya mencapai Penerangan Sempurna, saya tidak akan beranjak dari  tempat ini, walaupun darah saya mengering.” Anda telah membaca kalimat ini di  dalam buku, dan mungkin akan berpikir untuk mencobanya sendiri. Anda akan  melakukan hal yang sama seperti Buddha. Tetapi Anda belum mempertimbangkan bahwa  kendaraan Anda hanya kendaraan kecil. Kendaraan Buddha adalah kendaraan besar.  Buddha dapat melakukannya secara serentak pada saat bersamaan. Dengan kendaraan  Anda yang terbatas dan kecil, bagaimana mungkin Anda dapat menanggungnya secara  serentak? Ini semua adalah cerita yang berbeda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya pergi berkelana untuk mencari tempat meditasi. Saya tidak menyadari  bahwa tempat itu sudah tersedia, di hati saya. Segala meditasi telah ada dalam  dirimu. Kelahiran, usia, tua, penyakit dan kematian ada dalam dirimu. Saya  berkeliling ke segala penjuru sampai jatuh dalam kepenatan. Saat itu, ketika  berhenti, saya menemukan apa yang selama ini saya cari, ada di …. dalam diri  saya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita tidak bermeditasi untuk melihat surga tetapi untuk mengakhiri  penderitaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jangan melekat pada penglihatan atau cahaya dalam meditasi, jangan bangun dan  jatuh karenanya pula. Apa yang hebat dari cahaya? Senter saya memiliki cahaya.  Cahaya tidak dapat menolong kita untuk lepas dari penderitaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anda buta dan tuli tanpa meditasi. Dhamma tidak mudah untuk dilihat. Anda  harus bermeditasi untuk melihat apa yang tidak pernah Anda lihat. Apakah Anda  terlahir sebagai guru? Tidak. Anda harus belajar terlebih dahulu. Lemon terasa  asam hanya bila Anda telah mencicipinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika duduk bermeditasi, katakanlah “Itu bukan urusan saya!” pada segala  pikiran yang muncul.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika merasa malas, kita harus berlatih dan tidak hanya ketika merasa  bersemangat atau pada saat suasana hati mendukung. Ini merupakan latihan menurut  ajaran Buddha. Menurut diri kita sendiri, kita berlatih hanya saat suasana hati  baik. Bagaimana kita dapat maju? Bagaimana kita dapat memutus aliran kekotoran  batin bila kita berlatih hanya menurut cara kita yang seperti itu?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apapun yang kita lakukan, kita harus selalu melihat diri kita sendiri.  Membaca buku tidak akan pernah membangkitkan apapun. Hari terus berlalu, tetapi  kita tidak melihat diri kita sendiri. Memahami latihan adalah berlatih untuk  memahami.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentu saja terdapat berbagai teknik meditasi, tetapi semua akan kembali ke  sini, biarkan semua seperti apa adanya. Datanglah ke sini, tenang dan bebas dari  perseteruan. Mengapa Anda tidak mencobanya?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hanya berpikir mengenai latihan seperti memancing dalam bayangan dan  menghilangkan maknanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika saya telah berlatih selama beberapa tahunb, saya tetap belum dapat  mempercayai diri sendiri. Tetapi setelah saya mendapat banyak pengalaman, saya  belajar untuk mempercayai hati saya sendiri. Ketika Anda telah memiliki  pengertian yang mendalam, apapun yang terjadi, Anda dapat merasakan semuanya  terjadi, semuanya hanya datang dan pergi. Anda akan mencapai suatu titik dimana  hati akan berkata sendiri apa yang harus Anda lakukan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam latihan meditasi, sebenarnya adalah lebih buruk terjebak dalam  keheningan dibandingkan terjebak dalam kegelisahan, karena pada akhirnya Anda  akan ingin membebaskan diri dari kegelisahan tersebut, sebaliknya Anda akan  terpaku dalam keheningan dan tidak berlatih lebih lanjut. Ketika kebahagiaan  muncul dengan jelas dalam latihan Vipassana tersebut, jangan melekat  padanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meditasi hanya mengenai pikiran dan perasaan. Meditasi bukan sesuatu yang  perlu dikejar dan diperjuangkan. Bernafas secara terus menerus selama bekerja.  Alam telah menjaga proses alami. Yang perlu kita lakukan hanyalah mencoba untuk  sadar, secara batin melihat dengan jelas. Meditasi adalah seperti itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak berlatih dengan benar adalah seperti tanpa perhatian. Perhatian yang  tidak terpusat sama seperti mati. Tanyakan diri Anda sendiri apakah Anda  mempunyai waktu untuk berlatih ketika Anda mati? Tanyakan terus pada diri Anda,  “Kapan saya akan mati?” Ketika kita merenung dengan cara ini, pikiran akan  waspada setiap saat, pikiran yang penuh perhatian akan selalu hadir dan  kesadaran penuh akan mengikuti secara otomatis. Kebijaksanaan akan muncul,  melihat segala sesuatu seperti apa adanya dengan jelas. Kesadaran menjaga  pikiran sehingga mengetahui ketika sensasi muncul setiap saat, siang dan malam.  Memiliki kesadaran menimbulkan ketenangan. Menjaga ketenangan adalah dengan  pikiran terpusat. Bila pikiran seseorang terpusat, maka ia telah berlatih dengan  benar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dasar dalam latihan kita, yang utama, haruslah selalu jujur dan lurus, kedua  , selalu waspada terhadap perbuatan salah, ketiga, selalu rendah hati terhadap  orang lain, tak banyak bicara dan mudah puas (tidak memilki  banyak keinginan).  Bila kita dapat puas dengan hal kecil saat berbicara dengan hal lainnya, kita  akan melihat diri kita sendiri, kita tidak akan terganggu. Pikiran mempunyai  dasar kemoralan (sila), konsentrasi (samadhi) dan kebijaksanaan (panna).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada awalnya, Anda tegesa-gesa untuk maju, tergesa-gesa untuk kembali, dan  tergesa-gesa untuk berhenti. Anda terus berlatih seperti ini sampai mencapai  suatu tahap dimana bukan maju, bukan kembali, dan juga bukan berhenti!. Selesai.  Dimana tidak ada pemberhentian, tidak maju dan tidak kembali. Itu telah selesai.  Di saat itu, Anda akan menemukan bahwa segalanya hampa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ingatlah bahwa Anda tidak bermeditasi untuk “mendapatkan” sesuatu, tetapi  untuk “melepaskan” sesuatu. Kita melakukan meditasi, tanpa keinginan, tetapi  dengan membiarkannya hilang. Bila Anda “menginginkan” sesuatu, Anda tidak akan  mendapatkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inti dari Sang Jalan cukup mudah. Tidak ada yang perlu dijelaskan panjang  lebar. Lepaskan cinta dan benci, juga biarkan segalanya berjalan seperti apa  adanya. Itulah yang telah saya lakukan selama ini dalam latihan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menanyakan pertanyaan yang salah menunjukkan bahwa Anda tetap terjebak dalam  keragu-raguan. Berbicara mengenai latihan adalah baik, bila hal itu membantu  perenungan. Tetapi itu terserah Anda untuk dapat melihat kebenaran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita berlatih untuk belajar melepaskan sesuatu, bukan untuk menambah  keterikatan pada sesuatu. Pencerahan terjadi ketika Anda berhenti menginginkan  sesuatu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila Anda mempunyai waktu untuk menyadari, Anda mempunyai waktu untuk  meditasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seseorang pernah bertanya kepada saya, “Saat kita bermeditasi dan banyak hal  timbul dalam pikiran, haruskah kita meyelidikinya atau cukup menyadarinya datang  dan pergi?” Bila Anda melihat seseorang berlalu dan Anda tidak mengenalnya, Anda  mungkin bertanya, “Siapakah dia? Kemana dia hendak pergi? Apa yang dia lakukan?”  Tetapi bila kita mengenalnya, cukup menyadarinya berlalu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keinginan dalam berlatih dapat menjadi kawan maupun lawan. Sebagai kawan,  membuat kita mau berlatih, untuk mengerti dan untuk mengakhiri penderitaan.  Namun untuk selalu menginginkan sesuatu yang belum muncul, menginginkan sesuatu  menjadi lain dari yang ada, hanya menimbulkan lebih banyak penderitaan, dan  inilah ketika keinginan dapat menjadi lawan. Pada akhirnya kita harus belajar  untuk melepaskan semua keinginan, juga keinginan pencerahan. Hanya dengan  demikian kita dapat terbebas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seseorang pernah bertanya pada Ajahn Chah mengenai cara ia mengajar meditasi:  “Apakah Anda menggunakan metode wawancara harian untuk meneliti pikiran  seseorang?” Ajahn Chah menjawab dengan berkata, “Di sini saya mengajar murid  untuk meneliti pikirannya sendiri, untuk mewawancarai diri mereka sendiri.  Mungkin seorang bhikkhu marah hari ini atau mungkin ia mempunyai nafsu dalam  pikirannya. Saya tidak mengetahuinya tetapi ia harus tahu. Dia tidak perlu  datang dan bertanya pada saya tentang itu. Iya, kan?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hidup kita adalah rangkaian dari unsur-unsur. Kita menggunakan kebiasaan  untuk menggambarkan sesuatu, tetapi kita telah terikat pada kebiasaan dan  memakainya sebagai sesuatu yang nyata. Kita dapat kembali pada permulaan sebelum  nama diberikan dan memanggil pria dengan “wanita” dan memanggil wanita dengan  “pria'”, apa ada bedanya? Tetapi sekarang kita terpaku pada penamaan dan konsep,  sehingga kita mendapat pertentangan jenis kelamin dan pertentangan lainnya yang  serupa. Meditasi adalah untuk melihat melampaui semua ini. Dengan demikian kita  kelak dapat mencapai tahapan tanpa kondisi dan dalam kedamaian, bukan  peperangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa orang menjadi bhikkhu tanpa keyakinan, tetapi kemudian melanggar  ajaran Buddha. Mereka mengetahui lebih baik tetapi menolak untuk berlatih dengan  benar. Sesungguhnya, mereka berlatih dengan benar tinggal sedikit saat ini. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teori dan praktek, yang pertama mengetahui nama tanaman obat, lalu yang kedua  keluar mencarinya dan menggunakannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebisingan, Anda menyukai suara burung tetapi tidak suara mobil. Anda takut  terhadap orang dan kebisingan, dan Anda suka hidup menyendiri dalam hutan.  Lepaskan kebisingan dan merawat bayi. Sang “bayi” adalah latihan Anda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang yang baru ditahbiskan (samanera) bertanya pada Ajahn Chah apa  nasihatnya bagi pemula dalam berlatih meditasi. “Sama halnya dengan mereka yang  telah lama berlatih,” ia menjawab. Dan apakah itu?” Tetaplah berlatih.”  jawabnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang mengatakan bahwa ajaran Buddha adalah benar, tetapi sulit untuk  dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka berkata seperti “Saya masih  muda dan tidak mempunyai kesempatan untuk berlatih, tetapi bila saya tua kelak  saya akan berlatih.” Apakah Anda berkata,”Saya masih muda, jadi tidak punya  waktu untuk makan?” Bila saya menyodok Anda dengan batang kayu yang membara,  apakah Anda berkata, “Saya menderita, itu benar, tetapi karena saya hidup dalam  bermasyarakat, saya tidak dapat melarikan diri dari penderitaan?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemoralan (sila, konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan (panna) adalah inti  dari praktek agama Buddha. Kemoralan menjaga tubuh dan ucapan secara menyeluruh.  Dan tubuh adalah rumah dari pikiran. Jadi latihan adalah jalan dari kemoralan,  jalan bagi konsentrasi dan jalan bagi kebijaksanaan. Seperti sepotong kayu  dipotong menjadi tiga bagian, tetapi sebenarnya hanya satu. Jika kita melepaskan  tubuh dan ucapan, kita tidak bisa. Jika kita ingin melepaskan pikiran, kita  tidak bisa. Kita harus berlatih dengan tubuh dan pikiran. Jadi sebenarnya sila,  samadhi, dan panna adalah satu kesatuan harmonis yang bekerja sama.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-5647218616955039774?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/5647218616955039774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=5647218616955039774&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/5647218616955039774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/5647218616955039774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/07/latihan-meditasi_13.html' title='Latihan Meditasi'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-4265694004003280750</id><published>2010-06-04T00:34:00.000-07:00</published><updated>2010-06-04T00:48:32.145-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajahn Chah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jasmani'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Jasmani</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://onclinic.files.wordpress.com/2009/02/anti-aging1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 318px; height: 226px;" src="http://onclinic.files.wordpress.com/2009/02/anti-aging1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;By : Ajahn Chah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tubuh bisa berbicara, ia akan berkata kepada kita sepanjang hari, "Kamu bukan majikanku, kamu tahu." Sebenarnya dia berkata kepada kita secara terus menerus, tetapi dengan bahasa Dhamma. Jadi kita tidak dapat mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi bukan milik kita. Kondisi mengikuti jalan alaminya. Kita tidak bisa melakukan apapun tentang jalannya tubuh. Kita bisa mempercantiknya sedikit, membuatnya terlihat lebih ceria dan bersih sejenak, seperti gadis muda yang memoles bibirnya dan membiarkan kukunya tambah panjang, tetapi ketika usia tua datang, semua orang akan mengalami kondisi yang sama. Itulah jalan tubuh kita. Kita tidak dapat mengubah dengan cara apapun juga. Apa yang kita bisa perbaiki dan percantik adalah adalah pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tubuh ini benar-benar milik kita, pasti ia akan mematuhi perintah kita. Jika kita bilang, "Jangan jadi tua," atau "Saya melarangmu untuk sakit," apakah dia mematuhi kita? Tidak! Tubuh ini tidak peduli. Kita hanya menyewa "rumah" ini, tidak memilikinya. Kalau kita berpikir tubuh ini milik kita, kita akan menderita ketika harus meninggalkannya. Tetapi dalam kenyataannya, tidak ada yang abadi, tidak ada yang tidak berubah, atau tetap dimana kita bisa bergantung padanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-4265694004003280750?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/4265694004003280750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=4265694004003280750&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/4265694004003280750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/4265694004003280750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/06/jasmani.html' title='Jasmani'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-964184232353225569</id><published>2010-05-23T05:49:00.000-07:00</published><updated>2010-05-26T01:27:03.467-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Ayah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Tentang Ayah</title><content type='html'>Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya. Akan sering merasa kangen sekali dengan Mama/Ibunya.  &lt;p&gt;Lalu bagaimana dengan Papa/ayah?&lt;span id="more-769"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu. Kemudian Mama bilang :&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya”.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi sadarkah kamu?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas :&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika kamu sudah beranjak remaja….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga. Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia &lt;span style=""&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="Picture_x0020_1" spid="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt=":)" style="'width:11.25pt;height:11.25pt;visibility:visible;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\wankuang\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.gif" title=")"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/wankuang/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt=":)" shapes="Picture_x0020_1" height="15" width="15" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu.. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir. Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut. Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti. Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika kamu menjadi gadis dewasa….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain. Papa harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan. Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “utri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena Papa tahu…..&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dan akhirnya….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Papa telah menyelesaikan tugasnya….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-964184232353225569?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/964184232353225569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=964184232353225569&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/964184232353225569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/964184232353225569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/05/tentang-ayah.html' title='Tentang Ayah'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-8767492453075897705</id><published>2010-04-29T08:34:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T21:15:40.599-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menciptakan Pikiran Pencerahan'/><title type='text'>MENCIPTAKAN PIKIRAN PENCERAHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S9zDo-aL2HI/AAAAAAAAAQo/tUIQaCnYJg4/s1600/DALAI+LAMA.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 251px; height: 264px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S9zDo-aL2HI/AAAAAAAAAQo/tUIQaCnYJg4/s320/DALAI+LAMA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466459156435949682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);font-family:arial;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);font-family:arial;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dengan keinginan untuk membebaskan semua mahluk&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Saya selalu mengambil perlindungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Kepada Buddha, Dharma, dan Sangha,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Hingga saya mencapai penerangan sempurna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Dimotivasi oleh kebijaksanaan dan belas kasih,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Pada hari ini, di depan Buddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Saya menciptakan pikiran untuk mencapai pencerahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Untuk memberikan manfaat bagi semua mahluk hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Sepanjang ruang masih tersisa,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Sepanjang mahluk hidup masih tersisa,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Sampai kemudian, saya juga, tersisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Dan mengusir penderitaan di dunia ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);font-family:arial;" &gt;Talkatora Indoor Stadium, 2003&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:78%;" &gt;Source: Banyak Jalan Menuju Nirvana&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-8767492453075897705?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/8767492453075897705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=8767492453075897705&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/8767492453075897705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/8767492453075897705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/04/menciptakan-pikiran-pencerahan.html' title='MENCIPTAKAN PIKIRAN PENCERAHAN'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S9zDo-aL2HI/AAAAAAAAAQo/tUIQaCnYJg4/s72-c/DALAI+LAMA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-8725216320223992062</id><published>2010-04-29T08:12:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T21:23:46.770-07:00</updated><title type='text'>Menciptakan Pikiran Pencerahan</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;Dengan keinginan untuk membebaskan semua mahluk&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;Saya selalu mengambil perlindungan&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;Kepada Buddha, Dharma, dan Sangha&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;Hingga saya mencapai penerangan sempurna.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;Dimotivasi oleh kebijaksanaan dan belas kasih,&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;Pada hari ini, di depan Buddha&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;Saya menciptakan pikiran untuk mencapai pencerahan&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;Untuk memberikan manfaat bagi semua mahluk hidup.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;&lt;/font&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;Sepanjang ruang masih tersisa,&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;Sepanjang mahluk hidup masih tersisa,&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;Sampai kemudian, saya juga, tersisa&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;Dan mengusir penderitaan di dunia ini.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font face="arial"&gt;&lt;/font&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font color="#6600cc" face="arial"&gt;&lt;em&gt;Talkatora Indoor Stadium, 2003&lt;/em&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;font face="Arial"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font size="1" face="Arial"&gt;Source: Banyak Jalan Menuju Nirvana&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-8725216320223992062?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/8725216320223992062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=8725216320223992062&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/8725216320223992062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/8725216320223992062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/04/menciptakan-pikiran-pencerahan_29.html' title='Menciptakan Pikiran Pencerahan'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-4253421382582607715</id><published>2010-04-01T08:49:00.000-07:00</published><updated>2010-04-01T08:51:01.766-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siapakah Buddha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Siapakah Buddha?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;By : Kate Raj&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Tidak  perlu jauh-jauh mencari Buddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Karena Buddha  adalah diriku ini &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Bila jiwa  Buddha tidak terdapat didalam diriku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Kemanakah aku  harus mencari Buddha itu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Setiap  diri  adalah Buddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Didalam  setiap diri terdapat jiwa Buddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Hanya sesat  dan sadar yang membedakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Yang sadar  akan menjadi Buddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Yang sesat  akan tetap menjadi manusia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Aku adalah  Buddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Kamu adalah  juga Buddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Hanya Buddha  yang masih tersesat di dunia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Lalu  mengapa diriku tak segera&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;sadarkan diri  pada kehidupan ini?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Agar  kedudukan Buddha segera  diraih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;pada saat  kehidupan sekarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Tanpa harus  mengalami kelahiran yang berulang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Di lautan  penderitaan yang tiada habisnya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Segala  keterikatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;dan  kemelekatan masih ada  menjadi kawan setia &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Tak rela   untuk dilepaskan sebagai tak ada dan kosong&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Segala hal  yang berbentuk selalu dipeluk erat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Merasakan itu  sebagai milikku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Yang  sesungguhnya hanyalah palsu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Itulah  ketidaksadaran &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Itulah  kesesatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Yang  menyebabkan penderitaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Tidak bisa  lagi membedakan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Antara yang  asli dan yang palsu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Tertipu  sepanjang kehidupan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Menyayangi  yang palsu, melupakan yang sejati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Memeluk  kesengsaraan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Melepaskan  kebahagiaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Dalam  ketidakmengertian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Masih saja  menertawakan tentang kebenaran ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Segala  pembenaran diungkapkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Untuk  menyesatkan diri sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Mengapa  kesadaran sulit untuk didatangkan? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Sungguh  sayang ,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Bila  menjelang kematian kesadaran itu baru datang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Ketika  kesempatan telah melayang &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;Dan masih  bertanya, benarkah aku ini adalah Buddha?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-4253421382582607715?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/4253421382582607715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=4253421382582607715&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/4253421382582607715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/4253421382582607715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/04/siapakah-buddha.html' title='Siapakah Buddha?'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-2747748913619436562</id><published>2010-03-26T08:01:00.000-07:00</published><updated>2010-03-26T08:11:01.103-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Guru Zen dan Seorang Kristen'/><title type='text'>Guru Zen dan Seorang Kristen</title><content type='html'>Seorang Kristen suatu hari mengunjungi seorang Guru Zen dan berkata :&lt;br /&gt;-----"Bolehkah aku membacakan beberapa kalimat Khotbah di Bukit?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----"Silahkan, dengan senang hati aku akan mendengarkannya", kata Guru  Zen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen itu membaca beberapa kalimat, lalu berhenti sejenak dan  melihat Guru, Guru tersenyum dan berkata:&lt;br /&gt;-----"Siapapun yang pernah mengucapkan kalimat-kalimat ini, pastilah  sudah mendapatkan penerangan budi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen itu senang. Ia meneruskan membaca, Sang Guru menyela dan  berkata ;&lt;br /&gt;-----"Orang yang mengucapkan ajaran ini, sungguh dapat disebut  Penyelamat dunia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen itu bergembira ria. Ia terus membaca sampai habis. Lalu  Sang Guru berkata ;&lt;br /&gt;-----"Khotbah itu disampaikan oleh Seorang yang memancarkan cahaya  Ilahi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukacita orang Kristen itu meluap-luap tanpa batas. Ia minta diri dan  bermaksud kembali untuk meyakinkan Guru Zen itu, agar ia sendiri  sepantasnya menjadi seorang Kristen. Dalam perjalan pulang ke rumahnya,  ia berjumpa dengan Kristus di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----"Tuhan, serunya dengan penuh semangat, saya berhasil membuat orang  itu mengaku bahwa Engkau adalah Tuhan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus tersenyum dan berkata : "Apa gunanya hal itu bagimu, selain  membesarkan "EGO KRISTENMU?"."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( ANTHONY DE MELLO SJ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==================================================  ============&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya mengajak manusia sadar bahwa dunia relligion dunia telah terkotak -kotak kefanatikan. Dengan kefanatikan atau kemelekatan membuat umat manusia ber agama tidak mengerti Inti sari setiap agama .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti sari setiap agama adalah ajaran untuk melenyapkan sifat  mementingkan diri sendiri , egoisme , dan pikiran - pikiran egoistik .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan - rekan sedharma dan para sahabat - sahabat ku. Tidak ada satu pun guru besar agama&lt;br /&gt;yang menamai ajaran - ajaran mereka dengan nama khusus seperti yang kita lakukan saat ini .&lt;br /&gt;Mereka hanya mengajarkan pada kita bagaimana cara nya hidup dengan tidak mementingkan diri sendiri .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua agama atau sekte mencoba mencari jalan untuk menyebarkan dan melatih diri dengan ajaran yang sesuai bagi diri mereka sendiri . Pada awalnya , mereka tidak bermusuhan dengan siapa pun .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hendaknya merenungkan bahwa di dunia ini tahu didunia mana pun , hanya ada satu agama: agama kebenaran sejati .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang melihat kebenaran akhir, melihat tidak ada apa pun yang disebut sebagai " agama". Yang ada hanyalah sifat sejati tertentu , yang dapat disebut apa pun sesuka kita .&lt;br /&gt;Kita dapat menyebutnya Dhamma , kita dapat menyebut nya kebenaran , kita dapat menyebutnya Tuhan , Tao , Konghuchu atau apa pun tetapi kita seharusnya tidak mengkhususkan Dhamma atau kebenaran itu sebagai agama Budha , Taoisme , Judaisme , Sikhisme ,  Zoroasfrianisme , atau Islam ,sehingga kita tidak membuat ataupun membatasinya&lt;br /&gt;dengan label dan konsep .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpecahan seperti ini terjadi karena orang masih tidak menyadari kebenaran tanpa nama ini bagi mereka . Mereka hanya mencapai tingkatan eksternal ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini , semua doktrin yang disebut " isme " didunia ini Terlalu ber bau " AKU ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From : Forum Diskusi Agama Buddha&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-2747748913619436562?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/2747748913619436562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=2747748913619436562&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/2747748913619436562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/2747748913619436562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/guru-zen-dan-seorang-kristen.html' title='Guru Zen dan Seorang Kristen'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1191216861770908365</id><published>2010-03-25T06:49:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T08:55:40.056-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meledakkan Kemelekatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Meledakkan Kemelekatan</title><content type='html'>By : Gede Prama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran itu mengerikan, mungkin itu warna dominan interaksi  antarmanusia di awal abad ke-21. Yakin benar lalu melakukan pembunuhan. &lt;p&gt;Amerika Serikat dan sekutunya yakin benar, maka berani menyerang  Afganistan dan Irak. Teroris yakin benar, maka bom diledakkan.  India-Pakistan, Palestina-Israel, Korea Utara-Korea Selatan hanya contoh  bagaimana kebenaran diikuti kebencian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, dalam totalitas, terjadilah kebenaran berwajah mengerikan.  Apabila ditelusuri, ideologi dan agama khususnya kerap digunakan sebagai  baju luar dari badan asli yang bernama kemelekatan. Ada kemelekatan  harga diri, ketidakadilan, dendam. Inilah yang menghasilkan kehidupan  mengerikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Meledakkan kemelekatan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lama disadari di Timur, kemelekatan adalah awal kemelaratan. Karena  itu, dalam sebagian kearifan Timur, kemelekatan menjadi fokus yang  diledakkan. Zen adalah salah satunya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari sejarahnya, bibit Zen berasal dari India, tumbuh di China,  berbunga di Jepang. Ada yang mengaitkan Zen dengan Buddha, ada yang  tanpa embel-embel agama. Apa pun keterkaitannya, Zen bertemakan satu:  meledakkan kemelekatan. Mungkin karena berbunga di Jepang, lalu hampir  semua yang diledakkan Zen berbau Buddha.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Zen sebenarnya lebih cocok dengan jiwa yang sudah dewasa. Namun,  karena kedewasaan mudah tergelincir pada kemelekatanlah, dibutuhkan  peledakan. Dalam sejarah Zen, banyak guru mengalami pencerahan setelah  diledakkan oleh cerita-cerita Zen seperti di bawah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagi jiwa yang kearifannya masih memerlukan banyak pertumbuhan, Zen  bisa mengundang ketersinggungan. Untuk itu, tulisan ini belum-belum  sudah minta maaf. Memaafkan adalah salah satu sifat mulia Buddha dan  tokoh suci lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cerita Zen pertama. Suatu hari ada pendeta Zen kedinginan. Semua kayu  bakar sudah habis. Dengan enteng, diambilnya patung Buddha dari kayu  lalu dibakar. Kontan saja ini mengundang marah orang: berani-beraninya  membakar patung Buddha? Pendeta ini menjawab, “Yang masih bisa terbakar  bukan Buddha”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak saja dalam Zen, di banyak negara, keseharian manusia ditandai  mudah terbakarnya emosi gara-gara agama dan lainnya. Karena berbagai  faktor, ada manusia yang begitu melekat dengan agama. Sedikit-sedikit  tersinggung. Maka, agama bukan sebagai sumber kesejukan, tetapi sumber  api yang membakar. Dengan indah, kemelekatan ini diledakkan, “yang masih  bisa terbakar hanya kepalsuan”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cerita Zen kedua. Suatu kali ada raja yang telah membangun tidak  terhitung jumlah tempat ibadah, datang ke Budhidharma. Dengan bangga,  raja bertanya, saya sudah membangun ratusan tempat ibadah, berapa  pahalanya? Tanpa menoleh, Bodhidharma menjawab, “Tidak ada  pahala-pahalaan!”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah persoalan kekinian. Berbuat namun melekat. Tentu saja ada  pahala karena ini hukum alam. Tetapi, melekat jika tindakan harus  diikuti pahala, bertindak membuat pelakunya tidak bebas, kotor dengan  ego, salah-salah kecewa. Ini yang diledakkan Budhidharma dengan:  “berbuat, lepas, ikhlas”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cerita Zen ketiga. Suatu hari dua pendeta Zen berjalan di tengah  hutan. Tiba-tiba pendeta Zen yang lebih tua mau kencing. Dengan tanpa  beban, pendeta tua kencing di sebelah patung Buddha. Tentu saja yang  muda marah. Tanpa menoleh seinci pun pendeta tua bertanya, tunjukkan  saya tempat di mana tidak ada Buddha? Tentu saja dijawab standar jika  semua tempat adalah Buddha. Dengan enteng pendeta tua bertanya balik,  “Kalau begitu, saya kencing di mana dong?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menganggap atribut agama sebagai sesuatu yang suci tentu baik. Namun,  melekat berlebihan pada konsep kesucian, lalu memproduksi kekotoran  batin, tentu layak direnungkan. Terutama karena kesucian tidak  diciptakan untuk menghasilkan kemarahan/permusuhan. Lebih-lebih jika  konsep kesucian menghasilkan pembunuhan. Kesucian juga mengerikan.  Kemelekatan ini yang diledakkan cerita Zen ketiga, kesucian ada karena  ada kekotoran, tanpa kekotoran kesucian menghilang. Totalitas dari  keduanya itulah yang membebaskan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cerita Zen keempat. Sudah lama orang disuruh bertanya, bagaimana  suara tepuk tangan yang dilakukan oleh sebelah tangan? Kendati sudah  berumur ratusan tahun, sampai kini pertanyaan ini masih terbuka. Seperti  menitipkan makna, tidak semua pertanyaan bisa dijawab pikiran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika ada yang belum bisa dimengerti, mungkin ia jauh di atas  kemampuan pikiran untuk bisa mengerti. Atau sebaliknya, terlalu  sederhana untuk bisa memuaskan kerumitan pikiran. Penghakiman berlebihan  membuat pertumbuhan terhenti. Untuk itu, ia diledakkan, biarkan  terbuka, masuki gerbang kebebasan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menghasilkan keindahan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mungkin karena terlepas dari kemelekatan, lalu sejumlah sahabat Sufi  membingkai hidupnya dengan keindahan. Praktisi Sufi, Hazrat Hinayat  Khan, dalam The Heart of Sufism menulis, “indifference and independence  are two wings which enable the soul to fly”. Ketidakmelekatan serta  kebebasan adalah dua sayap yang membuat jiwa terbang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wayne W Dyer dalam Spiritual Solutions, mengulas doa Santo Fransiskus  yang amat indah. Lord, make me an instrument of Thy peace… where  there’s hatred, let me sow love….where there’s sadness, joy. Hidup jadi  indah, indah, indah, dan indah bila menerapkan doa-doa ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Murid-murid di jalan advaita vedanta sudah lama diajari untuk  terfokus pada sat cit ananda (kebenaran, kesadaran, keindahan abadi)  sebagai fokus perjalanan. Sederhananya, keindahan adalah hasil ikutan  ditemukannya kebenaran dan dipraktikkannya kesadaran. Selain itu,  keindahan adalah ibu kebersatuan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Buddha Gautama berpesan, babarkan Dharma yang indah di awal, indah di  tengah, indah di akhir. Buddhadasa pernah mengajarkan, inti ajaran  Buddha adalah melihat semua sebagaimana adanya. Jika semua sudah  sempurna seperti adanya, bukankah kehidupan adalah keindahan?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di pengujung cerita meledakkan kemelekatan menghasilkan keindahan,  layak direnungkan, wajah kebenaran dan kesucian yang mengerikan. Zen  sudah meledakkan kemelekatan sebagai inti semua ini. Setelah kemelekatan  diledakkan, ternyata oleh keikhlasan dibukakan keindahan. Ini sebabnya  orang-orang di jalan ini berbisik, “God is beautiful, that’s why He  loves beauty.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini yang kerap disebut the religion of beauty. Mudah-mudahan  keindahan tidak menjadi kemelekatan baru.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1191216861770908365?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1191216861770908365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1191216861770908365&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1191216861770908365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1191216861770908365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/meledakkan-kemelekatan.html' title='Meledakkan Kemelekatan'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-4042612254332934169</id><published>2010-03-24T07:19:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T07:19:00.237-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saya Buta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tolong Bantu...'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Saya Buta, Tolong Bantu…</title><content type='html'>&lt;p&gt;Seorang anak laki-laki buta duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi di samping kakinya. Di dekat dia duduk ada sebuah tanda yang mengatakan: &amp;quot;Saya buta, tolong bantu.&amp;quot; Hanya ada beberapa kepingan uang di dalam topi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S6n807LlbpI/AAAAAAAAAQQ/IZLZ0F3Kiq8/s1600/blind.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S6n807LlbpI/AAAAAAAAAQQ/IZLZ0F3Kiq8/s320/blind.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;     &lt;br /&gt;Kemudian lewat seorang pria berjalan di depannya. Dia mengambil beberapa kepingan uang dari saku dan menjatuhkan kepingan uang tersebut ke dalam topi. Dia kemudian mengambil papan tanda di samping anak buta tersebut, membaliknya, dan menulis beberapa kata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S6n81gaWyVI/AAAAAAAAAQY/y05zs-5KH1I/s1600/blind2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S6n81gaWyVI/AAAAAAAAAQY/y05zs-5KH1I/s320/blind2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;     &lt;br /&gt;Tak lama kemudian topi mulai terisi banyak. Banyak orang yang memberi uang kepada anak buta tersebut. Sore itu orang yang telah mengubah tanda datang untuk melihat anak buta tersebut. Anak itu mengenali langkah kakinya dan bertanya, &amp;quot;Apakah Anda orang yang mengubah tanda pagi ini? Apa yang Anda tulis? &amp;quot;     &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pria itu berkata, 'Saya hanya menulis kebenaran. Aku mengatakan apa yang Anda katakan tetapi dengan cara yang berbeda. &amp;quot;    &lt;br /&gt;Apa yang telah ditulis adalah: &lt;b&gt;&amp;quot;Hari ini adalah hari yang indah dan aku tidak bisa melihatnya.&amp;quot;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S6n82KjYnsI/AAAAAAAAAQg/RFRQd6I_SAA/s1600/blind3.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S6n82KjYnsI/AAAAAAAAAQg/RFRQd6I_SAA/s320/blind3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurutmu, apakah tanda pertama dan kedua itu mengatakan hal yang sama?    &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja kedua tanda memperlihatkan kepada orang-orang bahwa anak itu buta. Tapi tanda pertama hanya mengatakan anak itu buta. Sedangkan tanda yang kedua mengatakan pada orang-orang bahwa mereka sangat beruntung karena mereka tidak buta. Haruskah kita terkejut bahwa tanda kedua lebih efektif?    &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Moral of the Story: Bersyukurlah untuk apa yang Anda miliki. Kreatif. Jadilah inovatif. Berpikir secara berbeda dan positif.    &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengundang orang lain ke arah yang baik dengan kebijaksanaan. Menjalani hidup tanpa alasan dan cinta tanpa penyesalan. Ketika kehidupan memberikan anda 100 alasan untuk menangis, kehidupan menunjukkan bahwa Anda memiliki 1000 alasan untuk tersenyum. Wajah masa lalumu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut. Menjaga iman dan menjatuhkan ketakutan.    &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang-orang besar mengatakan, &amp;quot;Hidup harus terus-menerus menjadi suatu proses perbaikan dan rekonstruksi, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan .... Dalam perjalanan hidup, jika Anda ingin melakukan perjalanan tanpa rasa takut, Anda harus memiliki tiket dari hati nurani yang baik. &amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S6n82KjYnsI/AAAAAAAAAQg/RFRQd6I_SAA/s1600/blind3.jpg"&gt;     &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-4042612254332934169?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/4042612254332934169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=4042612254332934169&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/4042612254332934169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/4042612254332934169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/saya-buta-tolong-bantu.html' title='Saya Buta, Tolong Bantu…'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S6n807LlbpI/AAAAAAAAAQQ/IZLZ0F3Kiq8/s72-c/blind.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-2630890330373615448</id><published>2010-03-23T06:15:00.000-07:00</published><updated>2010-03-23T06:21:57.228-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='YANG ARIYA RAHULA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siswa-Siswa Utama Sang Buddha'/><title type='text'>YANG ARIYA RAHULA</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;" class="Judul1"&gt;Terkemuka dalam Melaksanakan Kebaikan&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada hari ketujuh setelah Sang Buddha kembali ke  Kapilavatthu,                    Puteri Yasodhara mendandani Pangeran Rahula dengan  pakaian yang                    bagus dan mengajaknya ke jendela. Dari jendela itu  mereka dapat                    melihat Sang Buddha sedang makan siang. Puteri  Yasodhara kemudian                    bertanya pada Rahula, "Anakku, tahukah engkau siapa  orang                    itu ?". Rahula menjawab, "Beliau adalah Sang Buddha,                    ibu". Yasodhara tak dapat menahan air matanya yang  menitik                    keluar dan berkata, "Anakku, petapa yang kulitnya  kuning                    keemasan dan tampak seperti Brahma dikelilingi oleh  ribuan muridnya                    adalah ayahmu. Beliau punya banyak harta pusaka.  Pergilah kepadanya                    dan mintalah harta pusaka untukmu".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pangeran Rahula, yang masih kecil itu kemudian pergi  mendekati                    Sang Buddha dan sambil memegang jari tangan Sang  Buddha mengatakan                    apa yang dipesankan ibunya. Kemudian ia menambahkan,  "Ayah,                    bahkan bayangan ayah membuat hatiku senang. Selesai  makan siang                    Sang Buddha meninggalkan istana. Rahula mengikuti  sambil terus                    merengek, "Ayah, berikanlah aku harta pusaka. Kelak  aku                    akan menjadi raja, aku ingin memiliki harta pusaka.  Ayah, berikanlah                    aku warisan". Tak ada orang yang mencoba  menghalang-halangi                    dan Sang Buddha sendiri juga membiarkan Rahula berbuat  demikian.                    Setibanya di taman, beliau berpikir, "Rahula minta  warisan                    harta pusaka, tetapi semua harta dunia penuh dengan  penderitaan.                    Lebih baik Aku memberikan warisan berupa Tujuh Faktor  Penerangan                    Agung yang Aku peroleh bawah pohon Bodhi. Dengan  demikian akan                    mewarisi harta pusaka yang paling mulia".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Di vihara, Sang Buddha meminta YA Sariputta untuk  menahbiskan                    Rahula sebagai samanera. Rahula dengan demikian  merupakan samanera                    pertama. Mendengar berita Rahula telah ditahbiskan  menjadi samanera,                    Raja Suddhodana merasa sedih sekali. Oleh karena itu  ia mohon                    kepada Sang Buddha agar seseorang yang akan  ditahbiskan menjadi                    bhikkhu atau samanera agar dengan ijin orangtuanya.  Sang Buddha                    menyetujui permohonan tersebut dan mulai saat itu  tidak mentahbiskan                    bhikkhu atau samanera tanpa terlebih dahulu mendapat  ijin dari                    orangtuanya.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Rahula merupakan putera dari Pangeran Siddhattha dan  Puteri                    Yasodhara. Ketika Pangeran Siddhattha mendengar berita  bahwa                    isterinya telah melahirkan seorang putera, mukanya  menjadi pucat.                    Pangeran mengangkat kepalanya menatap langit dan  berkata, "Rahulajato,                    bandhanam jatam" (Satu belenggu telah terlahir, satu  ikatan                    telah terlahir). Karena itulah maka bayi yang baru  lahir itu                    diberi nama Rahula. Kelahiran Rahula disambut dengan  pesta besar                    yang meriah. Namun saat itu Pangeran Siddhattha telah  bertekad                    untuk meninggalkan istana untuk mencari jalan untuk  membebaskan                    manusia dari usia tua, sakit dan kematian.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Sesaat sebelum meninggalkan istana, Pangeran  Siddhattha pergi                    ke kamar Puteri Yasodhara untuk melihat isteri dan  anaknya.                    Isterinya sedang tidur nyenyak dan memeluk bayinya.  Tangannya                    menutup muka sang bayi sehingga muka bayi tidak dapat  terlihat.                    Pangeran semula ingin menggeser tangan isterinya untuk  dapat                    melihat muka puteranya itu, tetapi hal ini diurungkan  karena                    takut hal itu menyebabkan Puteri Yasodhara terbangun  dan rencananya                    untuk meninggalkan istana bisa gagal. Pangeran berkata  dalam                    hati, "Biarlah hari ini aku tidak melihat wajah  anakku,                    tetapi nanti setelah aku memperoleh apa yang kucari  aku akan                    datang kembali dan dengan puas dapat melihat wajah  anak dan                    isteriku". Setelah itu Pangeran Siddhattha  meninggalkan                    istana dengan menunggang kuda Kanthaka diikuti oleh  kusirnya,                    Channa, untuk berkelana mencari jalan kebahagiaan bagi  umat                    manusia.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Kepergian Pangeran Sidhattha memberikan kesedihan  yang mendalam                    bagi ayahnya, Raja Suddhodana terlebih pula isterinya,  Puteri                    Yasodhara. Rahula yang kehilangan ayahnya diasuh dan  dididik                    dengan penuh kasih sayang dan tumbuh menjadi anak yang  pandai                    dan baik budi. Puteri Yasodhara sendiri ketika  mendengar bahwa                    Pangeran Siddhattha yang telah menjadi petapa memakai  jubah                    kuning, ia pun memakai jubah kuning, sewaktu mendengar  petapa                    Siddhattha hanya makan satu kali sehari, ia pun makan  hanya                    satu kali sehari. Demikian pula mengikuti kehidupan  petapa Siddhattha,                    Puteri Yasodhara tidak lagi tidur di dipan yang tinggi  dan mewah,                    tidak lagi memakai untaian bunga dan wewangian.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Setelah ditahbiskan oleh YA Sariputta, Rahula kini  harus mengikuti                    peraturan yang berlaku. Sebagai anak Rahula tidak  dapat memanggil                    ayah atau selalu berdekatan dengan Sang Buddha. Ini  mungkin                    merupakan kesedihan baginya karena ia tidak dapat  memperlakukan                    ayahnya sebagai seorang ayah sehingga mendorongnya  untuk melakukan                    kenakalan-kenakalan kecil. Contohnya, suatu kali ia  menunjukkan                    arah yang salah kepada umat yang datang ke vihara dan  bertanya                    di mana dapat bertemu dengan Sang Buddha. Hal ini  terdengar                    oleh Sang Buddha yang segera menuju ke kuti Rahula.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Rahula merasa bahagia ketika melihat ayahnya datang  menghampirinya.                    Sang Buddha lalu meminta Rahula untuk menyiapkan  sebaskom air.                    Setelah Rahula membasuh kaki Sang Buddha, Sang Buddha  bertanya,                    "Rahula, dapatkah kamu minum air ini ?"&lt;br /&gt;                  Rahula menjawab, "Tidak, tadi air ini bersih, tetapi  sekarang                    sesudah dipakai membasuh kaki, air menjadi terlalu  kotor untuk                    diminum"&lt;br /&gt;                  Sang Budhha lalu menyuruh Rahula membuang air itu dan  kembali                    dengan baskom yang sudah kosong. Lalu Sang Buddha  berkata, "Rahula,                    dapatkah kamu menaruh makanan ke dalam baskom ini?"&lt;br /&gt;                  Rahula menjawab, "Tidak saya tidak dapat menaruh  makanan                    di baskom karena bekas tempat air kotor".&lt;br /&gt;                  Mendengar jawaban Rahula Sang Buddha berkata,  "Seseorang                    yang mengetahui bahwa kebohongan adalah perbuatan  buruk, tetapi                    berbohong terus menerus dengan menyakiti orang lain  adalah seperti                    air yang kotor atau sebuah baskom yang sudah kotor.  Kejahatan                    mulai dengan berbohong, yang akan mengundang kejahatan  lain                    pada dirinya sendiri. Dan penderitaan yang disebabkan  oleh kebohongan                    tidak akan dapat dielakkan oleh si pembuat  kebohongan".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Dengan kata-kata yang disampaikan oleh Sang Buddha,  sejak saat                    itu Rahula dengan amat rajin mematuhi semua peraturan  Sangha                    dan menjadi seorang bhikkhu yang terkemuka dalam  melaksanakan                    perbuatan baik. Banyak orang memandang Rahula dengan  penuh simpati.                    Meskipun terlahir dan dididik sebagai pangeran, Ia  dapat melepaskan                    semua hak-hak istimewanya dan pada usia demikian muda  dapat                    menjalani kehidupan suci dengan begitu baik. Namun  adapula anggota                    sangha yang memperlakukannya dengan tidak ramah dan  beberapa                    orang bhikkhu iri hati kepadanya. Menerima perlakuan  yang tidak                    menyenangkan itu merupakan ujian berat baginya.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada suatu ketika, ketika YA Sariputta dan Rahula  sedang berpindapata                    di Rajagaha, seorang perusuh melempar pasir ke mangkuk  YA Sariputta                    dan memukul Rahula. YA Sariputta mengingatkan Rahula,  "Rahula,                    engkau adalah siswa Sang Buddha. Perlakuan apapun yang  kamu                    terima, tidak boleh menyebabkan kemarahan masuk ke  dalam hatimu.                    Kamu harus selalu berbelas kasihan kepada semua  makhluk. Orang                    yang paling berani, orang yang mencari penerangan,  membuang                    kesombongan dan memiliki keteguhan hati untuk  mengatasi kemarahan".                    Rahula tersenyum dan terus berjalan sampai menemui  sebuah sungai                    dan membersihkan kotoran dari tubuhnya.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Rahula tidak pernah membenci nasihat yang diberikan  kepadanya.                    Setiap bangun pagi ia mengambil segenggam pasir dan  bertekad,                    "Semoga hari ini saya mendapat nasihat sebanyak pasir  ini".                    Semangatnya dapat terlihat dari kenyataan bahwa ia  melaksanakan                    latihan-latihan yang sangat sulit dan keras, dengan  cara tidak                    berbaring melainkan duduk dalam posisi meditasi untuk  tidur                    selama masa dua belas tahun.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada usia dua puluh tahun, Rahula ditahbiskan menjadi  bhikkhu                    dengan pembimbing (upajjhaya) YA Sariputta dan guru  penahbisan                    resmi YA Moggallana. Selama kurang lebih satu masa  latihan musim                    hujan Rahula melatih diri dengan sungguh-sungguh.  Ketika itu                    Sang Buddha yang mengetahui bahwa pikiran Rahula sudah  matang,                    membawanya ke hutan Andha dan mengajarkan ajaran yang  dikenal                    sebagai Nasihat Kecil untuk Rahula (Cullarahulovada  Sutta, Majjhima                    Nikaya) Rahula merasakan kegembiraan setelah mendengar  sabda                    Sang Buddha dan hatinya terbebas dari kekotoran batin  (asava)                    dan beliau mencapai tingkat kesucian tertinggi yaitu  Arahat.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada suatu kali delapan tahun setelah mencapai  tingkat Arahat,                    terdapat para bhikkhu yang datang memakai tempat tidur  YA Rahula.                    Karena tidak menemukan tempat untuk beristirahat, YA  Rahula                    tidur di ruang terbuka di depan tempat Sang Buddha. YA  Rahula                    mencapai Parinibbana (wafat) setelah wafatnya Sang  Buddha, diperkirakan                    pada usia lima puluh tahun. Dibangun sebuah stupa  untuk menyimpan                    peninggalan beliau.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-2630890330373615448?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/2630890330373615448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=2630890330373615448&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/2630890330373615448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/2630890330373615448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/yang-ariya-rahula.html' title='YANG ARIYA RAHULA'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1410065763245134508</id><published>2010-03-22T04:15:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T04:16:02.638-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='YANG ARIYA UPALI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siswa-Siswa Utama Sang Buddha'/><title type='text'>YANG ARIYA UPALI</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Terkemuka dalam Menjaga Sila&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Enam bangsawan muda Sakya yaitu Ananda, Anuruddha,  Bhaddiya,                    Bhagu, Devadatta dan Kimbila memutuskan bersama untuk  menjadi                    siswa Sang Buddha. Ketika mereka meninggalkan  Kapilavatthu,                    ibu kota kerajaan Sakya, mereka diiringi dengan  rombongan besar                    kereta, gajah dan sejumiah pelayan untuk melayani  mereka dalam                    perjalanan. Di perbatasan antara kerajaan Sakya dan  kerajaan                    Magadha, mereka mengirim seluruh kereta kembali ke  Kaplivatthu,                    dan yang tinggal bersama mereka hanyalah Upali, tukang  cukur                    mereka.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Di tepi hutan mereka menyuruh Upali untuk mencukur  rambut mereka.                    Kemudian mereka melepaskan baju mereka yang mewah,  perhiasan,                    lalu mengenakan jubah yang telah disiapkan. Mereka  memberikan                    baju dan perhiasan itu kepada Upali dan menyuruhnya  kembali                    ke Kapilavatthu. Upali mendapati dirinya sendirian  dengan barang-barang                    berharga di dekatnya. Dengan gemetar dipungutnya  barang-barang                    itu. Namun ia berpikir, kalau ia membawa pulang  barang-barang                    itu tentu orang-orang akan mencurigainya dan ia akan  dituduh                    mencuri barang-barang itu. Kemudian ia bertanya-tanya,  mengapa                    keenam bangsawan muda itu mau meninggalkan kehidupan  keduniawian                    untuk memasuki kehidupan suci. Ia teringat sabda Sang  Buddha,                    "Semua penderitaan di dunia ini lahir karena nafsu  keinginan.                    Bila nafsu keinginan tidak dilenyapkan, kedamaian  pikiran sulit                    dicapai".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Upali tidak lagi tertarik pada baju dan perhiasan  mewah itu,                    dan ia pun bergegas mengejar para bangsawan muda itu  untuk ikut                    pula menemui Sang Buddha. Mereka menjumpai Sang Buddha  di Anupiya                    dalam perjalanan ke Rajagaha. Mereka memohon kepada  Sang Buddha                    untuk diterima sebagai bhikkhu dan memohon agar Upali  dapat                    ditahbiskan terlebih dahulu agar mereka dapat  mengurangi kesombongan                    hati mereka dengan menjadikan Upali sebagai senior  mereka.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Dengan sikap rendah hati Upali selalu menerima apa  yang dikatakan                    orang dengan baik dan melakukan segala hal dengan  sungguh-sungguh,                    belajar dan melaksanakan semua aturan dengan baik  melebihi para                    bhikkhu lainnya. Pada suatu kali Upali memohon ijin  untuk tinggal                    di dalam hutan untuk melatih diri dalam meditasi.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Tetapi Sang Buddha menjawab, "Setiap orang mempunyai                     kemampuan sendiri-sendiri. Engkau tidak terlahir untuk  hidup                    dalam kesunyian di hutan. Bayangkanlah apabila  terdapat seekor                    gajah besar sedang mandi dengan gembira di sebuah  danau. Apa                    yang akan terjadi bila seekor kelinci atau kucing  melihat kegembiraan                    sang gajah, kemudian mencoba menyainginya dengan  melompat ke                    dalam air juga?"&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;                  YA Upali kemudian menyadari bahwa beliau harus tetap  berada                    dalam Sahgha, mengabdikan dirinya dalam peraturan dan  latihan,                    menjaga sila dan bertindak sebagai penuntun bagi bagi  bhikkhu-bhikkhu                    lainnya. Apabila menemui keragu-raguan sesedikit  apapun, beliau                    segera menanyakannya kepada Sang Buddha. Beliau  memegang teguh                    semua sila - mulai dari yang paling dasar yaitu tidak  membunuh,                    mencuri, melakukan tindakan asusila, berdusta, minum  minuman                    keras yang memabukkan – sedemikian baiknya sehingga  orang-orang                    mulai datang kepadanya untuk meminta nasihatnya.&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;                  Meskipun demikian tidak berarti YA Upali mengikuti  peraturan                    secara dogmatis. Beliau tahu bagaimana untuk membuat  pengecualian.                    Pada suatu kali beliau bertemu dengan seorang bhikkhu  tua yang                    sakit yang baru kembali dari perjalanan. Mendengar  bahwa sakit                    tersebut dapat diobati dengan meminum anggur, YA Upali  menemui                    Sang Buddha dan bertanya apa yang harus dilakukannya.  Sang Buddha                    berkata bahwa orang yang sakit dikecualikan dari  aturan yang                    melarang minum minuman yang diragi. YA Upali segera  memberikan                    anggur kepada bhikku itu, yang dengan demikian menjadi  sembuh                    dari sakitnya.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;YA Upali melaksanakan sila untuk kepentingan semua  bhikkhu                    dan untuk perbaikan Sangha. Beliau dihormati atas  caranya menyelesaikan                    perselisihan yang seringkali mengganggu Sangha.  Sesudah Sang                    Buddha mencapai Parinibbana, beliau memberikan  sumbangan yang                    sangat besar dalam melestarikan Ajaran Sang Buddha  dengan mengulang                    Vinaya (peraturan kebhikkhuan) dalam Sidang Agung yang  diselenggarakan                    di bawah pimpinan YA Maha Kassapa. Ketika pertemuan  dibuka,                    YA Maha Kassapa berkata, "Para Bhante yang terhormat,  harap                    Sangha mendengarkan apa yang akan aku ucapkan. Kalau  Sangha                    menganggap baik, aku akan mulai mengajukan  pertanyaan-pertanyaan                    kepada bhikkhu Upali mengenai Vinaya".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;YA Upali menjawab, "Para Bhante yang terhormat, harap                     Sangha mendengarkan apa yang akan aku ucapkan. Kalau  Sangha                    menganggap baik, aku akan menjawab  pertanyaan-pertanyaan mengenai                    Vinaya yang akan diajukan oleh Ayasma Maha Kassapa".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Kemudian YA Maha Kassapa bertanya, "Bhikkhu Upali, di                     mana ditetapkannya pelanggaran Parajika yang pertama?"&lt;br /&gt;                  "Di Vesali, Bhante"&lt;br /&gt;                  "Mengenai siapa?"&lt;br /&gt;                  "Mengenai bhikkhu Sudinna dari desa Kalandaka"&lt;br /&gt;                  ... &lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Demikianlah ditanyakan tentang pokok persoalannya,  asal mulanya                    dan tentang orang-orang yang terlibat, apa yang  ditetapkan dan                    apa yang kemudian ditambahkan. Kemudian ditanyakan  tentang apa                    yang dianggap sebagai pelanggaran dan apa yang  dianggap sebagai                    bukan pelanggaran. Ditanyakan pula tentang  peraturan-peraturan                    yang lain, baik yang berlaku untuk para bhikkhu maupun  untuk                    para bhikkhuni. Demikianlah semua pertanyaan dijawab  oleh YA                    Upali dengan terang dan jelas sehingga Vinaya dapat  terulang                    kembali dengan benar untuk dilestarikan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1410065763245134508?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1410065763245134508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1410065763245134508&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1410065763245134508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1410065763245134508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/yang-ariya-upali.html' title='YANG ARIYA UPALI'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-313495273638492472</id><published>2010-03-22T04:13:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T04:14:21.394-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='YANG ARIYA SARIPUTTA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siswa-Siswa Utama Sang Buddha'/><title type='text'>YANG ARIYA SARIPUTTA</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;" class="Judul1"&gt;Terkemuka dalam Kebijaksanaan&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada suatu pagi Sariputta melihat YA Assaji, salah  seorang                    bhikkhu siswa pertama Sang Buddha sedang menerima dana  makanan                    di Rajagaha. Ia sangat terkesan melihat penampilan YA  Assaji                    yang damai dan agung. Ia berpikir bahwa pastilah  bhikkhu itu                    telah mencapai arahat. Ketika YA Assaji selesai makan,  ia mendekati                    dan memberi salam untuk kemudian bertanya siapakah  guru beliau                    dan ajaran apakah yang diajarkan oleh gurunya itu. YA  Assaji                    memberi tahukan bahwa gurunya adalah Sang Buddha  Gotama dan                    bahwa beliau tidak dapat menerangkan ajaran tersebut  secara                    panjang lebar karena belum lama menjadi bhikkhu tetapi  dapat                    menjelaskan artinya secara singkat. Kemudian beliau  mengucapkan                    syair berikut:&lt;/p&gt;                              &lt;blockquote&gt;                  &lt;div align="justify"&gt;                    &lt;p&gt;"Ye dhamma hetuppabhava,&lt;br /&gt;                    Tesam hetum tathagato aha;&lt;br /&gt;                    Tesañca yo nirodho ca&lt;br /&gt;                    Evam vadi mahasamano"&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;"&lt;em&gt;Semua benda timbul karena suatu sebab,&lt;br /&gt;                    'Sebab' itu telah diberitahukan oleh Sang Tathagata;&lt;br /&gt;                    Dan juga lenyapnya&lt;br /&gt;                    Demikianlah yang diajarkan oleh&lt;br /&gt;                    Sang Petapa Agung&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt;                 &lt;/div&gt;                 &lt;/blockquote&gt;               &lt;div align="justify"&gt;                 &lt;p&gt;Mendengar syair tersebut, Sariputta memperoleh Mata  Dhamma                    (Dhammacakkhu) dan menjadi seorang Sotapanna (orang  yang mencapai                    tingkat kesucian pertama).&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Sariputta terlahir di desa Upatissa dekat Rajagaha.  Karena                    ia adalah anak tertua dari keluarga utama di desa itu,  nama                    pribadinya menjadi Upatissa. Ayahnya adalah seorang  Brahmana                    bernama Vanganta dan ibunya bernama Rupasari, oleh  karena itulah                    ia dikenal pula sebagai Sariputta (putera dari Sari).  Ia mempunyai                    tiga adik laki-laki dan tiga adik perempuan, yang  kesemuanya                    di kemudian hari memasuki Sangha. Sejak kecil  Sariputta sudah                    memperlihatkan kepandaian yang istimewa. Mula-mula ia  belajar                    kepada ayahnya yang mempunyai pandangan yang bijaksana  dalam                    pengetahuan-nya sebagai seorang Brahmana. Ia  mempelajari Veda                    (Kitab Suci Agama Hindu). Pada usia delapan tahun ia  mulai belajar                    dengan seorang guru, dan pada usia enam belas tahun ia  sudah                    terkenal di daerah tempat tinggalnya.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada hari kelahirannya, terlahir pula seorang anak  laki-laki                    di desa Kolita, sehingga anak itu disebut Kolita.  Ayahnya adalah                    kepala desa dan ibunya adalah seorang Brahmana bernama  Moggali                    sehingga anak itu disebut pula sebagai Moggallana.  Upatissa                    dan Moggallana berteman sejak masa kanak-kanak mereka.  Mereka                    bersama-sama pula menikmati kesenangan hidup. Sampai  pada suatu                    ketika mereka menyadari bahwa pada akhirnya semua  manusia akan                    mengalami kematian. Oleh karena itulah keduanya  bersepakat,                    untuk meninggalkan hidup keduniawian untuk mencari  jalan yang                    dapat membebaskan diri dari kematian. &lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Mereka kemudian pergi untuk berguru kepada seorang  guru terkenal                    saat itu yang bernama Sañjaya. Karena kemampuannya  yang                    luar biasa, Sariputta dan Moggallana segera diakui  sebagai murid                    yang utama diantara murid-murid lainnya. Tetapi  meskipun mereka                    telah menguasai semua ajaran yang diberikan oleh  Sañjaya,                    mereka belum juga menemukan jalan pembebasan yang  dicari. Mereka                    kemudian berjanji bahwa siapa di antara mereka yang  kelak lebih                    dulu memperoleh Ajaran Sempurna akan memberitahukan  hal itu                    kepada lainnya.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Maka segera setelah Sariputta bertemu dengan YA  Assaji, beliau                    menemui Moggallana dan menyampaikan peristiwa yang  dialaminya                    dan mengulangi syair yang diucapkan oleh YA Assaji.  Seketika                    itu pula Moggallana memperoleh Mata Dhamma dan menjadi  seorang                    Sotapanna. Kemudian mereka menyampaikan hal ini kepada  Sañjaya.                    Namun Sañjaya menolak untuk pergi bersama mereka  menemui                    Sang Buddha. Keduanya lalu pergi bersama dua ratus  lima puluh                    murid Sañjaya ke Vihara Veluvana untuk menemui Sang  Buddha.                    Mereka memohon penahbisan dan Sang Buddha menerima  mereka ke                    dalam Sangha dengan kata-kata "Ehi Bhikkhu".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Tujuh hari setelah ditahbiskan, Moggallana mencapai  tingkat                    Arahat (tingkat kesucian tertinggi) setelah mendapat  petunjuk                    dari Sang Buddha. Lima belas hari setelah ditahbiskan,  Sariputta                    berdiam bersama Sang Buddha di gua Sukarakhta di  gunung Gijjhakuta                    (Puncak Burung Nasar) di kota Rajagaha. Seorang petapa  Paribbajaka                    bernama Dighanakha dari keluarga Aggivesana pada suatu  hari                    menghampiri Sang Buddha dan bertanya kepada Sang  Buddha. Sang                    Buddha kemudian mengkhotbahkan Vedanapariggha kepada  petapa                    tersebut. Mendengar sutta itu Sariputta pun menjadi  seorang                    Arahat (orang yang mencapai kesucian tertinggi). &lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;YA Sariputta dan YA Moggallana merupakan siswa-siswa  yang mulia                    dan termashyur, merupakan Siswa Kepala (Aggisavaka)  yang membantu                    Sang Buddha dalam menyampaikan Ajaran kepada dunia. &lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Dalam suatu pertemuan para bhikkhu Sang Buddha  menyatakan bahwa                    YA Sariputta adalah siswa yang terkemuka dalam  kebijaksanaan,                    dan YA Moggallana adalah yang terkemuka dalam kekuatan  gaib.                    Dalam hal kebijaksanaan, YA Sariputta adalah yang  kedua setelah                    Sang Buddha. Beliau sangat ahli dalam mengajarkan  tentang sebab                    akibat, Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Utama  Berunsur Delapan.                    Beliau amat pandai menguraikan dengan terinci intisari  Ajaran                    Sang Buddha kepada orang lain. Sang Buddha pernah  bersabda "Bila                    kamu meninggalkan kehidupan keduniawian dan menjadi  bhikkhu,                    kamu harus seperti Sariputta dan Moggallana.  Berusahalah untuk                    mendekati dan meminta mereka untuk mengajarimu".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Meskipun YA Sariputta dikenal sebagai Siswa Kepala,  beliau                    tidak mementingkan diri sendiri. Beliau adalah  seseorang yang                    tahu berterima kasih, rendah hati, penuh belas kasihan  dan sabar.                    Beliau senang mengunjungi bhikkhu-bhikkhu lain yang  sakit. Ketika                    bhikkhu-bhikkhu lain sedang melakukan pindapata,  beliau mengelilingi                    seluruh bangunan vihara, menyapu tempat-tempat yang  belum tersapu,                    mengisi saluran-saluran yang kosong dengan air,  mengatur perabotan                    dan sebagainya. Khotbahnya, Sangiti Sutta dan  Dasuttara Sutta                    adalah permulaan dari cita-citanya mengulangi Ajaran  Sang Buddha                    untuk menjaga dan mempertahankan kemurniannya dan agar  ajaran                    itu tetap terlindung. Apabila Sang Buddha adalah  Dhammaraja                    (Raja dari Ajaran), maka YA Sariputta adalah  Dhammasenapati                    (Panglima dari Ajaran).&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Ketika Sang Buddha mengunjungi kerajaan Sakya,  Rahula, putra-Nya                    meminta harta kepadanya. Untuk memberi harta yang  agung kepada                    Rahula, Sang Buddha meminta YA Sariputta untuk  menahbiskan Rahula.                    YA Sariputta menjadi Upajjhaya dari Rahula sedangkan  YA Moggallana                    menjadi Acariya bagi Rahula. Ketika Sang Buddha  mengkhotbahkan                    Abhidhamma kepada ibunya dan dewa-dewa di surga  Tavatimsa, YA                    Moggallana tinggal bersama orang-orang yang menunggu  kembalinya                    Sang Buddha. Sementara itu, setiap hari pertama Sang  Buddha                    pergi ke danau Anottata untuk mandi dan istirahat  siang, YA                    Sariputta mengunjungi Sang Buddha dan mempelajari  semua yang                    telah dikhotbahkan. Setelah itu beliau mengajarkannya  kepada                    lima ratus siswanya.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada saat Devadatta menimbulkan perpecahan di antara  para bhikkhu                    dan membawa lima ratus bhikkhu yang baru ditahbiskan  ke Gayasisa,                    Sang Buddha mengirim kedua Siswa Kepala untuk membawa  mereka                    kembali. Mereka berhasil melaksanakan tugas tersebut  dan kembali                    kepada Sang Buddha bersama kelima ratus bhikkhu itu.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Kurang lebih enam bulan sebelum Sang Buddha wafat, YA  Sariputta                    merasa bahwa akhir hidupnya telah menjelang. Beliau  memohon                    ijin kepada Sang Buddha untuk mencapai Parinibbana  (wafat).                    Setelah diijinkan, YA Sariputta pulang ke desa Nalaka  yang merupakan                    tempat kelahirannya. Para dewa dan Brahma  mengunjunginya sehingga                    membuat ibunya takjub karena Brahma yang dipujanya  ternyata                    menghormati putranya. Pada saat itulah YA Sariputta  mengajarkan                    Dhamma kepada ibunya dan membuatnya yakin kepada Sang  Tiratana.                    Kepada seorang bhikkhu yang ikut bersamanya beliau  berkata,                    "Saya telah bersama-sama denganmu selama lebih dari  empat                    puluh tahun. Kalau saya mempunyai kesalahan,  maafkanlah saya."                    Itulah kata-katanya yang terakhir. Malam itu beliau  merebahkan                    dirinya di tempat tidur dan dengan tenang mencapai  Parinibbana                    (wafat). Relik beliau dibawa ke Savatthi dan Sang  Buddha memerintahkan                    membuat cetiya untuk menyimpan relik tesebut.&lt;/p&gt;               &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-313495273638492472?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/313495273638492472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=313495273638492472&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/313495273638492472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/313495273638492472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/yang-ariya-sariputta_22.html' title='YANG ARIYA SARIPUTTA'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-8386727284389041231</id><published>2010-03-21T02:53:00.000-07:00</published><updated>2010-03-21T02:54:33.624-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='YANG ARIYA ANURUDDHA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siswa-Siswa Utama Sang Buddha'/><title type='text'>YANG ARIYA ANURUDDHA</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;" class="Judul1"&gt;Terkemuka dalam Mata Dewa&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Sesaat sebelum mencapai Parinibbana, Sang Buddha  menyampaikan                    kata-kata terakhir Beliau, "O Bhikkhu dengarkanlah  baik-baik                    nasihatku : Segala sesuatu yang terdiri atas paduan  unsur-unsur                    akan hancur kembali. Karena itu berjuanglah dengan  sungguh-sungguh".                    Setelah itu Sang Buddha memasuki Jhana kesatu, lalu  Jhana kedua,                    ketiga, keempat. Kemudian memasuki keadaan 'Ruang Tak  Terbatas',                    kemudian 'Kesadaran Terbatas', keadaan 'Kosong',  keadaan 'Bukan                    Pencerapan pun Bukan Pencerapan' kemudian mencapai  'Penghentian                    Pencerapan dan Perasaan'.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Pada saat itulah YA Ananda berkata kepada Anuruddha,  "Bhante,                    Sang Bhagava telah Parinibbana!" Tetapi YA Anuruddha  menjawab,                    "Belum, Avuso Ananda. Sang Bhagava belum Parinibbana.  Beliau                    sekarang berada dalam keadaan 'Penghentian Pencerapan  dan Perasaan'                    ".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Kemudian Sang Buddha bangun dari keadaan  'Penghentian Pencerapan                    dan Perasaan' lalu memasuki keadaan yang telah  dijalaninya dengan                    urutan sebaliknya sampai kembali ke Jhana kesatu. Dari  Jhana                    kesatu, Beliau kembali memasuki Jhana kedua, ketiga  dan keempat.                    Keluar dari Jhana keempat Sang Buddha segera  mengakhiri hidupnya                    dan mencapai Parinibbana.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Ketika Sang Buddha mencapai Parinibbana, YA Anuruddha  mengucapkan                    syair berikut,&lt;/p&gt;                              &lt;blockquote&gt;                 &lt;div align="justify"&gt;" &lt;em&gt;Dengan tiada pergerakan  napas,&lt;br /&gt;                  tetapi dengan keteguhan hati,&lt;br /&gt;                  Bebas dari keinginan dan tenang,&lt;br /&gt;                  Demikianlah Sang Petapa mengakhiri hidupnya,&lt;br /&gt;                  Tak gentar menghadapi saat mautnya,&lt;br /&gt;                  Batinnya memperoleh kebebasan,&lt;br /&gt;                  Bagaikan api lampu yang padam&lt;/em&gt;".&lt;/div&gt;               &lt;/blockquote&gt;               &lt;div align="justify"&gt;                 &lt;p&gt; YA Anuruddha terlahir sebagai saudara sepupu Sang  Buddha,                    putera dari Amitodana. Mempunyai saudara kandung  bernama Mahanama                    dan merupakan saudara satu ayah lain ibu dari Ananda.  Wajahnya                    tampan, alisnya lurus dan bentuk hidungnya bagus, ahli  dalam                    seni bela diri dan olahraga. Orangtuanya amat  menyayanginya                    dan memberinya rumah untuk tiap musim, satu untuk  musim panas,                    satu musim dingin dan satu untuk musim hujan,  sebagaimana yang                    diperoleh Pangeran Siddhattha dari orang tuanya. Di  dalam tiap                    rumah yang dibangun untuk Anuruddha terdapat banyak  pelayan                    yang selalu siap melayaninya. &lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Kedatangan Sang Buddha ke Kapilavatthu membuat banyak  orang                    tertarik akan ajaran Sang Buddha dan banyak di antara  mereka                    yang meninggalkan hidup keduniawian dan menjadi  bhikkhu. Dalam                    keluarga Anuruddha belum ada yang menjadi bhikkhu.  Oleh karena                    itu Mahanama mengusulkan agar salah satu dari mereka  untuk menjadi                    bhikkhu, karena apabila keduanya menjadi bhikkhu maka  tidak                    ada lagi yang memelihara garis keturunan keluarga.&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;                  Anuruddha yang terbiasa hidup dalam kemewahan merasa  sulit untuk                    hidup sebagai bhikkhu, namun Mahanama membujuknya  dengan menunjukkan                    kesukaran kehidupan sebagai perumah tangga, dan  pekerjaan dalam                    pertanian yang tiada habisnya. Anuruddha meminta ijin  dari ibunya                    untuk menjadi bhikkhu. Ibunya yang amat menyayanginya  mula-mula                    menolak memberi ijin, akhirnya memberi ijin dengan  syarat sepupunya                    Bhaddiya, Raja Sakya yang menggantikan Raja Suddhodana  yang                    telah mangkat, juga mengikutinya menjadi bhikkhu.  Ibunya berpikir                    bahwa tidak mungkin Bhaddiya akan meninggalkan  tugasnya sebagai                    raja untuk menjadi bhikkhu.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Bhaddiya berkata bahwa ia mau menemani Anuruddha  menjadi bhikkhu                    asalkan Anuruddha mau menunggu tujuh tahun lagi. Atas  desakan                    Anuruddha, masa menunggu itu dipersingkat menjadi enam  tahun,                    lima tahun, empat tahun, sampai satu tahun. Akhirnya  Bhaddiya                    berjanji untuk melaksanakan hal itu tujuh hari lagi  setelah                    ia menyerahkan tugasnya kepada anak dan saudaranya.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Anuruddha kemudian mengajak pula Ananda, Bhagu,  Kimbila dan                    Devadatta untuk menjadi bhikkhu. Agar tidak dicurigai,  mereka                    pergi ke taman seolah-olah akan berolahraga dengan  membawa pula                    tukang cukur mereka yang bernama Upali. Di tengah  perjalanan                    mereka menyuruh para pengiring pulang, dan kemudian  melepaskan                    baju dan perhiasan yang dipakai untuk dibawa pulang  oleh Upali.                    Tetapi Upali yang merasa takut akan kemarahan orang  Sakya bila                    membawa pulang barang-barang itu, akhirnya mengikuti  mereka                    untuk menjadi bhikkhu. Mereka bertemu dengan Sang  Buddha di                    Anupiya dalam perjalanan ke Rajagaha. Mereka memohon  kepada                    Sang Buddha agar Upali ditahbiskan terlebih dahulu  agar mereka                    dapat mengurangi rasa kesombongan mereka karena dengan  demikian                    selanjutnya mereka harus menghormati Upali sebagai  bhikkhu yang                    lebih senior.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Bhaddiya kemudian mencapai tiga pengetahuan dan  menjadi Arahat.                    Ananda mencapai tingkat kesucian Sotapanna. Devadatta  memperoleh                    kesaktian yang dapat dicapai oleh manusia biasa.  Bhagu, Kimbila                    dan Upali pun kemudian mencapai tingkat Arahat.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Anuruddha yang terbiasa hidup nyaman dan dilayani  oleh banyak                    pelayan kini harus mengenakan jubah kasar, berkeliling  menerima                    dana makanan, tidur di alam terbuka dan menjalani  aturan yang                    keras. Dengan tekadnya yang kuat, ia dapat terbiasa  dengan kehidupan                    sebagai bhikkhu namun merasa amat lelah dalam  melaksanakan latihan-latihan                    itu.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Pada suatu kali ketika Anuruddha dan bhikkhu-bhikkhu  lainnya                    sedang berkumpul di vihara Jetavana mendengarkan  khotbah Sang                    Buddha, ia merasa sangat mengantuk dan tertidur. Ia  terbangun                    ketika Sang Buddha menyebut namanya dan menyapanya  dengan beberapa                    perkataan. Setelah khotbah selesai, dengan rasa malu  Anuruddha                    menyampaikan rasa penyesalannya kepada Sang Buddha dan  bertekad                    untuk tidak lagi tertidur pada saat mendengarkan  khotbah Sang                    Buddha. Sejak saat itu Anuddha tidak pernah memejamkan  mata                    walaupun di malam hari.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Dengan latihannya Anuruddha memperoleh mata dewa,  yaitu kemampuan                    untuk melihat timbul lenyapnya makhluk-makhluk di alam  semesta                    ini. Kemudian beliau mencapai tingkat kesucian  tertinggi yaitu                    Arahat. Namun latihan yang keras demikian  menyebabkannya gangguan                    pada matanya sehingga tidak dapat melihat. Ketika  diminta oleh                    Sang Buddha agar beliau tidur untuk memulihkan  penglihatan matanya                    sesuai dengan anjuran dokter, beliau menjawab,  "Bhante,                    dengan bertekad untuk tidak tidur saya dapat mengatasi  semua                    penderitaan. Bagaimana saya dapat melepaskan tekad itu  ?"&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;YA Anuruddha hadir pada saat Sang Buddha mencapai  Parinibbana                    dan berperan pula dalam Sidang Agung Sangha yang  diadakan setelah                    Sang Buddha Parinibbana. Beliau dengan para bhikkhu  lainnya                    mendesak YA Ananda untuk melatih diri dengan  sungguh-sungguh                    sehingga dapat mencapai tingkat Arahat pada Sidang  Agung tersebut.                    YA Anuruddha mencapai Parinibbana (wafat) di desa  Veluva dari                    Vajjian di bawah kerimbunan pohon bambu.&lt;/p&gt;               &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-8386727284389041231?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/8386727284389041231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=8386727284389041231&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/8386727284389041231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/8386727284389041231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/yang-ariya-anuruddha.html' title='YANG ARIYA ANURUDDHA'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-3571438488307090428</id><published>2010-03-21T02:51:00.001-07:00</published><updated>2010-03-21T02:51:58.008-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='YANG ARIYA MAHA KASSAPA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siswa-Siswa Utama Sang Buddha'/><title type='text'>YANG ARIYA MAHA KASSAPA</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;" class="Judul1"&gt;Terkemuka dalam Pelaksanaan Latihan Keras&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Setelah Sang Buddha mencapai Parinibbana, maka badan  jasmani                    beliau disiapkan untuk diperabukan. Empat orang dari  suku Malla,                    setelah membersihkan diri dan mengenakan baju baru  akan menyalakan                    api untuk perabuan jenazah Sang Buddha. Berkali-kali  mereka                    mencoba tapi tidak berhasil sehingga mereka menanyakan  hal itu                    kepada YA Anuruddha. Beliau memberitahukan bahwa hal  itu tidak                    berhasil karena para dewa mempunyai maksud lain yaitu  hendaknya                    api jangan dinyalakan terlebih dahulu sebelum YA Maha  Kassapa                    yang sedang dalam perjalanan menuju tempat itu memberi  hormat                    di kaki Sang Buddha.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Saat itu YA Maha Kassapa dan para bhikkhu  rombongannya yang                    sedang mengadakan perjalanan dari Pava ke Kusinara  bertemu dengan                    Petapa Ajivika. Petapa itu membawa bunga Mandarava  yang dibawanya                    dari tempat wafatnya Sang Buddha di Kusinara. Dari  petapa itu                    YA Maha Kassapa mengetahui berita wafatnya Sang  Buddha. Mendengar                    berita itu para bhikkhu yang belum mencapai tingkat  Arahat atau                    Anagami merasa sangat sedih, meratap dan menangis. Di  antara                    mereka terdapat seorang bhikkhu tua bernama Subhadda  yang baru                    memasuki kebhikkhuan pada usia lanjut. Ia berkata,  "Cukup                    kawan-kawan, janganlah sedih atau meratap. Kita  sekarang terbebas                    dari Sang Buddha. Kita telah dipersulit oleh kata-kata  Sang                    Buddha 'Ini boleh, ini tidak boleh'. Kini kita bebas  untuk berbuat                    apa yang kita sukai". Kata-kata itu membuat YA Maha  Kassapa                    berpikir bahwa beliau harus mengadakan pertemuan para  Arahat                    untuk melindungi dan menjaga kemurnian Ajaran Sang  Buddha.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Setelah sampai di tempat Sang Buddha akan diperabukan  dan YA                    Maha Kassapa beserta rombongannya selesai memberi  penghormatan                    dengan tiba-tiba api menyala dengan sendirinya  membakar jenazah                    Sang Buddha.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;YA Maha Kassapa terlahir sebagai putera tunggal  Brahmana Kapila                    dan isterinya Sumanadevi. Ia diberi nama Pipphali dan  hidup                    dalam kemewahan. Setelah dewasa orang tuanya  menyuruhnya menikah.                    Pipphali menolak dengan berkata, "Selama ayah dan ibu  masih                    hidup, saya akan merawat ayah dan ibu. Setelah itu  saya akan                    meninggalkan hidup keduniawian". Karena orang tuanya  mendesak                    terus untuk menikah, akhirnya ia membuat sebuah  lukisan dan                    menyatakan bahwa ia akan menikah apabila ditemukan  seorang gadis                    secantik gadis dalam lukisannya itu. Banyak orang  dikirim untuk                    mencari gadis seperti lukisan itu. Di kota Sagaala  mereka bertemu                    dengan Bhadda Kapilani yang sesuai dengan lukisan itu  dan juga                    belum mau menikah. Akhirnya Pipphali dan Bhadda  Kapilani menikah                    mau dan hidup bersama sampai orang tua Pipphali  meninggal dunia.                  &lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada suatu hari setelah kematian orangtuanya,  Pipphali dan                    Bhadda Kapilani memutuskan untuk meninggalkan hidup  keduniawian.                    Mereka mengenakan jubah kuning, memotong rambut,  membawa mangkuk,                    dan pergi dari rumah bersama-sama. Tetapi karena  merasa tidak                    pantas berjalan bersama, mereka bersepakat untuk  berpisah di                    persimpangan jalan, Pipphali menuju ke arah kiri dan  Bhadda                    Kapilani menuju ke arah kanan.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Dalam perjalanan antara Rajagaha dan Nalanda,  Pipphali melihat                    Sang Buddha sedang duduk di kaki pohon Bahuputtika  Banyan. Ia                    mendekati Sang Buddha dan duduk di satu sisi serta  mohon diterima                    sebagai murid. Sang Buddha mentahbiskannya dengan  memberikan                    tiga nasihat, "O Kassapa, engkau harus selalu ingat  bahwa                    pertama, engkau harus hidup sederhana dan patuh kepada  bhikkhu                    yang tua, yang muda dan yang setengah tua. Kedua,  engkau harus                    mendengarkan Dhamma dengan baik, memperhatikannya dan  merenungkannya.                    Ketiga, engkau harus selalu menyadari dan  memperhatikan tubuhmu                    dan terus menerus mengambil tubuhmu sebagai obyek  meditasi".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada perjalanan kembali ke Rajagaha, Kassapa mohon  untuk menukar                    jubahnya yang baru dengan jubah Sang Buddha yang sudah  tua.                    Merasa merupakan kehormatan besar baginya untuk dapat  memakai                    jubah Sang Buddha, maka Kassapa memutuskan untuk  melaksanakan                    latihan Dhutanga. Delapan hari kemudian mencapai  tingkat kesucian                    Arahat. Sedangkan Bhadda Kapilani menuju ke sebuah  vihara di                    Titthiyas dekat Jetavana. Ia tinggal di sana selama  enam tahun.                    Kemudian setelah Maha Pajapati Gotami diijinkan untuk  menerima                    penahbisan sebagai bhikkhuni, ia pun memasuki Sangha  Bhikkhuni.                    Tak lama kemudian ia mencapai tingkat kesucian Arahat  dan merupakan                    siswa yang terkemuka di antara para bhikkhuni yang  dapat mengingat                    kehidupan-kehidupan yang lampau.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; YA Kassapa sering dijadikan suri teladan tentang  sikap yang                    baik dari seorang bhikkhu yang berdiam di hutan.  Selama hidupnya                    menjadi bhikkhu, beliau selalu tinggal di hutan, tiap  hari mengumpulkan                    dana makanan, selalu memakai jubah bekas (pembungkus  mayat),                    puas dengan pemberian yang sedikit, selalu hidup  menjauhi masyarakat                    ramai dan terkenal sangat rajin. Menjawab pertanyaan  mengapa                    beliau menuntut penghidupan yang demikian keras,  beliau mengatakan                    bahwa hal itu dilakukannya bukan hanya untuk  kebahagiaan dirinya                    sendiri, tetapi juga untuk kebahagiaan orang lain di  kelak kemudian                    hari. Beliau merupakan contoh yang sangat baik bagi  orang-orang                    yang ingin menuntut kehidupan suci. Sebagai  penghormatan beliau                    diberi nama Maha Kassapa (Kassapa Agung). Dalam suatu  pertemuan                    para bhikkhu dan bhikkhuni, Sang Buddha menyatakan  bahwa YA                    Maha Kassapa adalah siswa yang terkemuka di antara  mereka yang                    melakukan latihan yang keras.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Setelah upacara perabuan jenazah Sang Buddha  selesai, YA Maha                    Kassapa menceritakan ucapan Bhikkhu Subhadda kepada  para bhikkhu                    lainnya. Beliau berkata bahwa seharusnyalah diadakan  pengulangan                    Dhamma dan Vinaya. Hal itu disetujui oleh para bhikkhu  lainnya.                    Tiga bulan kemudian diadakanlah Sidang Agung  (Sangha-samaya)                    yang pertama di gua Sattapanni di Rajagaha dengan  bantuan dan                    perlindungan Raja Ajatasattu yang dihadiri oleh lima  ratus Arahat.                    Sidang itu dipimpin oleh YA Maha Kassapa. Sidang itu  mengulang                    semua peraturan Vinaya untuk para bhikkhu dan  bhikkhuni serta                    semua khotbah Sang Buddha yang diberikan di  tempat-tempat berlainan,                    kepada orang-orang berlainan dan pada waktu berlainan  selama                    empat puluh lima tahun. Sidang berakhir setelah tujuh  bulan                    bekerja keras.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Bagi para bhikkhu yang baru saja kehilangan Sang  Buddha, YA                    Maha Kassapa dianggap sebagai bhikkhu yang dijadikan  panutan.                    Hal ini tidak mengherankan karena beliau merupakan  salah satu                    siswa utama yang masih hidup setelah wafatnya Sang  Buddha dan                    merupakan bhikkhu yang sangat dihormati karena  kesungguhannya                    dalam melaksanakan latihan yang keras. Selain itu  beliau merupakan                    satu-satunya bhikkhu yang pernah bertukar jubah dengan  Sang                    Buddha dan memiliki tujuh tanda dari tiga puluh dua  tanda Manusia                    Agung yang dimiliki Sang Buddha. Beliau hidup sampai  usia yang                    sangat lanjut dan mencapai Parinibbana pada usia  seratus dua                    puluh tahun.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-3571438488307090428?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/3571438488307090428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=3571438488307090428&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/3571438488307090428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/3571438488307090428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/yang-ariya-maha-kassapa.html' title='YANG ARIYA MAHA KASSAPA'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1123420182286339439</id><published>2010-03-20T09:12:00.001-07:00</published><updated>2010-03-20T09:13:02.352-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='YANG ARIYA MOGGALLANA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siswa-Siswa Utama Sang Buddha'/><title type='text'>YANG ARIYA MOGGALLANA</title><content type='html'>&lt;p class="Judul1"&gt;Terkemuka dalam Kekuatan Gaib&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Setelah memperoleh kekuatan gaib setelah berlatih  dengan tekun                    di bawah bimbingan Sang Buddha, YA Moggallana  menggunakan kekuatannya                    itu untuk mencari di mana ibunya terlahir kembali dan  mencoba                    untuk membalas budi kepada ibu yang mengasuhnya hingga  dewasa.                    Setelah menyelidiki, ditemukanlah bahwa ibunya  terlahir kembali                    di alam neraka dan amat menderita. Melihat hal itu, YA  Moggallana                    segera menggunakan kekuatan gaibnya mengirimkan  makanan kepada                    ibunya. Tetapi pada saat ibunya mencoba memasukkan  makanan ke                    mulutnya, makanan itu terbakar menjadi nyala api dan  menyebabkan                    penderitaan yang lebih hebat dari sebelumnya.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Merasa iba dengan keadaan ibunya itu, YA Moggalana  bertanya                    kepada Sang Buddha apa yang harus dilakukannya untuk  menolong                    ibunya. Sang Buddha bersabda, "Kekuatanmu sendiri  tidak                    mampu untuk mengatasi akibat perbuatan buruk yang  telah dilakukan                    ibumu. Kamu harus memberi persembahan kepada para  bhikkhu dan                    meminta mereka untuk mendoakan ibumu. Doa mereka akan  dapat                    membebaskan ibumu dari neraka". YA Moggallana  melaksanakan                    apa yang disampaikan oleh Sang Buddha, dan jasa  perbuatan baik                    yang dilakukannya dengan memberikan persembahan kepada  para                    bhikkhu untuk dilimpahkan kepada ibunya dan untuk  membebaskan                    ibunya dari alam neraka.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; YA Moggallana terlahir di desa Kolita di Rajagaha,  berdekatan                    dengan desa Nalaka tempat kelahiran YA Sariputta.  Sejak kecil                    keduanya merupakan sahabat akrab dan saling  menghormati satu                    sama lain. Keluarga Moggallana merupakan keluarga  Brahmana penasihat                    raja, tinggal di sebuah rumah besar yang dapat  dibandingkan                    dengan istana raja di Rajagaha. Setelah berdiskusi  dengan Sariputta,                    Moggallana memutuskan untuk meninggalkan kehidupan  duniawi.                    Pada mulanya keluarganya menolak dengan keras karena  keluarganya                    menaruh harapan besar kepada Moggallana yang mempunyai  kemampuan                    luar biasa. Namun akhirnya mereka mengijinkan karena  menyadari                    tekad Moggallana yang kuat dan keputusannya yang  mantap. Moggallana                    bersama Sariputta berguru kepada Sañjaya, dan kemudian                     datang kepada Sang Buddha untuk menjadi siswa Sang  Buddha dan                    memasuki Sangha.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Tujuh hari setelah ditahbiskan menjadi bhikkhu,  Moggallana                    pergi menyepi di desa Kallavalamuttagama untuk melatih  diri                    dengan sungguh-sungguh dalam meditasi. Ketika suatu  kali beliau                    merasa mengantuk dan kehilangan semangat, Sang Buddha  menampakkan                    diri di hadapannya dan memberi petunjuk sehingga  Moggallana                    dapat mengatasi perasaan itu. Dengan melaksanakan  petunjuk itu                    Moggallana berhasil mencapai tingkat Arahat hari itu  juga. Karena                    pengabdiannya yang besar kepada Sang Buddha, YA  Moggallana mempunyai                    kemampuan untuk melihat wajah dan mendengar suara Sang  Buddha                    tidak masalah berapapun jauhnya jarak yang memisahkan  mereka.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Pada suatu ketika Sang Buddha pergi ke Vihara  Jetavana meninggalkan                    Ya Sariputta dan YA Moggallana di Vihara Hutan Bambu.  Suatu                    hari YA Moggallana menemui YA Sariputta dan berkata  bahwa beliau                    baru saja berbicara dengan Sang Buddha. Dengan takjub  YA Sariputta                    bertanya, "Bagaimana caranya anda berbicara dengan  Beliau                    yang berada sangat jauh, melewati sungai dan gunung,  di Vihara                    Jetavana?" YA Moggallana menjawab bahwa dengan  kekuatan                    gaibnya beliau dapat berbicara dengan Sang Buddha dan  Sang Buddha                    menguraikan ajaran kepadanya. Mendengar hal itu, YA  Sariputta                    berkata bengan kagum, "Sahabatku, kita semua harus  menghormatimu,                    dekat denganmu, dan berusaha keras untuk menjadi  seperti dirimu,                    bagaikan batu kecil yang menyerupai Gunung Himalaya  yang amat                    tinggi."&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; YA Moggallana pun amat menghormati YA Sariputta.  Pada suatu                    kesempatan, mendengar YA Sariputta menjelaskan dengan  sangat                    fasihnya tentang Empat Jalan untuk Kebebasan, YA  Moggallana                    berkata dengan penuh kekaguman, "Sahabatku, ajaranmu  bagaikan                    makanan untuk mereka yang lapar, dan bagaikan minuman  untuk                    mereka yang haus." Sang Buddha memuji mereka dengan  menyatakan,                    "Sariputta bagaikan seorang ibu yang melahirkan dengan                     membangunkan pikiran untuk mencari jalan kebebasan.  Moggallana                    bagaikan pengasuh yang merawat si anak untuk  mengembangkan pikiran                    kebebasan. Semua bhikkhu yang melatih diri hendaklah  mengambil                    kedua siswaKu sebagai contoh dan berjuang untuk  menyamai mereka                    untuk mencapai kesempurnaan diri sendiri".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Dengan kekuatan gaibnya YA Moggallana sering  mengunjungi surga                    dan alam lain serta membawa berita dari orang yang  sudah meninggal                    dunia. Beliau mengunjungi Dewa Sakka di alam surga,  bahkan Dewa                    Brahma Baka di alam Brahma, dan banyak orang penting  dan membuat                    mereka yakin akan ajaran Sang Buddha. Dengan kekuatan  gaibnya                    pula beliau mengajar Dhamma. Banyaknya orang yang  mengikuti                    ajaran Sang Buddha menimbulkan iri hati dari kelompok  kepercayaan                    lain. YA Moggallana yang membabarkan ajaran Sang  Buddha secara                    terbuka dan menentang kepercayaan lain sering menjadi  sasaran                    orang-orang itu.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Suatu ketika mereka ingin mempermalukan YA Moggallana  dengan                    mengirim seorang pelacur untuk merayu YA Moggallana.  Namun YA                    Moggallana dengan kekuatan gaibnya dapat mengetahui  keadaan                    pelacur itu dan membimbingnya untuk memiliki keyakinan  kepada                    ajaran Sang Buddha.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada akhirnya, YA Moggallana dibunuh oleh orang-orang  yang                    membencinya. Mereka menyewa penjahat untuk menyerang  beliau                    pada saat bermeditasi di gunung. Meskipun batu-batu  mematahkan                    tulangnya, namun YA Moggallana bertekad kembali ke  Vihara Hutan                    Bambu untuk bertemu dengan Sang Buddha. Setelah itu  barulah                    beliau mencapai Parinibbana (wafat). Jenazahnya  diperabukan                    dan reliknya diletakkan dalam sebuah cetiya pada pintu  masuk                    Vihara Veluvana di Rajagaha. Kini relik itu dapat  dijumpai pada                    salah satu stupa di Sanchi, India.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1123420182286339439?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1123420182286339439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1123420182286339439&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1123420182286339439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1123420182286339439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/yang-ariya-moggallana.html' title='YANG ARIYA MOGGALLANA'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1358668035100741365</id><published>2010-03-20T09:05:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T21:26:28.996-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='YANG ARIYA SARIPUTTA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siswa-Siswa Utama Sang Buddha'/><title type='text'>YANG ARIYA SARIPUTTA</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;" class="Judul1"&gt;Terkemuka dalam Kebijaksanaan&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada suatu pagi Sariputta melihat YA Assaji, salah  seorang                    bhikkhu siswa pertama Sang Buddha sedang menerima dana  makanan                    di Rajagaha. Ia sangat terkesan melihat penampilan YA  Assaji                    yang damai dan agung. Ia berpikir bahwa pastilah  bhikkhu itu                    telah mencapai arahat. Ketika YA Assaji selesai makan,  ia mendekati                    dan memberi salam untuk kemudian bertanya siapakah  guru beliau                    dan ajaran apakah yang diajarkan oleh gurunya itu. YA  Assaji                    memberi tahukan bahwa gurunya adalah Sang Buddha  Gotama dan                    bahwa beliau tidak dapat menerangkan ajaran tersebut  secara                    panjang lebar karena belum lama menjadi bhikkhu tetapi  dapat                    menjelaskan artinya secara singkat. Kemudian beliau  mengucapkan                    syair berikut:&lt;/p&gt;                              &lt;blockquote&gt;                  &lt;div align="justify"&gt;                    &lt;p&gt;"Ye dhamma hetuppabhava,&lt;br /&gt;                   Tesam hetum tathagato aha;&lt;br /&gt;                   Tesañca yo nirodho ca&lt;br /&gt;                   Evam vadi mahasamano"&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;"&lt;em&gt;Semua benda timbul karena suatu sebab,&lt;br /&gt;                   'Sebab' itu telah diberitahukan oleh Sang Tathagata;&lt;br /&gt;                   Dan juga lenyapnya&lt;br /&gt;                   Demikianlah yang diajarkan oleh&lt;br /&gt;                   Sang Petapa Agung&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt;                 &lt;/div&gt;                 &lt;/blockquote&gt;               &lt;div align="justify"&gt;                 &lt;p&gt;Mendengar syair tersebut, Sariputta memperoleh Mata  Dhamma                    (Dhammacakkhu) dan menjadi seorang Sotapanna (orang  yang mencapai                    tingkat kesucian pertama).&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Sariputta terlahir di desa Upatissa dekat Rajagaha.  Karena                    ia adalah anak tertua dari keluarga utama di desa itu,  nama                    pribadinya menjadi Upatissa. Ayahnya adalah seorang  Brahmana                    bernama Vanganta dan ibunya bernama Rupasari, oleh  karena itulah                    ia dikenal pula sebagai Sariputta (putera dari Sari).  Ia mempunyai                    tiga adik laki-laki dan tiga adik perempuan, yang  kesemuanya                    di kemudian hari memasuki Sangha. Sejak kecil  Sariputta sudah                    memperlihatkan kepandaian yang istimewa. Mula-mula ia  belajar                    kepada ayahnya yang mempunyai pandangan yang bijaksana  dalam                    pengetahuan-nya sebagai seorang Brahmana. Ia  mempelajari Veda                    (Kitab Suci Agama Hindu). Pada usia delapan tahun ia  mulai belajar                    dengan seorang guru, dan pada usia enam belas tahun ia  sudah                    terkenal di daerah tempat tinggalnya.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada hari kelahirannya, terlahir pula seorang anak  laki-laki                    di desa Kolita, sehingga anak itu disebut Kolita.  Ayahnya adalah                    kepala desa dan ibunya adalah seorang Brahmana bernama  Moggali                    sehingga anak itu disebut pula sebagai Moggallana.  Upatissa                    dan Moggallana berteman sejak masa kanak-kanak mereka.  Mereka                    bersama-sama pula menikmati kesenangan hidup. Sampai  pada suatu                    ketika mereka menyadari bahwa pada akhirnya semua  manusia akan                    mengalami kematian. Oleh karena itulah keduanya  bersepakat,                    untuk meninggalkan hidup keduniawian untuk mencari  jalan yang                    dapat membebaskan diri dari kematian. &lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Mereka kemudian pergi untuk berguru kepada seorang  guru terkenal                    saat itu yang bernama Sañjaya. Karena kemampuannya  yang                    luar biasa, Sariputta dan Moggallana segera diakui  sebagai murid                    yang utama diantara murid-murid lainnya. Tetapi  meskipun mereka                    telah menguasai semua ajaran yang diberikan oleh  Sañjaya,                    mereka belum juga menemukan jalan pembebasan yang  dicari. Mereka                    kemudian berjanji bahwa siapa di antara mereka yang  kelak lebih                    dulu memperoleh Ajaran Sempurna akan memberitahukan  hal itu                    kepada lainnya.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Maka segera setelah Sariputta bertemu dengan YA  Assaji, beliau                    menemui Moggallana dan menyampaikan peristiwa yang  dialaminya                    dan mengulangi syair yang diucapkan oleh YA Assaji.  Seketika                    itu pula Moggallana memperoleh Mata Dhamma dan menjadi  seorang                    Sotapanna. Kemudian mereka menyampaikan hal ini kepada  Sañjaya.                    Namun Sañjaya menolak untuk pergi bersama mereka  menemui                    Sang Buddha. Keduanya lalu pergi bersama dua ratus  lima puluh                    murid Sañjaya ke Vihara Veluvana untuk menemui Sang  Buddha.                    Mereka memohon penahbisan dan Sang Buddha menerima  mereka ke                    dalam Sangha dengan kata-kata "Ehi Bhikkhu".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Tujuh hari setelah ditahbiskan, Moggallana mencapai  tingkat                    Arahat (tingkat kesucian tertinggi) setelah mendapat  petunjuk                    dari Sang Buddha. Lima belas hari setelah ditahbiskan,  Sariputta                    berdiam bersama Sang Buddha di gua Sukarakhta di  gunung Gijjhakuta                    (Puncak Burung Nasar) di kota Rajagaha. Seorang petapa  Paribbajaka                    bernama Dighanakha dari keluarga Aggivesana pada suatu  hari                    menghampiri Sang Buddha dan bertanya kepada Sang  Buddha. Sang                    Buddha kemudian mengkhotbahkan Vedanapariggha kepada  petapa                    tersebut. Mendengar sutta itu Sariputta pun menjadi  seorang                    Arahat (orang yang mencapai kesucian tertinggi). &lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;YA Sariputta dan YA Moggallana merupakan siswa-siswa  yang mulia                    dan termashyur, merupakan Siswa Kepala (Aggisavaka)  yang membantu                    Sang Buddha dalam menyampaikan Ajaran kepada dunia. &lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Dalam suatu pertemuan para bhikkhu Sang Buddha  menyatakan bahwa                    YA Sariputta adalah siswa yang terkemuka dalam  kebijaksanaan,                    dan YA Moggallana adalah yang terkemuka dalam kekuatan  gaib.                    Dalam hal kebijaksanaan, YA Sariputta adalah yang  kedua setelah                    Sang Buddha. Beliau sangat ahli dalam mengajarkan  tentang sebab                    akibat, Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Utama  Berunsur Delapan.                    Beliau amat pandai menguraikan dengan terinci intisari  Ajaran                    Sang Buddha kepada orang lain. Sang Buddha pernah  bersabda "Bila                    kamu meninggalkan kehidupan keduniawian dan menjadi  bhikkhu,                    kamu harus seperti Sariputta dan Moggallana.  Berusahalah untuk                    mendekati dan meminta mereka untuk mengajarimu".&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Meskipun YA Sariputta dikenal sebagai Siswa Kepala,  beliau                    tidak mementingkan diri sendiri. Beliau adalah  seseorang yang                    tahu berterima kasih, rendah hati, penuh belas kasihan  dan sabar.                    Beliau senang mengunjungi bhikkhu-bhikkhu lain yang  sakit. Ketika                    bhikkhu-bhikkhu lain sedang melakukan pindapata,  beliau mengelilingi                    seluruh bangunan vihara, menyapu tempat-tempat yang  belum tersapu,                    mengisi saluran-saluran yang kosong dengan air,  mengatur perabotan                    dan sebagainya. Khotbahnya, Sangiti Sutta dan  Dasuttara Sutta                    adalah permulaan dari cita-citanya mengulangi Ajaran  Sang Buddha                    untuk menjaga dan mempertahankan kemurniannya dan agar  ajaran                    itu tetap terlindung. Apabila Sang Buddha adalah  Dhammaraja                    (Raja dari Ajaran), maka YA Sariputta adalah  Dhammasenapati                    (Panglima dari Ajaran).&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; Ketika Sang Buddha mengunjungi kerajaan Sakya,  Rahula, putra-Nya                    meminta harta kepadanya. Untuk memberi harta yang  agung kepada                    Rahula, Sang Buddha meminta YA Sariputta untuk  menahbiskan Rahula.                    YA Sariputta menjadi Upajjhaya dari Rahula sedangkan  YA Moggallana                    menjadi Acariya bagi Rahula. Ketika Sang Buddha  mengkhotbahkan                    Abhidhamma kepada ibunya dan dewa-dewa di surga  Tavatimsa, YA                    Moggallana tinggal bersama orang-orang yang menunggu  kembalinya                    Sang Buddha. Sementara itu, setiap hari pertama Sang  Buddha                    pergi ke danau Anottata untuk mandi dan istirahat  siang, YA                    Sariputta mengunjungi Sang Buddha dan mempelajari  semua yang                    telah dikhotbahkan. Setelah itu beliau mengajarkannya  kepada                    lima ratus siswanya.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada saat Devadatta menimbulkan perpecahan di antara  para bhikkhu                    dan membawa lima ratus bhikkhu yang baru ditahbiskan  ke Gayasisa,                    Sang Buddha mengirim kedua Siswa Kepala untuk membawa  mereka                    kembali. Mereka berhasil melaksanakan tugas tersebut  dan kembali                    kepada Sang Buddha bersama kelima ratus bhikkhu itu.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Kurang lebih enam bulan sebelum Sang Buddha wafat, YA  Sariputta                    merasa bahwa akhir hidupnya telah menjelang. Beliau  memohon                    ijin kepada Sang Buddha untuk mencapai Parinibbana  (wafat).                    Setelah diijinkan, YA Sariputta pulang ke desa Nalaka  yang merupakan                    tempat kelahirannya. Para dewa dan Brahma  mengunjunginya sehingga                    membuat ibunya takjub karena Brahma yang dipujanya  ternyata                    menghormati putranya. Pada saat itulah YA Sariputta  mengajarkan                    Dhamma kepada ibunya dan membuatnya yakin kepada Sang  Tiratana.                    Kepada seorang bhikkhu yang ikut bersamanya beliau  berkata,                    "Saya telah bersama-sama denganmu selama lebih dari  empat                    puluh tahun. Kalau saya mempunyai kesalahan,  maafkanlah saya."                    Itulah kata-katanya yang terakhir. Malam itu beliau  merebahkan                    dirinya di tempat tidur dan dengan tenang mencapai  Parinibbana                    (wafat). Relik beliau dibawa ke Savatthi dan Sang  Buddha memerintahkan                    membuat cetiya untuk menyimpan relik tesebut.&lt;/p&gt;               &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1358668035100741365?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1358668035100741365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1358668035100741365&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1358668035100741365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1358668035100741365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/yang-ariya-sariputta.html' title='YANG ARIYA SARIPUTTA'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-6099678209540903649</id><published>2010-03-19T06:08:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T06:12:06.717-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='YANG ARIYA ANANDA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siswa-Siswa Utama Sang Buddha'/><title type='text'>YANG ARIYA ANANDA</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;" class="Judul1"&gt;Pembantu Tetap Sang Buddha dan Bendahara Dhamma&lt;/p&gt;                 Pada suatu ketika dalam suatu pertemuan para bhikkhu di Rajagaha,                    Sang Buddha yang saat itu berusia lima puluh lima  tahun menyinggung                    tentang perlunya ditunjuk seorang pembantu tetap untuk  diriNya.                    Semua siswa utama seperti YA Sariputta dan YA  Moggallana menawarkan                    diri untuk menjadi pembantu tetap namun semuanya  ditolak oleh                    Sang Buddha. Para bhikkhu kemudian menganjurkan Ananda  yang                    selama itu berdiam diri saja untuk memohon kepada Sang  Buddha                    untuk dapat diterima sebagai pembantu tetap. Ananda  mengatakan,                    "Kalau Sang Bhagava memang memerlukan Ananda sebagai  Pembantu                    Tetap, Sang Bhagava boleh mengatakannya". Kemudian  Sang                    Buddha berkata, "Ananda, jangan membiarkan orang lain  menganjurkan                    engkau untuk memohon pekerjaan tersebut. Atas kemauan  sendiri                    engkau dapat menjadi Pembantu Tetap Sang Buddha".&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;                  Baru setelah itulah Ananda menawarkan diri untuk  menjadi Pembantu                    Tetap asal Sang Buddha berkenan meluluskan delapan  permintaannya,                    yaitu menolak empat hal dan memenuhi empat hal. Empat  hal yang                    diminta Ananda untuk ditolak adalah: apabila Sang  Buddha menerima                    persembahan jubah, maka jubah itu tidak boleh  diberikan kepada                    Ananda; apabila Sang Buddha menerima hadiah, hadiah  itu tidak                    boleh diberikan kepada Ananda; Ananda tidak boleh  diminta untuk                    tidur di kamar pribadi Sang Buddha yang harum baunya  (Gandhakuti);                    apabila Sang Buddha menerima undangan pribadi, maka  undangan                    itu tidak termasuk dirinya. Ananda mengatakan apabila  Sang Buddha                    melakukan hal tersebut maka orang akan bercerita bahwa  Ananda                    menjadi Pembantu Tetap karena ingin mendapat jubah  bagus, makanan                    enak, tempat tinggal menyenangkan dan ikut serta kalau  Sang                    Buddha mendapat undangan.                  &lt;p&gt;Empat hal yang diminta Ananda untuk dipenuhi adalah:  apabila                    Ananda menerima undangan atas nama Sang Buddha maka  Sang Buddha                    harus memenuhinya; apabila ada orang datang dari  tempat jauh,                    agar Ananda dapat membawanya menghadap Sang Buddha;  apabila                    Ananda merasa ada sesuatu yang meragukan ia  diperbolehkan bertanya                    kepada Sang Buddha setiap waktu; apabila Ananda tidak  hadir                    saat Sang Buddha berkhotbah, Sang Buddha bersedia  mengulanginya                    kembali. Apabila hal tersebut tidak diperkenankan maka  orang                    akan bertanya-tanya apa sebenarnya faedah dari  pengabdian tersebut.                    Sang Buddha menyetujui permintaan tersebut dan sejak  saat itu                    Ananda resmi menjadi Buddha-upatthaka (Pembantu Tetap  Sang Buddha).&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt; YA Ananda terlahir sebagai putera Sukkodana, saudara  Suddhodana                    ayah Sang Buddha, oleh karenanya ia merupakan saudara  sepupu                    pertama Sang Buddha. Hari kelahirannya bersamaan  dengan hari                    kelahiran Sang Buddha, bersamaan pula dengan  terlahirnya Puteri                    Yasodhara yang kemudian menjadi isteri Pangeran  Siddhattha,                    Channa yang kemudian menjadi kusir Pangeran  Siddhattha, Kaludayi                    yang kemudian mengundang Sang Buddha untuk berkunjung  kembali                    ke Kapilavatthu, Kanthaka yang kemudian menjadi kuda  Pangeran                    Siddhattha, seekor gajah istana, pohon Bodhi tempat  Pangeran                    Siddhattha mencapai Penerangan Agung, Nidhikumbhi  yaitu tempat                    harta pusaka.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Ananda memasuki Sangha bersama-sama dengan para  bangsawan Sakya                    yaitu Mahanama, Bhaddhiya, Bhagu, Kambila, Devadatta  dan tukang                    cukur mereka yang bernama Upali. Mereka menjumpai Sang  Buddha                    di hutan mangga Anupiya dalam perjalanan ke Rajagaha.  Di tempat                    itu mereka memohon kepada Sang Buddha untuk  ditahbiskan menjadi                    bhikkhu. Dan dengan tujuan untuk mengurangi rasa  kebanggaan                    mereka, mereka memohon kepada Sang Buddha untuk  mentasbihkan                    Upali, tukang cukur mereka, terlebih dahulu.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Selama vassa berikutnya, Bhaddhiya mendapat tiga  kemampuan                    dan menjadi Arahat. Anuruddha mendapatkan yang kedua  dari kemampuan                    tersebut yaitu mata dewa yang dapat melihat timbul dan  lenyapnya                    makhluk-makhluk. Sang Buddha menyatakan Anuruddha  sebagai yang                    terkemuka di antara mereka yang memperoleh mata dewa  (dibbacakkhu)                    dan Bhaddhiya sebagai yang terkemuka di antara mereka  yang mengalami                    kelahiran agung. Ananda mendengar khotbah YA  Punnamantaniputta                    dan menjadi seorang Sotapanna (seorang suci tingkat  pertama).&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Devadatta memperoleh kekuatan gaib yang dapat dicapai  oleh                    manusia biasa. Di kemudian hari Devadatta  mengembangkan pikiran                    jahat dan memusuhi Sang Buddha. Sedangkan Upali  menjadi yang                    terkemuka di antara mereka yang mempelajari Vinaya  (aturan kebhikkhuan).&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Sebagai Pembantu Tetap Sang Buddha, Ananda melayani  Sang Buddha                    selama dua puluh lima tahun, mengikuti Sang Buddha  bagaikan                    bayanganNya, membawakan air dan tusuk gigi, mencuci  kaki Sang                    Buddha, menyertai Sang Buddha ke mana saja, menyapu  tempat kediaman                    Sang Buddha. Karena dekatnya hubungan dengan Sang  Buddha, Ananda                    berkesempatan untuk mendengarkan semua Khotbah Sang  Buddha.                    Karena mempunyai daya ingat yang luar biasa, Ananda  dapat mengingat                    segala sesuatu yang diucapkan oleh Sang Buddha  sehingga ia dikenal                    sebagai 'Bendahara Dhamma' (Dhamma Bhandagarika)&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada suatu ketika di Jetavana dalam pertemuan para  bhikkhu,                    Sang Buddha memuji Ananda dan menempatkannya sebagai  bhikkhu                    yang utama dalam lima hal: kepandaian (Bahusacca),  ingatan yang                    kuat (Sati), kelakuan baik (Gati), ketabahan (Dhiti),  perhatian                    penuh dalam pelayanan (Upatthana).&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Ketika Maha Pajapati Gotami, ibu tiri Sang Buddha,  memohon                    kepada Sang Buddha untuk diijinkan memasuki Sangha,  Anandalah                    yang sangat mendukung keinginan tersebut dan berhasil  memohon                    kepada Sang Buddha untuk memperkenankan wanita  memasuki Sangha.                    Inilah permulaan adanya Sangha Bhikkhuni dalam agama  Buddha.                    Ananda pulalah, atas permintaan Sang Buddha, yang  merancang                    jubah bhikkhu dengan pola menyerupai sawah di Magadha.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Meskipun mempunyai hubungan yang dekat dengan Sang  Buddha,                    sampai pada saat Sang Buddha mencapai Parinibbana  (wafat), Ananda                    belum juga mencapai tingkat Arahat (tingkat kesucian  tertinggi).                    Ananda mencapai tingkat Arahat tiga bulan setelah  wafatnya Sang                    Buddha yaitu pada Sidang Agung Pertarna di Gua  Sattapanni, Rajagaha.                    Ketika itu YA Maha Kassapa mengusulkan untuk mengulang  Dhamma                    dan Vinaya sehingga dapat diketahui Ajaran yang  sesungguhnya.                    Para bhikkhu memintanya memilih anggota pertemuan dan  beliau                    memilih 499 Arahat. Beliau diminta pula untuk memilih  Ananda,                    karena meskipun belum mencapai Arahat, Ananda telah  mempelajari                    Dhamma dan Vinaya dari Sang Buddha sendiri. Menyadari  dirinya                    merupakan satu-satunya peserta pertemuan yang belum  Arahat,                    sehari sebelum pertemuan dimulai Ananda melatih diri  dengan                    sungguh-sungguh hingga larut malam.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Menjelang fajar, ia merasa mengantuk dan karenanya  merebahkan                    diri. Pada saat kepala belum menyentuh bantal, belum  lagi kakinya                    meninggalkan lantai, ia menyelami Enam Kemampuan Batin  Luar                    Biasa (Abhiñña). Karena itulah beliau dikatakan                    sebagai satu-satunya siswa yang mencapai Arahat tanpa  empat                    sikap tubuh (Iriyapatha).&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Pada hari pertemuan, Ananda memasuki ruang pertemuan  dan muncul                    di atas tempat duduk kosong yang telah disediakan  untuknya.                    YA Upali dipilih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan  YA Maha                    Kassapa tentang Vinaya dan YA Ananda ditunjuk untuk  menjawab                    pertanyaan-pertanyaan tentang Dhamma, yaitu tentang  Sutta dan                    Abhidhamma. Oleh karena itulah tiap Sutta selalu  dimulai dengan                    kata-katanya, "Evam me sutam" - 'Demikianlah telah                    kudengar'.&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;                  Ananda melewatkan tahun-tahun terakhirnya dengan  mengajar, berkhotbah                    dan memberikan semangat kepada rekan-rekannya yang  lebih muda.                    Beliau hidup sampai usia yang sangat lanjut yaitu  seratus dua                    puluh tahun. Menjelang wafatnya, beliau pergi ke  sungai Rohini                    yang terletak di perbatasan antara Kapilavatthu dan  Koliya.                    Setelah berkhotbah kepada kedua pihak, beliau berjalan  ke tengah                    sungai dan dari tubuhnya keluar api yang membakar  badan jasmaninya.                    Sisa badan jasmaninya dibagi dua dan ditaruh dalam  stupa di                    Kapilavatthu dan di Koliya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-6099678209540903649?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/6099678209540903649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=6099678209540903649&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6099678209540903649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/6099678209540903649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/yang-ariya-ananda.html' title='YANG ARIYA ANANDA'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-7272881248465441301</id><published>2010-03-19T05:11:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T05:15:44.561-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manjusri Bodhisattva'/><title type='text'>Pangeran Dharma Manjusri Bodhisattva</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.buddhamuseum.com/bronze-3b/manjusri_0715.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 295px; height: 337px;" src="http://www.buddhamuseum.com/bronze-3b/manjusri_0715.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ching Ik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pemahaman Buddhisme Mahayana, Bodhisattva Manjusri diwujudkan sebagai sosok Bodhisattva yang memegang sebatang pedang kebijaksanaan (perlambang pemutus kekotoran batin) dan mengendarai singa berbulu emas (simbol keperkasaan menaklukkan kekuatan jahat), kadang kala dilukiskan juga dalam kondisi duduk di atas bunga teratai (melambangkan kemurnian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sutra Avatamsaka, Bodhisattva Manjusri dikenal sebagai salah satu dari Tiga Makhluk Suci Avatamsaka, yakni: Bodhisattva Manjusri (kiri), Buddha Sakyamuni (tengah) dan Bodhisattva Samantabhadra (kanan). Dalam Buddhisme Tiongkok, terdapat beberapa versi dalam penyebutan nama Bodhisattva Manjusri, di antaranya adalah Wenshushili-Pusa dan Manshushili-Pusa, namun lebih populer dengan sebutan singkat Wenshu Pusa. Nama Manjusri sendiri memiliki beberapa makna, yakni Miaode (Kebajikan Menakjubkan), Miaoshou (Kepala Menakjubkan - karena kebajikannya tertinggi di atas para Bodhisattva) dan Miaojixiang (Berkah Menakjubkan) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Bodhisattva Avalokitesvara dikatakan sebagai manifestasi welas asih terluhur, maka Bodhisattva Manjusri dikenal sebagai manifestasi kebijaksanaan tertinggi. Ini dikarenakan Bodhisattva Manjusri merupakan Buddha masa lalu yang terus menerus bermanifestasi dengan kekuatan kebijaksanaan sejati. Dalam kitab Shuranggama Samadhi Sutra, Buddha Sakyamuni menjelaskan bahwa Bodhisattva Manjusri merupakan Buddha masa lalu yang bernama Tathagata LongzhongShangzunwang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodhisattva Manjusri juga muncul di masa kini sebagai Buddha Huanxizangmonibaoji dari Tanah Buddha Changxi Kegembiraan Abadi), (Angulimala Sutra, bab 4). Pada sisi lain, juga bermanifestasi dalam wujud Bodhisattva Manjusri sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ketika Buddha Amitabha masih berstatus sebagai seorang raja Cakravartin, saat itu Bodhisattva Manjusri merupakan putra mahkota ketiga. Buddha Ratna-garbha di masa itu meramalkan bahwa Manjusri akan menjadi Buddha dengan nama Tathagata Samanthadarsin (Karuna Pundarika Sutra, bab 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semua manifestasi ini, Bodhisattva Manjusri mempertunjukkan kebijaksanaan sempurna dan upaya kausalya (metode tepat dan praktis) membimbing semua makhluk agar tergerak untuk membangkitkan bodhicitta mencapai Pencerahan Sempurna. Itulah sebabnya, Bodhisattva Manjusri dijuluki sebagai “ibu para Buddha dari tiga masa” dan “guru para Buddha”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kehidupan Buddha Sakyamuni, Bodhisattva Manjusri terlahir di kerajaan Kosala sebagai anak dari seorang kasta Brahmana bernama Fande (Kebajikan Brahma). Tubuhnya berwarna keemasan, memiliki 32 ciri fisik manusia unggul dan dilahirkan dari sisi sebelah kanan tubuh ibunya. Makna nama MiaoJixiang (Berkah Menakjubkan) berasal dari munculnya sepuluh peristiwa menakjubkan saat kelahirannya, yakni: turun Amrita (air surgawi) dari langit; muncul tujuh permata dari dalam tanah; padi dalam lumbung berubah menjadi beras emas; tumbuh bunga teratai di halaman rumah; cahaya gemilang memenuhi rumah; ayam menetaskan burung hong; kuda melahirkan kirin; sapi melahirkan anak sapi langka; babi melahirkan longtun (babi berwujud naga); muncul gajah bergading enam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manjusri dikenal memiliki kebijaksanaan dan kemampuan berbicara yang unggul, sanggup mengalahkan para penganut dari 96 aliran tirtika dalam hal perdebatan. Setelah menjadi siswa Buddha Sakyamuni, Manjusri berhasil menguasai suatu tingkat samadhi Shuranggama. Dengan kekuatan samadhi Shuranggama ini Manjusri melakukan berbagai metode yang sangat bijaksana dalam membimbing para makhluk, bahkan setelah 450 tahun Parinirvana Buddha Sakyamuni, Manjusri masih tetap melakukan tugas pengajaran Dharma. Dalam jajaran siswa tingkat Bodhisattva, beliau menduduki posisi sebagai siswa paling terkemuka dalam hal kebijaksanaan. Oleh karena itu, beliau juga dijuluki sebagai Pangeran Dharma Manjusri. Sekitar tiga ratusan sesi pembabaran filosofi Mahayana oleh Buddha Sakyamuni, Manjusri selalu hadir sebagai ketua dari Komunitas Bodhisattva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Vimalakirti Nirdesa Sutra misalnya, saat para siswa Sravaka dan Bodhisattva merasa berkecil hati untuk bertemu Vimalakirti karena tidak sanggup berhadapan dengan kemampuan berbicaranya yang menakjubkan, Manjusri tampil mengemban tugas ini. Pertemuannya dengan Vimalakirti menjadi sebuah ajang perbincangan Dharma yang menakjubkan. Tidak hanya dalam satu Sutra, dalam berbagai Sutra juga tercantum tentang kemampuan pembabaran Dharma yang dimiliki Manjusri yang dapat dipastikan akan membuat kita berdecak kagum. Buddha Sakyamuni sendiri kerap menceritakan kehidupan lalu Bodhisattva Manjusri, bahkan dalam salah satu kehidupan lampau, Sakyamuni pernah menjadi murid Manjusri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  mata  penganut  Buddhisme  Tiongkok,  Bodhisattva Manjusri  memiliki  posisi  yang  cukup  istimewa.  Perlu diketahui  bahwa  di  Tiongkok  terdapat  empat  Gunung Buddha yang diyakini sebagai tempat pembabaran Dharma empat Bodhisattva Agung, yakni Putuo Shan  (Bodhisattva Avalokitesvara), Jiuhua Shan (Bodhisattva Ksitigarbha), Emei Shan  (Bodhisattva  Samantabhadra),  sedang  Wutai  Shan atau juga dikenal dengan sebutan Qingliang Shan (Gunung Sejuk)  sebagai  tempat  pembabaran  Dharma  Bodhisattva Manjusri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  Avatamsaka  Sutra  bagian “Kediaman  Para Bodhisattva”  disebutkan, “Di  wilayah  timur  laut,  terdapat gunung Qingliang (Gunung Sejuk). Semenjak lama gunung ini menjadi tempat kediaman para bodhisattva, dan sekarang ini Bodhisattva Manjusri bersama sekelompok Bodhisattva lain sejumlah  10.000 orang menetap di gunung ini untuk membabarkan Dharma.”  Kemudian  dalam  Ratna-garbha Dharani Sutra disebutkan, “Pada saat itu, Bhagava berkata kepada  Bodhisattva  Guhyapada:  Setelah  parinirvana-Ku, di arah   timur laut dari Jambudwipa terdapat sebuah negeri bernama Mahacina. Di negeri ini terdapat pegunungan yang bernama  Wuding (Lima  Puncak).  Bodhisattva  Manjusri berdiam di tempat ini untuk membabarkan Dharma kepada para makhluk hidup. Terdapat juga para makhluk dewa, naga, yaksha, raksasa, kinnara, mahoraga, manusia dan makhluk bukan manusia yang jumlahnya tak terbatas mengelilingiNya, menghormati dan memberi persembahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kisah keajaiban tentang jelmaan Beliau tidak henti-hentinya  bertebaran  di  seantero  Wutai  Shan.  Baik sebagai  wujud  orang  tua  maupun  anak  kecil,  Manjusri menggunakan  berbagai  upaya  kausalya  untuk  menjalin ikatan jodoh karma dengan para makhluk hidup. Bahkan tokoh kharismatik Master Xuyun pun dalam perjalanan san bu yi bai (tiga langkah satu sujud) ke Wutai Shan sempat&lt;br /&gt;mendapat pertolongan dari Bodhisattva Manjusri dalam wujud seorang  pengemis.  Patriak  ke  4  dari  mazhab  Sukhavati, Master Fazhao, juga pernah bertemu dengan Bodhisattva Manjusri  beserta  kemegahan  viharanya  di  sebuah  hutan yang tidak dapat dilihat secara kasat mata saat berkunjung ke Wutai Shan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kisah yang bernuansa metafisik ini sungguh di luar jangkauan pemahaman kita. Namun sebagai seorang umat   Buddha   yang   berpandangan   benar,   hendaklah&lt;br /&gt;kita  melihat  segala  mukjizat  yang  dilakukan  Bodhisattva Manjusri  sebagai  upaya  kausalya.  Bodhisattva  Manjusri adalah  Bodhisattva  Kebijaksanaan  Tertinggi,  pada  sisi lain  kebijaksanaan  itu  mengalir  menjadi  berbagai  wujud tubuh jelmaan yang semata-mata ditujukan demi manfaat dan  kebahagiaan  semua  makhluk.  Tetapi,  manifestasi Bodhisattva  Manjusri  sebenarnya  tidak  hanya  sebatas  di Wutai Shan tau pada bentuk-bentuk tubuh jelmaan saja. Saat kebijaksanaan transenden muncul dalam batin setiap makhluk hidup, maka di situlah tempat bersemayam yang sesungguhnya  dari  Bodhisattva Agung  ini.  Saat  hati  dan pikiran kita dalam keadaan bersih dan urni, di situlah akan tertampak Pangeran Dharma ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-7272881248465441301?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/7272881248465441301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=7272881248465441301&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/7272881248465441301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/7272881248465441301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/pangeran-dharma-manjusri-bodhisattva_19.html' title='Pangeran Dharma Manjusri Bodhisattva'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-2728241470027990747</id><published>2010-03-04T05:12:00.000-08:00</published><updated>2010-03-04T05:30:17.971-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asal Usul Manusia'/><title type='text'>Asal Mula Manusia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S4-0CTzPRnI/AAAAAAAAAQI/Ah8c0g849Nw/s1600-h/cahaya.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S4-0CTzPRnI/AAAAAAAAAQI/Ah8c0g849Nw/s320/cahaya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444768426282141298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, dunia ini akan hancur. Dan bilamana hal ini terjadi, umumnya mahluk-mahluk terlahir kembali di Abbassara (Alam Cahaya); di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat juga suatu saat, cepat atau lambat, setelah selang suatu masa yang lama sekali, dunia ini mulai terbentuk kembali. Dan ketika hal ini terjadi, mahluk¬-mahluk yang mati di Abhassara (Alam Cahaya), biasanya terlahir kembali di sini sebagai manusia. Mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan; siang maupun malam belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun-tahun maupun musim-musim belum ada; laki-laki maupun wanita belum ada. Mahluk¬-mahluk hanya dikenal sebagai mahluk-mahluk saja.&lt;br /&gt;Cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul ke luar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tanah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, di antara mahluk mahluk yang memiliki pembawaan sifat serakah (lolajatiko) berkata: O apakah ini? dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk dalam dirinya. Dan mahluk-mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari-jarinya. Dengan mencicipinya, maka mereka diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk ke dalam diri mereka. Maka mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh mahluk-mahluk itu menjadi lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak. Demikian pula dengan siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, musim-musim dan tahun-tahun pun terjadi. Demikianlah, sejauh itu bumi terbentuk kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir : Kita lebih indah daripada mereka, mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahannya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka sari tanah itupun lenyap. Dengan lenyapnya sari tanah itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya: "Sayang, lezatnya! Sayang lezatnya!" Demikian pula sekarang ini, apabila orang menikmati rasa enak, ia akan berkata: "Oh lezatnya! Oh lezatnya!; yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan masa lampau, tanpa mereka mengetahui makna dari kata-kata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ketika sari tanah lenyap bagi mahluk mahluk itu, muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (Bhumi¬pappatiko). Cara tumbuhnya adalah seperti tumbuhnya cendawan. Tumbuhan ini memiliki warna, bau dan rasa; lama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tumbuhan itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu. Kemudian mahluk¬mahluk itu mulai makan tumbuh-tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut. Mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka berkembang menjadi lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir: Kita lebih indah daripada mereka; mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul dan cara tumbuhnya adalah seperti bambu. Tumbuhan ini memiliki warna, bau dan rasa; sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tumbuhan itu; lama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, mahluk-mahluk itu mulai makan tumbuhan menjalar tersebut. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar tersebut, dan hal itu berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini; maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir : Kita lebih indah daripada mereka; mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap. Dengan lenyapnya tumbuhan menjalar itu, mereka berkumpul bersama-sama meratapinya : "Kasihanilah kita, milik kita hilang! Demikian pula sekarang ini, bilamana orang-orang ditanya apa yang menyusahkannya, mereka menjawab : "Kasihanilah kita! Apa yang kita miliki telah hilang; yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan pada masa lampau, tanpa mengetahui makna daripada kata-kata itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tumbuhan menjalar lenyap bagi mahluk-mahluk itu, muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak dalam alam terbuka (akattha-pako), tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Bilamana pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, maka keesokan paginya padi itu telah tumbuh den masak kembali. Bilamana pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang; maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali; demikian terus-menerus padi itu muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan tentang keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin (methuna).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Bacaan : Kitab Digha Nikaya III;85 "Agganna Sutta"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-2728241470027990747?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/2728241470027990747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=2728241470027990747&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/2728241470027990747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/2728241470027990747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/asal-mula-manusia.html' title='Asal Mula Manusia'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S4-0CTzPRnI/AAAAAAAAAQI/Ah8c0g849Nw/s72-c/cahaya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-5098237396882636207</id><published>2010-03-02T01:19:00.001-08:00</published><updated>2010-03-02T01:54:29.046-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajahn Chah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Pengertian dan Kebijaksanaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S4zf2uSk_DI/AAAAAAAAAQA/BKIxMtYLpHk/s1600-h/sky-flower.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S4zf2uSk_DI/AAAAAAAAAQA/BKIxMtYLpHk/s320/sky-flower.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443972180815969330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ajahn Chah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seseorang dan sesuatu yang dapat membebaskan Anda selain pemahaman diri Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang gila dan seorang Arahat, keduanya tersenyum. Tetapi Arahat mengerti mengapa tersenyum sedangkan orang gila tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang pintar melihat yang lainnya, tetapi dia melihat dengan kebijaksanaan, tidak dengan kebodohan. Bila seseorang melihat dengan kebijaksanaan, orang itu akan banyak belajar. Tetapi seseorang yang melihat dengan kebodohan hanya akan menemukan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah sebenarnya pada manusia saat ini adalah mereka mengetahui tetapi tetap tidak melaksanakan. Masalahnya lain bila mereka tidak melaksanakan karena mereka tidak tahu. Tetapi bila mereka telah mengetahui dan tetap tidak melaksanakan; apa masalahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman kitab suci dari kulitnya tidak penting. Tentu saja buku Dhamma adalah benar namun tidak betul. Buku Dhamma tidak dapat memberikan pengertian yang tepat. Untuk melihat kata 'amarah' yang tercetak tidak sama dengan merasakan kemarahan. Hanya merasakan dengan diri Anda sendiri dapat memberi Anda keyakinan sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda melihat dengan pengertian benar maka tiada kemelekatan dalam hubungan hal-hal tersebut. Mereka datang, senang dan tidak senang, anda melihatnya dan tanpa kemelekatan. Mereka datang dan pergi. Walau bila kekotoran batin yang terburuk muncul, seperti keserakahan dan kemarahan, ada cukup kebijakasanaan untuk melihat perubahan secara alami dan membiarkannya memudar. Bila Anda bereaksi, bagaimanapun, dengan menyukai atau tidak menyukai, itu bukanlah kebijaksanaan. Anda hanya kan menciptakan lebih banyak penderitaan untuk diri Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita mengetahui kebenaran, kita menjadi orang yang tidak perlu banyak berpikir. Kita menjadi orang bijaksana. Bila kita tidak mengetahui, kita lebih banyak berpikir daripada menggunakan kebijaksanaan atau mungkin tanpa kebijaksanaan sedikitpun. Banyak berpikir tanpa kebijaksanaan adalah penderitaan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini orang tidak mencari Kebenaran. Orang belajar hanya agar dapat memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan untuk hidup, memelihara keluarga dan menjaga diri mereka sendiri, itu saja. Bagi mereka menjadi pandai adalah lebih penting daripada menjadi bijaksana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-5098237396882636207?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/5098237396882636207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=5098237396882636207&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/5098237396882636207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/5098237396882636207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2010/03/pengertian-dan-kebijaksanaan.html' title='Pengertian dan Kebijaksanaan'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/S4zf2uSk_DI/AAAAAAAAAQA/BKIxMtYLpHk/s72-c/sky-flower.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1958081114149925837</id><published>2009-09-04T19:59:00.001-07:00</published><updated>2009-09-04T19:59:09.879-07:00</updated><title type='text'>Dasa Raja Dharma</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqHT9QVzp1I/AAAAAAAAAP4/6mEzuIpLQ58/s1600-h/King%20Asoka%5B2%5D.jpg"&gt;&lt;img title="King Asoka" style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; border-left: 0px; margin-right: auto; border-bottom: 0px" height="218" alt="King Asoka" src="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqHT-mzNWKI/AAAAAAAAAP8/5b1MXYvi3EU/King%20Asoka_thumb.jpg?imgmax=800" width="244" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Raja Asoka&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam kitab Jataka, Sang buddha memberikan sepuluh persyaratan seorang pemimpin yang baik (Dasa Raja Dharma) yaitu,&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Dana&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;bermurah hati&lt;/em&gt;) ; seorang pemimpin tidak boleh terlalu terikat dengan kekayaannya, dia memberikan pertolongan baik berupa materi maupun non materi bahkan bersedia mengorbankan hartanya demi kepentingan anggotanya. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Sila&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;bermoral&lt;/em&gt;); pemimpin harus memiliki sikap yang baik dengan pikiran, ucapan, perbuatan dan hidup berperilaku sesuai dengan aturan moralitas. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Paricagga&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;berkorban&lt;/em&gt;) ; seorang pemimpin harus rela mengorbankan kesenangan atau kepentingan pribadi demi kepentingan orang banyak. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Ajjava&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;tulus hati dan bersih&lt;/em&gt;) ; memliki kejujuran, ketulusan sikap maupun pikiran dan kebersihan tujuan serta cita-cita dalam kepemimpinannya. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Maddava&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;ramah tamah dan sopan santun&lt;/em&gt;) ; memiliki sikap ramah tamah, simpatik dan menjaga sopan santun melalui pikiran, ucapan dan perbuatan. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Tapa&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;sederhana&lt;/em&gt;) ; membiasakan diri dalam hidup kesederhanaan dan tidak berlebih-lebihan dalam kebutuhan hidup. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Akkodha&lt;/strong&gt; (tidak berniat jahat, bermusuhan dan membenci) ; memiliki sifat pemaaf dan bersahabat, menjauhi niat jahat, permusuhan dan kebencian. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Avihimsa&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;tanpa kekerasan&lt;/em&gt;) ; tidak menyakiti hati orang lain, memelihara sikap kekeluargaan, senang pada perdamaian, menjauhi segala sikap kekerasan dan penghancuran hidup. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Khanti&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;sabar dan rendah hati&lt;/em&gt;) ; memiliki kesabaran pada saat mengalami halangan dan kesulitan. Memiliki kerendahan hati pada saat menghadapi hinaan dan celaan, sehingga menimbulkan pengertian dan kebijaksanaan pada saat menentukan keputusan. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Avirodhana&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;tidak menimbulkan atau mencari pertentangan&lt;/em&gt;) ; tidak menentang dan menghalangi kehendak mereka yang dipimpinnya untuk memperoleh kemajuan sesuai dengan tujuan dan cita-cita kepemimpinannya. Ia harus hidup bersatu dengan anggota sesuai dengan tuntutan hati nurani. &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Kesepuluh syarat di atas, sebagian besar berisikan pengendalian diri sendiri. Sang Buddha mengajarkan cara menguasai diri sendiri sebagai dasar agar dapat menjadi pemimpin yang baik, bukan cara menguasai atau memaksa orang lain yang dipimpin. Seni kepemimpinan Buddhis adalah seni memimpin diri sendiri baru kemudian orang lain. Karena keteladanan adalah cara yang paling ampuh dalam memimpin sekelompok orang atau organisasi. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sumber : Buku &lt;em&gt;Ikthisar Ajaran Buddha&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1958081114149925837?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1958081114149925837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1958081114149925837&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1958081114149925837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1958081114149925837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/09/dasa-raja-dharma.html' title='Dasa Raja Dharma'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqHT-mzNWKI/AAAAAAAAAP8/5b1MXYvi3EU/s72-c/King%20Asoka_thumb.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-496503523192757664</id><published>2009-09-03T19:15:00.001-07:00</published><updated>2009-09-03T19:15:05.722-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Album Foto Renungan'/><title type='text'>The Inspiration</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqB38lkclqI/AAAAAAAAAPY/CnGBmZG5YlY/s1600-h/act_today4.jpg"&gt;&lt;img title="act_today" style="border-top-width: 0px; display: block; border-left-width: 0px; float: none; border-bottom-width: 0px; margin-left: auto; margin-right: auto; border-right-width: 0px" height="277" alt="act_today" src="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqB3-Re9qBI/AAAAAAAAAPc/FbktY9krkWY/act_today_thumb2.jpg?imgmax=800" width="446" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqB4BBQfFfI/AAAAAAAAAPg/nu6PQa6TFKo/s1600-h/just_a_smile6.jpg"&gt;&lt;img title="just_a_smile" style="border-top-width: 0px; display: block; border-left-width: 0px; float: none; border-bottom-width: 0px; margin-left: auto; margin-right: auto; border-right-width: 0px" height="326" alt="just_a_smile" src="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqB4DcyQxaI/AAAAAAAAAPk/Prg-zGeyKy0/just_a_smile_thumb4.jpg?imgmax=800" width="441" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqB4F40u5II/AAAAAAAAAPo/Np1YHgOIw_c/s1600-h/no_accident_thumb7.jpg"&gt;&lt;img title="no_accident_thumb" style="border-top-width: 0px; display: block; border-left-width: 0px; float: none; border-bottom-width: 0px; margin-left: auto; margin-right: auto; border-right-width: 0px" height="341" alt="no_accident_thumb" src="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqB4H9oSHGI/AAAAAAAAAPs/NSwGKi9H-sw/no_accident_thumb_thumb5.jpg?imgmax=800" width="443" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqB4BBQfFfI/AAAAAAAAAPw/HeqAypZILYA/s1600-h/just_a_smile2.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-496503523192757664?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/496503523192757664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=496503523192757664&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/496503523192757664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/496503523192757664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/09/inspiration.html' title='The Inspiration'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqB3-Re9qBI/AAAAAAAAAPc/FbktY9krkWY/s72-c/act_today_thumb2.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-3543783003343504355</id><published>2009-09-03T19:13:00.001-07:00</published><updated>2009-09-03T19:17:24.871-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buddha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu adalah calon Buddha'/><title type='text'>Kamu Adalah Calon Buddha</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqB3t1n7ySI/AAAAAAAAAPQ/UrdrZQdkC40/s1600-h/Anjalimudra%5B2%5D.jpg"&gt;&lt;img title="Anjalimudra" style="border: 0px none ; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="Anjalimudra" src="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqB3vkRl7sI/AAAAAAAAAPU/j7JxURYsg_E/Anjalimudra_thumb.jpg?imgmax=800" border="0" height="244" width="234" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:130%;"  &gt;Nama “Buddha” berasal dari kata “bud”, seperti kuncup bunga. “Bud” berarti sadar, mengerti, dan mengetahui. Buddha adalah seorang yang telah sadar, yang waspada terhadap segala sesuatu yang terjadi pada saat ini. Tingkat kedalaman pengertian dan cinta kasihnya sangat luar biasa. Siapa pun bisa menjadi Buddha. Kita semua adalah calon Buddha. Kita semua adalah Buddha masa depan yang mampu memilki pengertian yang mendalam serta kemampuan luar biasa untuk mencintai dan meringankan penderitaan makhluk lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:130%;"  &gt;Umat Buddha biasanya memberikan salam kepada sahabat lainnya dengan menyatukan kedua telapak tangan untuk membentuk teratai. Teratai adalah bunga yang sangat indah, keindahan itu terlihat seperti pohon magnolia. Kita menyatukan kedua telapak tangan sambil menarik nafas dan dengan lembut mengatakan, “Sekuntum teratai untukmu.” Lalu kita membungkuk, menghembuskan nafas dan dengan lembut mengatakan “Seorang calon Buddha.” Kita mempersembahkan gerak isyarat ini sebagai hadiah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:130%;"  &gt;Buddha mengatakan bahwa ada banyak Buddha di seluruh penjuru yang sedang membabarkan Dharma, berusaha mengahadirkan cinta kasih dan welas asih ke dalam kehidupan sehari-hari. Buddha menyatakan, “Kamu semua adalah calon Buddha.” Ia benar karena di dalam setiap diri kita ada benih-benih saling pengertian, cinta kasih dan welas asih. Ketika kita menumbuhkan cinta kasih dan saling pengertian, kita menyiramkan air ke benih-benih itu, maka benih-benih itu akan tumbuh mekar dan menghasilkan buah. Jika kita berlatih sesuai ajaran Buddha, kita akan menjadi Buddha.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:130%;"  &gt;Setiap orang merupakan calon Buddha. Oleh sebab itulah kita ingin hidup  dalam jalur yang memberikan kesempatan kepada Buddha dalam diri kita tumbuh mekar. Ketika kita tahu cara bernafas, cara berjalan, cara tersenyum, cara memperlakukan orang lain, tumbuhan, binatang, dan mineral, kita menjadi Buddha nyata. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sumber : Buku &lt;em&gt;Di Bawah Pohon Jambu Air (Thich Nhat Hanh)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-3543783003343504355?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/3543783003343504355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=3543783003343504355&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/3543783003343504355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/3543783003343504355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/09/kamu-adalah-calon-buddha.html' title='Kamu Adalah Calon Buddha'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SqB3vkRl7sI/AAAAAAAAAPU/j7JxURYsg_E/s72-c/Anjalimudra_thumb.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-3208799868924261152</id><published>2009-09-02T22:37:00.001-07:00</published><updated>2009-09-02T22:37:40.293-07:00</updated><title type='text'>Atthaloka Dhamma</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sp9WHEKsH4I/AAAAAAAAAPI/nkiJ1x_b5tc/s1600-h/19827_logo9.jpg"&gt;&lt;img title="19827_logo" style="border-top-width: 0px; display: block; border-left-width: 0px; float: none; border-bottom-width: 0px; margin-left: auto; margin-right: auto; border-right-width: 0px" height="270" alt="19827_logo" src="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sp9WIihlKOI/AAAAAAAAAPM/ue7CotKSU_Q/19827_logo_thumb7.jpg?imgmax=800" width="280" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Delapan Kondisi Yang Tidak Dapat Dihindari.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam hidup ini tidak semuanya berjalan baik atau buruk. Hidup dapat diibaratkan seperti bunga mawar-bunga yang indah namun berduri pada tangkainya. Bagi orang yang optimis akan menganggap bahwa dunia ini dipenuhi mawar. Bagi orang yang pesimistis akan menganggap bahwa hidup ini dipenuhi dengan duri. Bagi orang yang realistis, tidak akan melihat hidup ini hanya dari mawar atau durinya saja. Akan tetapi, ia memandang hidup ini diisi oleh mawar-mawar yang indah bersamaan dengan duri-duri yang tajam. Ia akan memandang bunga mawar apa adanya (ia mampu melihat kenyataan baik dan buruk yang datang silih berganti).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Buddha Gautama mengajarkan bahwa dalam&amp;#160; hidup ada delapan kondisi yang pasti akan dialami oleh setiap manusia tanpa bisa dihindari (Delapan Lokadhamma). Delapan kondisi ini terdiri dari empat kondisi yang selalu diinginkan dan empat kondisi yang selalu tidak diinginkan untuk terjadi. Apa sajakah kedelapan kondisi itu?&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt;   &lt;table cellspacing="0" cellpadding="2" width="400" align="center" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;       &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="200"&gt;&lt;strong&gt;Kondisi yang diinginkan&lt;/strong&gt; &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="200"&gt;&lt;strong&gt;Kondisi yang tidak diinginkan&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="200"&gt;Untung (Labha)&lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="200"&gt;Rugi (Alabha)&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="200"&gt;Kemashyuran (Yaso)&lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="200"&gt;Tak terkenal (Ayaso)&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="200"&gt;Dipuji (Pasamsa)&lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="200"&gt;Dicela (Ninda)&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="200"&gt;Bahagia (Sukkha)&lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="200"&gt;Menderita (Dukkha)&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="left"&gt;Bagaimana kita menyikapi diri kita apabila mengalami salah satu dari delapan kondisi tersebut? Hendaknya kita dapat merenungkan : “Kondisi itu timbul dalam diriku, tetapi ia tidak kekal dan dukkha (tidak memuaskan), sifatnya dapat berubah, harus diketahui sebagaimana adanya”. Jadi dengan kata lain janganlah terlalu gembira akan hal-hal yang menyenangkan ataupun terlalu sedih dalam hal-hal yang tidak menyenangkan. Setelah mengetahui fakta kehidupan yang diajarkan oleh Buddha Gautama, kita menjadi tahu bahwa dalam hidup di dunia ini segalanya berjalan secara seimbang baik dan buruk akan silih berganti. Tidak akan ada orang yang selamanya akan mengalami kebaikan dan tidak akan ada orang yang mengalami keburukan selamanya. Pada saat menerima kebaikan maka kita harus siap mengalami keburukan, demikian pula sebaliknya.&lt;/div&gt;  &lt;div align="left"&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="left"&gt;Sumber : Buku&amp;#160; &lt;em&gt;Ikhtisar Ajaran Buddha&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-3208799868924261152?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/3208799868924261152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=3208799868924261152&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/3208799868924261152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/3208799868924261152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/09/atthaloka-dhamma.html' title='Atthaloka Dhamma'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sp9WIihlKOI/AAAAAAAAAPM/ue7CotKSU_Q/s72-c/19827_logo_thumb7.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-255173413012984445</id><published>2009-09-02T21:49:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T22:36:40.213-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Buddha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buddha'/><title type='text'>Agama Buddha</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sp9V3pqvpPI/AAAAAAAAAPA/2OvS3uop6aY/s1600-h/dhamma1%5B6%5D.jpg"&gt;&lt;img title="dhamma1" style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; border-left: 0px; margin-right: auto; border-bottom: 0px" height="262" alt="dhamma1" src="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sp9V5Tx02WI/AAAAAAAAAPE/PswZbAoE70c/dhamma1_thumb%5B4%5D.jpg?imgmax=800" width="297" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Agama Buddha bukan suatu jalan metafisika maupun suatu jalan ketaatan pada tata cara ritual.&lt;/p&gt;  &lt;blockquote&gt;   &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;Bukan keragu-raguan maupun dogmatis.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;Bukan keabadian maupun kenihilan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;Bukan penyiksaan diri maupun pemuasan diri.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;Bukan pesimisme maupun optimisme tetapi realisme.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;Bukan semata-mata duniawi maupun di atas duniawi.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;Bukan mementingkan hal-hal ke luar tetapi memikirkan ke dalam.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;Bukan theo-sentris tetapi homosentris.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;Agama Buddha adalah suatu Jalan Penerangan Sempurna yang unik.&lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;Dalam bahasa Pali istilah agama Buddha adalah Dhamma, yang secara harafiah, berarti apa yang menegakkan atau menyokong (dia bertindak sesuai dengan prinsip dengan demikian mencegahnya jatuh ke dalam keadaan yang menyedihkan). Tidak ada padanan kata yang dengan tepat dapat menyampaikan arti istilah Pali ini.&lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;Dhamma ialah hal yang nyata. Dhamma adalah Ajaran Kenyataan. Dhamma adalah suatu Alat Pembebasan dari penderitaan dan Pembebasan itu sendiri. Apakah para Buddha muncul atau tidak, Dhamma hidup dalam kekekalan. Sang Buddhalah yang menyadari Dhamma ini, yang pernah tersembunyi karena kebodohan mata manusia, sampai Beliau, Orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, datang dan dengan belas kasih mengungkapkannya pada dunia. &lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;“Apakah para Tathagata muncul atau tidak, O para Bhikku, Dhamma tetap suatu kenyataan, suatu prinsip yang telah terbukti, suatu hukum alam bahwa semua benda yang berkondisi bersifat sementara (anicca), derita (dukkha), dan bahwa segala sesuatu adalah tanpa jiwa (anatta). Kenyataan ini disadari, dimengerti Tathagata dan ketika Beliau telah menyadari dan mengerti hal tersebut, mengumumkan, mengajarkan, menyatakan, membuktikan, menyingkap, menganalisa dan memperjelasnya, bahwa semua benda yang berkondisi adalah sementara, derita, dan bahwa segala sesuatu adalah tanpa jiwa.” (Anguttara Nikaya bag I)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;Dalam Majjhima Nikaya, Sang Buddha menagatakan &lt;em&gt;: “Hanya satu hal yang diajarkan Buddha, yakni penderitaan dan penghentian penderitaan.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;Inilah Ajaran Kenyataan / Realitas.&lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sumber : Buku &lt;em&gt;Sang Buddha dan Ajaran-ajarannya bag.2&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-255173413012984445?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/255173413012984445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=255173413012984445&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/255173413012984445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/255173413012984445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/09/agama-buddha.html' title='Agama Buddha'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sp9V5Tx02WI/AAAAAAAAAPE/PswZbAoE70c/s72-c/dhamma1_thumb%5B4%5D.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-471502436962922362</id><published>2009-08-11T02:52:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T20:56:51.772-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semangat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hee Ah Lee'/><title type='text'>Hee Ah Lee</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.femaleradio.com/2006/images/pic-Hee-Ah-Lee-3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 301px;" src="http://www.femaleradio.com/2006/images/pic-Hee-Ah-Lee-3.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;"Terlahir cacat itu bagiku merupakan anugerah  spesial dari Tuhan. Aku sampaikan pesan bahwa kalian bisa melakukan apapun" kata Hee Ah Lee (21), pianis asal Korea yang terlahir dengan empat jari. &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Ode to Joy karya Beethoven itu mengalun dari piano Hee Ah Lee di Lagoon Tower, Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (28/3) pagi. Itu hanya bagian repertoar sehari-hari Hee, selain juga nomor populer Ballade Pour Adeline, Hungarian Dance dari Brahms, sampai karya Chopin Fantasie Impromptu. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Hee memainkan karya itu dengan empat jari. &lt;span id="more-24"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;&lt;a rel="attachment wp-att-26" href="http://tedysutedja.wordpress.com/2007/03/29/empat-jari-anugerah-hee-ah-lee/hal-02jpg/" title="hal-02.jpg"&gt;&lt;img style="width: 148px; height: 101px;" src="http://tedysutedja.files.wordpress.com/2007/03/hal-02.thumbnail.jpg" alt="hal-02.jpg" align="left" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ia menderita lobster claw syndrome. Pada masing-masing ujung tangan Hee terdapat dua jari yang membentuk huruf V seperti capit kepiting. Kakinya hanya sebatas bawah lutut hingga tak dapat menginjak pedal piano standar. Untuk bermain piano, pedal sengaja ditinggikan agar bisa diinjak oleh kakinya yang pendek itu. Ia juga mengalami keterbelakangan mental. &lt;/span&gt;&lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Kondisi semacam ini mungkin akan dibahasakan orang sebagai kekurangan. Akan tetapi, Hee menyebutnya sebagai "Special Gift", anugerah spesial dari Tuhan.Ia bisa memainkan Piano Concerto No 21 dari Mozart bersama orkes simfoni. Ia mendapat sederet penghargaan atas keterampilan bermain piano. Ia berkeliling dunia, termasuk bermain bersama pianis Richard Clayderman di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;“Aku berkeliling dunia. Aku bermain piano dari sekolah ke sekolah untuk memberi motivasi kepada kaum muda bahwa mereka bisa melakukan apa pun kalau berusaha,” kata Hee. &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Kasih ibu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Hee akan tampil dalam konser Sharing The Strength of Love di Balai Kartini, Jakarta, pada Sabtu (31/3) malam yang digelar promotor Empang Besar Makmur (EBM) bekerja sama dengan Radio Delta FM 99.1 Jakarta dan koran Korea HannhPress. &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;"&gt;&lt;/span&gt;Hee hadir untuk memberi inspirasi kepada orang tentang kekuatan kasih&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt; yang mengubah kekurangan menjadi kekuatan.Hee lahir dari Woo Kap Sun (50). Woo telah mengetahui sejak awal bahwa anaknya akan terlahir cacat. Ayah Hee adalah bekas tentara Korea. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;“Ada sanak keluarga kami menganggap itu sebagai aib. Mereka bahkan menyarankan agar jika kelak lahir, bayi itu dikrim ke panti asuhan,” kata Woo dalam bahasa Korea lewat penerjemah. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Woo menolak saran tersebut. Ia menerima Hee sebagai kenyataan dan anugerah. Ia pun menamai anaknya dengan nama indah. Hee dalam bahasa Korea berarti suka cita. Dan Ah adalah tunas pohon yang terus tumbuh, sedangkan Lee nama marga. Hee Ah Lee adalah suka cita yang terus tumbuh bagai pohon.&lt;/span&gt; “Ketika lahir saya melihat, ah betapa cantiknya dia. Ini anugerah Tuhan,” kata Woo dengan muka berbinar.&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;“Saya bacakan cerita-cerita sebelum tidur. Saya nyanyikan lagu-lagu untuk dia dalam buaian,” lanjut ibu yang tangguh itu. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Woo merawat, mendidik dan memperkenalkan Hee pada kehidupan nyata. Ia memperlakukan Hee sebagaimana anak-anak lain. Untuk melatih kekuatan otot tangan, Hee diajarinya bermain piano sejak usia 6 tahun. Saat itu, jarinya belum mampu mengangkat pensil. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Hee mengenang guru piano pertamanya yaitu Cho Mi Kyong sebagai guru yang keras. Sang guru memperlakukan Hee sebagai murid dengan sepuluh jari. Ia tidak melatih Hee dengan pertimbangan rasa kasihan karena kondisi fisik. “Guru saya bilang, jangan bersikap sebagai orang cacat. Tapi bermainlah sebagai orang normal,” kenang Hee yang selalu ramah dalam bertutur.“Aku berlatih terus hingga lelah dan menangis. Betapa sulit bermain dengan empat jari. Susah sekali bagiku memainkan notasi yang bersambungan,” kata Hee lagi. Ketika Hee memainkan arpeggio atau memainkan chord secara melodik dan runut, memang terdengar ada not yang terlompati. Tapi, itu tidak merusak melodi ataupun mengubah bangun komposisi. Ia mengaku 70 persen bermain dengan hati dan sisanya dengan teknik yang ia kondisikan untuk empat jari. &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Pernah menyerah? Patah semangat?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;“Bayangkan Anda makan satu jenis makanan terus menerus. Aku pernah bosan. Tapi, aku memakannnya terus. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Aku berlatih terus menerus,” kata Hee tentang ketekunan. &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Percaya diri&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Begitulah, diam-diam sang ibu menanamkan rasa percaya diri. Ia menggembleng Hee agar tumbuh mandiri, penuh percaya diri dan bersemangat baja menghadapi hidup. Bayangkan, untuk bisa memainkan karya Chopin Fantasie Impromptu, Hee berlatih lima sampai sepuluh jam sehari selama&lt;br /&gt;lima tahun. Hasilnya memang luar biasa. Umur 12 tahun, Hee telah menggelar resital piano tunggal. “Ibu menanamkan rasa percaya diri padaku. Bahwa aku harus bisa melakukan segalanya sendiri. Bahwa kalau aku bisa main piano, aku bisa melakukan apa saja. meski aku tahu itu makan waktu banyak,” ungkap Hee.Piano menjadi sahabat dan jendela bagi Hee untuk melangkah di pentas kehidupan. Ia lalui masa kecil dengan bahagia seperti kebanyakan anak-anak. Ketika ada cercaan orang, Hee menghadapinya secara dewasa. “Teman-teman ada yang mengatai aku sebagai hantu atau monster. Tetapi, aku menerima itu,” kata Hee, tetap dengan senyum.“Aku tidak pernah membandingkan diri dengan orang lain atau merasa beda dengan yang lain. Aku hanya ingin melakukan sesuatu seperti orang lain,” kata Hee pula.He Ah Lee menjadi inspirasi bagi mereka yang merasa diri sempurna untuk berbuat sesuatu bagi kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Don’t judge the book by it’s cover&lt;/em&gt;, jangan menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja. Mungkin ini ungkapan yang tepat saat melihat sosok &lt;strong&gt;Hee Ah Lee&lt;/strong&gt;. Betapa tidak, fisiknya jauh dari ukuran normal. Tangannya hanya punya empat jari berbentuk capit, sedangkan kakinya pun pendek sebatas ukuran lutut. Orang pasti akan kasihan melihat sosok wanita kelahiran Korea 22 tahun lalu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, rasa kasihan ini akan segera berubah menjadi kekaguman jika melihat Hee Ah Lee memainkan piano. Bayangkan, nada-nada sulit musik klasik karya komponis kenamaan seperti &lt;strong&gt;Chopin, Beethoven, Mozart&lt;/strong&gt;, bisa dimainkannya dengan sangat apik. Padahal, tidak ada not balok dari musik klasik itu yang khusus dibuat untuk dimainkan dengan hanya empat jari. Hee sendirilah, yang mengubah empat jarinya sehingga mampu menari di atas tuts-tuts piano dengan lincah, layaknya sepuluh jari orang normal. &lt;strong&gt;”&lt;em&gt;Dari awal belajar piano memang saya diperlakukan sebagai orang normal&lt;/em&gt;,”&lt;/strong&gt;sebut Hee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlahir dari seorang ibu bernama Woo Kap Sun, Hee sebenarnya sangat beruntung. Sebab, Woo yang tahu akan melahirkan bayi cacat dari awal menolak mentah-mentah anjuran beberapa orang dekatnya untuk menitipkan anaknya ke panti asuhan setelah lahir. Woo juga yang merawat, mendidik, dan mengajari Hee seperti orang normal lain. Woo bahkan menyebut anaknya itu sebagai anugerah Tuhan meski terlahir kurang sempurna. Ibunya itu juga yang kemudian dengan kesabaran ekstra mengajari Hee bermain piano sejak usia enam tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mulai main piano, Hee bahkan tidak bisa memegang pensil. Butuh waktu dan kerja keras, serta dilandasi keuletan yang luar biasa untuk melatih jari-jari Hee. Belum lagi untuk mengenalkan not balok pada Hee yang punya keterbelakangan mental. Awalnya, untuk menguasai sebuah lagu saja, dibutuhkan waktu sekitar satu tahun. Itu pun bisa dilakukan hanya dengan latihan intensif minimal sepuluh jam dalam sehari. Sungguh, gabungan cinta kasih seorang ibu ditambah ketekunan Hee sebagai anak, merupakan sebuah kekuatan yang mampu mengubah kekurangan dan keterbatasan menjadi kelebihan yang luar biasa. Hee menyebut, ibunyalah yang telah menggembleng dirinya agar tumbuh mandiri, percaya diri, dan bersemangat baja menghadapi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemampuan yang diperoleh dari ketekunan dan keuletan berlatih itu, Hee kini telah berkeliling dunia. Ia menginspirasi orang dengan keyakinan bahwa tidak ada yang tak mungkin di dunia ini jika kita mau bekerja keras dan sungguh-sungguh berusaha mewujudkannya. Meski begitu, sebagai manusia biasa ia pun mengaku pernah mengalami patah semangat. &lt;strong&gt;“&lt;em&gt;Bayangkan Anda makan satu jenis makanan terus menerus sampai bosan. Tapi, aku memakannya terus. Aku berlatih terus menerus&lt;/em&gt;,”&lt;/strong&gt; sebut Hee tentang bagaimana menaklukkan kebosanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sederet penghargaan atas keterampilan bermain piano telah diterimanya. Ia juga telah mempunyai album musik sendiri berjudul Hee-ah, Pianist with Four Finger. Dengan berbagai kelebihan yang diolah dari kekurangan itu lah, kini ia juga mempunyai kehendak lain yang mulia, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Aku akan berkeliling dunia, bermain piano dari sekolah ke sekolah untuk memberi motivasi kepada kaum muda bahwa mereka bisa melakukan apa pun kalau berusaha&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,” kata Hee. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sungguh, sosok Hee Ah Lee adalah gambaran nyata keteladanan seseorang dengan ketekunan yang luar biasa. Hanya dengan keyakinan, keuletan, dan kerja keras disertai semangat pantang menyerah, seseorang dapat merubah nasibnya. Jika Hee yang kurang sempurna saja mampu, bagaimana dengan kita yang terlahir sempurna? Tinggal keyakinan dan tekad kuat disertai usaha sungguh-sungguh lah yang akan merubah kita.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-471502436962922362?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/471502436962922362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=471502436962922362&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/471502436962922362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/471502436962922362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/08/hee-ah-lee.html' title='Hee Ah Lee'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-5968271685140845795</id><published>2009-08-07T23:36:00.000-07:00</published><updated>2009-08-07T23:40:38.936-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Zen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='zen'/><title type='text'>Cerita Zen 2</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerita Zen 4 - Warna Bambu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kaya mengundang seorang pelukis ternama untuk melukis lukisan bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kaya : Wah, lukisan bambunya sangat indah. Sayang warna bambu-nya merah. Salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukis : Lantas, kamu mau bambu-mu warna apa ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kaya : Hitam donk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukis : Siapa yang pernah tahu warna bambu hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;Kita sering menunjukkan kesalahan orang lain. Tetapi kesimpulan kita belum tentu juga benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerita Zen 5 - Berdamai dengan diri sendiri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang dokter militer yang mengikuti pasukan ke medan perang. Ia mengobati tentara yang terluka di medan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pasiennya sembuh dari luka, mereka di kirim kembali untuk bertempur. Akibatnya, mereka terluka lagi, lalu terbunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melihat skenario ini berulang-ulang, dokter tersebut akhirnya mengalami patah semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirnya : Bila seseorang ditakdirkan untuk mati, mengapa aku harus menyelamatkannya ? Bila pengetahuian medisku ada gunanya, mengapa ia pergi ke medan perang dan kehilangan nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter tersebut tidak memahami apakah ada artinya ia menjadi dokter militer, dan ia sangat sedih sehingga ia tidak mampun menyembuhkan orang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, ia naik gunung untuk mencari seorang master Zen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bersama seorang master Zen selama beberapa bulan ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ia mengerti masalah dia sepenuhnya. Ia turun gunung untuk terus berpraktek sebagai dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya : INI KARENA AKU SEORANG DOKTER.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan&lt;br /&gt;Tidak meng-identifikasi diri sendiri dengan sesuatu atau menghubungkan sesuatu dengan "aku" dan mengerti bahwa ide adanya "aku" yang berbeda dari benda lain adalah noda, itulah kebijaksanaan sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="post"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerita Zen 6 - Barang antik jenderal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Jendral perang sedang mengagumi barang antiknya yang sangat berharga. Tiba-Tiba...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jendral : AIYAH !!! Hampir saja jatuh... (saking terkejutnya, keringat jendral bercucuran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia berpikir : "Aku telah memimpin sepuluh ribu pasukan dalam medan perang, dan tak pernah takut, bahkan tidak pernah takut mati. Mengapa aku begitu cemas oleh cangkir sekecil ini &lt;img src="file:///C:/Documents%20and%20Settings/hendra/Desktop/index.php_files/huh.gif" alt="Huh?" border="0" /&gt; "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia akhirnya menyadari bahwa kecintaan yang membawa rasa takut kehilangan menyebabkan kecemasannya. Ia pun melempar cangkir itu melewati bahunya dan cangkir itu hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan&lt;br /&gt;Dimana ada pengetahuan dan perasaan untung serta rugi, ada kesenangan dan kesedihan. Bisa mengatasi baik dan buruk, untung dan rugi adalah keberuntungan sejati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                           &lt;table style="table-layout: fixed;" width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="2" class="smalltext" width="100%"&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-5968271685140845795?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/5968271685140845795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=5968271685140845795&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/5968271685140845795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/5968271685140845795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/08/cerita-zen-2.html' title='Cerita Zen 2'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-7974318011138556436</id><published>2009-08-04T00:48:00.000-07:00</published><updated>2009-08-04T00:53:26.744-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Zen'/><title type='text'>Cerita Zen</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa itu Zen?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan kecil bertanya pada ikan besar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan kecil : Aku sering mendengar ikan lain bicara tentang laut. Tapi apa itu laut?&lt;br /&gt;Ikan besar : Di sekelilingmu adalah laut.&lt;br /&gt;Ikan kecil : Mengapa aku tidak bisa melihatnya ?&lt;br /&gt;Ikan besar : Kamu tinggal, bergerak, dan hidup di laut. Laut ada di dalam dan di luarmu. Laut memberimu kehidupan dan pada saat kematian kamu kembali ke asalmu. Laut melingkupimu seperti dirimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan : Ikan-ikan hidup di sungai dan didanau tidak menyadarinya. Manusia hidup di lautan ZEN tetapi tidak mengenal hakikat ZEN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membawa gadis menyeberangi sungai &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Zen Jepang Tanzan dan rahib muda Ekido bertemu dengan seorang gadis cantik yang tidak bisa menyeberangi sungai kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanzan : Aku akan menggendongmu menyeberangi sungai. (kata Tanzan kepada gadis tersebut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah di seberang sungai.&lt;br /&gt;Gadis : Guru, terima kasih dan selamat tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanzan dan rahib muda Ekido kemudian meneruskan perjalanan. Setelah setengah hari perjalanan. Rahib muda Ekido berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekido : Guru, kita bhiksu tidak boleh mendekati perempuan. Mengapa tadi anda menggendong gadis tersebut ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanzan : Gadis mana yang kamu maksud ? Aku sudah menurunkannya sejak tadi. Mengapa anda masih memikirkannya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan : : Orang yang menggendong gadis tersebut melakukan tanpa nafsu. Dia melakukannya dengan spontan dan tanpa pamrih. Bukankah rahib muda yang punya nafsu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bila aku tidak masuk neraka, siapa yang mau ??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Umat bertanya pada master Zen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat : Setelah hidup seratus tahun, kemana seorang bhiksu seperti anda akan berakhir ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Master : Aku akan menjadi keledai atau kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat : Dan setelah itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Master : Aku akan masuk neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat : Tapi anda adalah simbol kebajikan. Mengapa anda turun ke neraka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Master : Bila aku tidak masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka untuk mencerahkanmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;Bila orang menghubungkan dharma dengan tempat yang bersih saja, apakah ini berarti bahwa dharma tidak ada di tempat yang kotor seperti toilet jorok? Dharma meliputi semua dan tidak punya tempat yang tetap. Dharma ada di surga, tapi bukankah di neraka Dharma lebih diperlukan&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-7974318011138556436?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/7974318011138556436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=7974318011138556436&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/7974318011138556436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/7974318011138556436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/08/cerita-zen.html' title='Cerita Zen'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-3145903207185761681</id><published>2009-07-16T05:29:00.001-07:00</published><updated>2009-07-16T05:33:41.392-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menghormati Seks dan Tubuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thich Nhat Hanh'/><title type='text'>Menghormati Seks dan Tubuh</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sl8dBae16AI/AAAAAAAAAO0/MTIP7UZ9sSw/s1600-h/lotusk%5B5%5D.jpg"&gt;&lt;img title="lotusk" style="border: 0px none ; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="lotusk" src="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sl8dCsNPCrI/AAAAAAAAAO4/tP9zgCWmnN8/lotusk_thumb%5B3%5D.jpg?imgmax=800" width="240" border="0" height="192" /&gt;&lt;/a&gt; by : Thich Nhat Hanh&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;Seorang manusia terbentuk dari tubuh dan pikiran. Suatu hal yang berbahaya apabila hanya berkomunikasi melalu tubuh dan tidak berkomunikasi melalui perasaan. Ketika kita saling mencintai, kita ingin saling berdekatan, akan tetapi apakah itu adalah kedekatan perasaan melalui komunikasi, pengertian dan berbagi nilai-nilai spiritual? Jika kedekatan demikian yang terjadi, maka bersatunya dua tubuh memiliki makna dan kebahagiaan. Kalau dua tubuh bersatu tanpa bersatunya  perasaan, mereka akan menderita. Jika demikian yang terjadi, maka kita sebut sebagai bersatunya dua tubuh “seks hampa”.&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;Beberapa bagian dari tubuh kita sangatlah suci, seperti puncak kepala kita. Puncak kepala merupakan altar bagi bagi orang-orang Asia, khususnya orang vietnam dan kita meletakkan benda-benda paling suci di atas altar kita. Ketika kita memasuki sebuah rumah di Vietnam, meskipun keluarga itu sangatlah miskin, disana selalu ada altar leluhur, diatas altar ada buah, bunga dan dupa. Kita merawat altar tersebut dengan sungguh-sungguh, altar itu suci.&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;Demikian pula, bagian-bagian suci tubuh yang mana kita tidak ingin siapa pun melihat atau menyentuhnya. Hal ini berlaku untuk pria dan wanita. Kita dapat menggenggam tangan seseorang atau meletakkan tangan kita pada pundak seseorang, tetapi kita seharusnya tidak menyentuh area-area suci tubuh. Tubuh kita suci seperti perasaan kita, dan kita tidak dapat berbagi tubuh kita dengan sembarang orang.&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;Ada juga area-area suci di dalam perasaan kita yang mana kita tidak ingin sembarang orang melihat atau menyentuhnya. Di sana ada pengalaman-pengalaman dan kenangan yang ingin kita simpan untuk diri kita saja. Kita tidak ingin berbagi hal-hal itu dengan sembarang orang kecuali kepada seseorang yang paling kita cintai. Kita memberitahukan perasaan-perasaan itu dari lubuk hati kita yang paling dalam kepada beberapa orang saja, kemungkinan hanya satu orang. Hanya jika kita memiliki seorang yang sungguh-sungguh memahami kita, kita dapat berbagi area-area sangat suci dari tubuh dan perasaan kita. Kemudian bersatunya dua tubuh menjadi bersatunya dua perasaan dan hal itu adalah perayaan suci yang dapat membawa kebahagiaan.&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;Ketika anak-anak berumur dua belas, tiga belas, atau empat belas tahun melakukan hubungan seksual, apa yang terjadi? Kedua tubuh mereka bersatu, dikuasai oleh nafsu seksual. Kedua anak tersebut tidak mengerti atau mengenal satu sama lainnya. Mereka tidak mengetahui apa itu cinta, mereka melakukan seks hampa. Hal ini berbahaya, karena kedua anak muda ini akan menjelajahi jalan nafsu seksual yang mana tidak ada perasaan apapun kecuali seks tanpa pengertian. Di masa depan, mereka tidak akan mengetahui apa itu cinta sejati. Mereka bagaikan buah yang belum matang, bunga yang belum mekar.&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;Satu-satunya cara untuk menjadi dekat dengan seseorang adalah melalui pengertian yang mendalam, berbagi penderitaan dan cita-cita satu sama lainnya. Ketika kita tidur bersama seseorang kita mungkin merasakan kita bahwa kita berada dekat dengannya, kita sedang berkomunikasi, akan tetapi itu hanyalah ilusi. Realitasnya, bersatunya dua tubuh dapat membawa jurang pemisah yang lebih besar. Banyak orang tahu mereka tidak mengerti, tidak mencintai atau tidak berbagi secara mendalam dengan pasangan seksualnya, akibat kurang komunikasi tersebut dapat mengarahkan kepada keretakan besar di antara mereka. Hal ini berbahaya. Kita perlu berlatih komunikasi, pertama-tama yaitu dengan mendengarkan secara mendalam dan berbicara dengan penuh cinta kasih.&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;Sebagian besar dari kita memandang rendah tubuh  dan perasaan kita, dan kita tidak melihat adanya kesucian di situ. Jika kita masih muda, kita seharusnya melindungi tubuh kita dan mempraktikkan tanggung jawab seksual. Jika kita melakukan hubungan seksual tanpa melindungi integritas tubuh dan pikiran kita atau tubuh dan pikiran orang yang kita cintai, kita sedang melakukan kekerasan terhadap mereka dan diri kita sendiri.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-3145903207185761681?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/3145903207185761681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=3145903207185761681&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/3145903207185761681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/3145903207185761681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/07/menghormati-seks-dan-tubuh.html' title='Menghormati Seks dan Tubuh'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sl8dCsNPCrI/AAAAAAAAAO4/tP9zgCWmnN8/s72-c/lotusk_thumb%5B3%5D.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-7023919385024455798</id><published>2009-07-04T04:03:00.000-07:00</published><updated>2009-07-04T04:11:11.146-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='USA for Africa - We Are The World'/><title type='text'>USA for Africa - We Are The World</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/k2W4-0qUdHY&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/k2W4-0qUdHY&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;strong&gt;“&lt;em style=""&gt;There comes a time, when we need a certain call. When the world, must come together as one&lt;/em&gt;.” &lt;/strong&gt;Anda tahu lirik lagu ini? Itulah lirik pembuka dari lagu “We are the World” yang sangat populer pada tahun 1985. Lagu ini dinyanyikan secara keroyokan oleh para musisi ternama dunia, mulai dari Michael Jackson, Bob Dylan, Stevie Wonder, Tina Turner, Bruce Springsteen, Paul Simon, Kenny Rogers, dan masih banyak lagi.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;" class="MsoNormal" align="left"&gt;Lagu ini melodinya indah, liriknya juga sederhana dan mudah diingat. Karakter vokal yang unik dari para musisi ternama ini mampu membuat harmonisasi suara yang indah, sehingga masih terngiang-ngiang di telinga kita sampai saat ini walaupun sudah lebih dari 20 tahun.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;" class="MsoNormal" align="left"&gt;Proyek yang digarap oleh Quincy Jones ini bertujuan untuk mengumpulkan dana dalam rangka membantu upaya pemberantasan kelaparan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Ethiopia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Pada tahun 1984-1985 itu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Ethiopia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; memang sedang mengalami tragedi kemanusiaan kekurangan pangan akibat musim kering yang berkepanjangan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;We are the world&lt;br /&gt;We are the children&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We are the ones who make a brighter day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So let's start giving.&lt;br /&gt;There's a choice we're making&lt;br /&gt;We're saving our own lives.&lt;br /&gt;It's true&lt;br /&gt;Well make a better day&lt;br /&gt;Just you and me.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-7023919385024455798?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/7023919385024455798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=7023919385024455798&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/7023919385024455798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/7023919385024455798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/07/usa-for-africa-we-are-world.html' title='USA for Africa - We Are The World'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1595529387195276470</id><published>2009-07-01T06:16:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T21:20:57.920-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Disaat daku tua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Disaat daku tua…</title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktiOzBSJuI/AAAAAAAAANk/NaUkpFRcI1g/s1600-h/187539732_89a7d9212b%5B2%5D.jpg"&gt;&lt;img title="187539732_89a7d9212b" style="border-width: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="187539732_89a7d9212b" src="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktiQe8QAtI/AAAAAAAAANo/1A_6wthCoHI/187539732_89a7d9212b_thumb.jpg?imgmax=800" border="0" height="244" width="244" /&gt;&lt;/a&gt;                 Disaat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu. Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktieLvO6PI/AAAAAAAAANs/ysr6BoQmDt8/s1600-h/geriatrics%5B2%5D.jpg"&gt;&lt;img title="geriatrics" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="geriatrics" src="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktijM7uN-I/AAAAAAAAANw/fI4QIWupNSA/geriatrics_thumb.jpg?imgmax=800" border="0" height="244" width="235" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt;Disaat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku, Disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu, ingatlah  saat saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sktim2k3RYI/AAAAAAAAAN0/AcxuTmBJsSc/s1600-h/Paktua%5B2%5D.jpg"&gt;&lt;img title="Paktua" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="Paktua" src="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktioyaPXLI/AAAAAAAAAN4/mE_G2RhG6Ec/Paktua_thumb.jpg?imgmax=800" border="0" height="244" width="164" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt;Disaat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu,   Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku, Di masa kecilmu, Daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktirvlukCI/AAAAAAAAAN8/d14VYzWxXwg/s1600-h/grandmother%5B2%5D.jpg"&gt;&lt;img title="grandmother" style="border-width: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="grandmother" src="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktitX0_uUI/AAAAAAAAAOA/85HgGsd1MaU/grandmother_thumb.jpg?imgmax=800" border="0" height="163" width="244" /&gt;&lt;/a&gt; Disaat saya membutuhkanmu untuk memandikanku, Janganlah menyalahkanku. Ingatkah di masa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara untuk membujukmu untuk mandi?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sktivqw7nUI/AAAAAAAAAOE/G5dZu3QNAUk/s1600-h/683887-grandmother-hungary%5B2%5D.jpg"&gt;&lt;img title="683887-grandmother-hungary" style="border-width: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="683887-grandmother-hungary" src="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktixQm3III/AAAAAAAAAOI/hgLMY2KQBDg/683887-grandmother-hungary_thumb.jpg?imgmax=800" border="0" height="244" width="244" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt;Disaat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,    Janganlah menertawaiku. Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan disaat masih kecil.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sktiy4HRRzI/AAAAAAAAAOM/hWJdykmaoUA/s1600-h/old_guy%5B4%5D.jpg"&gt;&lt;img title="old_guy" style="border-width: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="old_guy" src="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Skti9LYolYI/AAAAAAAAAOQ/E9jxreZV-QU/old_guy_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800" border="0" height="243" width="228" /&gt;&lt;/a&gt;Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan, Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku. Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktjASz1DCI/AAAAAAAAAOU/VNUpXirubcI/s1600-h/riley-grandfather%5B2%5D.jpg"&gt;&lt;img title="riley-grandfather" style="border-width: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="riley-grandfather" src="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktjC5twgLI/AAAAAAAAAOY/CPymFrNnhW4/riley-grandfather_thumb.jpg?imgmax=800" border="0" height="184" width="244" /&gt;&lt;/a&gt;Disaat daku melupakan topik pembicaraan kita, Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya. Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktjEJtrUEI/AAAAAAAAAOc/Ebk-A1qx8WE/s1600-h/grandfather%5B2%5D.jpg"&gt;&lt;img title="grandfather" style="border-width: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="grandfather" src="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktjGNo52NI/AAAAAAAAAOg/9ei83Lf94mQ/grandfather_thumb.jpg?imgmax=800" border="0" height="244" width="196" /&gt;&lt;/a&gt;Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih. Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktjIFcLTuI/AAAAAAAAAOk/2nLjlEg84YQ/s1600-h/Grandfather%20and%20infant%5B7%5D.jpg"&gt;&lt;img title="Grandfather and infant" style="border-width: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="Grandfather and infant" src="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktjOYzkTYI/AAAAAAAAAOo/Vbl2WbHSyfk/Grandfather%20and%20infant_thumb%5B3%5D.jpg?imgmax=800" border="0" height="268" width="219" /&gt;&lt;/a&gt;Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku. Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, Daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur. Didalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: center;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1595529387195276470?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1595529387195276470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1595529387195276470&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1595529387195276470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1595529387195276470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/07/disaat-daku-tua.html' title='Disaat daku tua…'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SktiQe8QAtI/AAAAAAAAANo/1A_6wthCoHI/s72-c/187539732_89a7d9212b_thumb.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1061058571232120530</id><published>2009-06-20T06:34:00.001-07:00</published><updated>2009-06-20T06:34:23.132-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konosuke Matshushita'/><title type='text'>Konosuke Matsushita</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzlSxltrVI/AAAAAAAAANc/TxVeOgAzJzs/s1600-h/image2.png"&gt;&lt;img title="image" style="border-top-width: 0px; display: block; border-left-width: 0px; float: none; border-bottom-width: 0px; margin-left: auto; margin-right: auto; border-right-width: 0px" height="231" alt="image" src="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzlXDghKbI/AAAAAAAAANg/yWf1s_d4Amg/image_thumb.png?imgmax=800" width="244" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&amp;#160;&lt;em&gt;Pegawai Toko Sepeda Yang Menjadi Raja Elektrik Jepang&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Konosuke Matsushita lahir tahun 1894 di Desa Wasa, Wakayama, Jepang. Saat dia berusia 16 tahun dia bekerja di Osaka Electric Light Company. Tahun 1915 dia kawin dengan Mumeno Iue. Pada usia 23 dia mendirikan perusahaan Matsuhita Electric Appliance Factory dengan 3 orang karyawan (dia, istrinya, dan adik istri).    &lt;br /&gt;Merk yang dipakai Matsuhita adalah ‘National’. Tahun 1947 dia mengijinkan adik iparnya untuk mendirikan Sanyo Electric. Tahun 1954 dia mendukung perusahaan JVC. Konosuke wafat 27 April 1989 dengan meninggalkan kekayaan pribadi US$3 billion dan aset perusahaan senilai US$42billion.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelajaran yang dapat dipetik dari kehidupan Konosuke Matsushita:&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;Banyak hal yang pada awalnya tidak berjalan sesuai dengan rencana, tapi kalau terus berusaha dan tidak menyerah, pasti ada jalan keluar lainnya. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Tidak ada seorangpun yang hidup tanpa masalah dan tanpa rasa bimbang.      &lt;br /&gt;Hidup manusia dikatakan sempurna setelah ia menghadapi berbagai permasalahan dan dapat mengatasi permasalahan. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Sebaiknya kita mencoba mendengar pendapat orang lain tentang sesuatu hal walaupun kita sudah tahu tentang masalah itu. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Kita harus mendengarkan pendapat orang lain itu dengan tulus, karena hal itu akan menambah pengetahuan kita dan menjadikan kita lebih bijaksana. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Tiga kata (PHP) yang diidamkan setiap orang: peace (perdamaian), happyness (kebahagiaan), dan prosperity (kemakmuran). &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Kalau kita jual barang yang diinginkan oleh masyarakat banyak dengan harga yang      &lt;br /&gt;terjangkau dan kualitas yang baik, bisa dipastikan barang itu laku. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Semakin banyak orang yang tidak berani menggunakan uangnya, akibatnya resesi ini akan bertambah buruk. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Kita harus selalu mempunyai cita-cita yang lebih besar setelah cita-cita kita yang lain tercapai, dan kita harus selalu berusaha untuk mencapai cita-cita kita. &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cerita Konosuke :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada suatu hari, ketika Jepang belum semakmur sekarang, datanglah seorang peminta-minta ke sebuah toko kue yang mewah dan bergengsi untuk membeli manju (kue Jepang yang terbuat dari kacang hijau dan berisi selai).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bukan main terkejutnya si pelayan melihat pelanggan yang begitu jauh sederhana di tokonya yang mewah dan bergengsi itu. Karena itu dengan terburu-buru ia membungkus manju itu. Tapi belum lagi ia sempat menyerahkan manju itu kepada si pengemis, muncullah si pemilik toko berseru, “Tunggu, biarkan saya yang menyerahkannya”. Seraya berkata begitu, diserahkannya bungkusan itu kepada si pengemis.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si pengemis memberikan pembayarannya. Sembari menerima pembayaran dari tangan si pengemis, ia membungkuk hormat dan berkata, “Terima kasih atas kunjungan anda”.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah si pengemis berlalu, si pelayan bertanya pada si pemilik toko, “Mengapa harus anda sendiri yang menyerahkan kue itu? Anda sendiri belum pernah melakukan hal itu pada pelanggan mana pun. Selama ini saya dan kasirlah yang melayani pembeli”.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si pemilik toko itu berkata, “Saya mengerti mengapa kau heran. Semestinya kita bergembira dan bersyukur atas kedatangan pelanggan istimewa tadi. Aku ingin langsung menyatakan terima kasih. Bukankah yang selalu datang adalah pelanggan biasa, namun kali ini lain.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Mengapa lain,” tanya pelayan. “Hampir semua dari pelanggan kita adalah orang kaya. Bagi mereka, membeli kue di tempat kita sudah merupakan hal biasa. Tapi orang tadi pasti sudah begitu merindukan manju kita sehingga mungkin ia sudah berkorban demi mendapatkan manju itu. Saya tahu, manju itu sangat panting baginya. Karena itu saya memutuskan ia layak dilayani oleh pemilik toko sendiri. Itulah mengapa aku melayaninya”, demikian penjelasan sang pemilik toko.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Konosuke Matsushita, pemilik perusahaan Matsushita Electric yang terkemuka itu, menutup cerita tadi dengan renungan bahwa setiap pelanggan berhak mendapatkan penghargaan yang sama. &lt;strong&gt;Nilai seorang pelanggan bukanlah ditentukan oleh prestise pribadinya atau besarnya pesanan yang dilakukan.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang usahawan sejati mendapatkan sukacita dan di sinilah ia harus meletakkan nilainya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;Kesuksesan itu 99% hasil keringat, hanya 1% saja yang digoreskan takdir….&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1061058571232120530?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1061058571232120530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1061058571232120530&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1061058571232120530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1061058571232120530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/06/konosuke-matsushita.html' title='Konosuke Matsushita'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzlXDghKbI/AAAAAAAAANg/yWf1s_d4Amg/s72-c/image_thumb.png?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-8012969599787633738</id><published>2009-06-20T06:30:00.001-07:00</published><updated>2009-06-20T06:40:30.692-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Smile Again'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Smile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kata Bijak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Smile is Important</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;A smile is the light your window that tells others that     &lt;br /&gt;there is a caring, sharing person inside      &lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzjyfenCAI/AAAAAAAAALk/VkuXRKkO0Yg/s1600-h/image0023.jpg"&gt;&lt;img title="image002" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="image002" src="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzjzWOHzoI/AAAAAAAAALo/I8L6U1KsH5A/image002_thumb.jpg?imgmax=800" width="244" border="0" height="163" /&gt;&lt;/a&gt;    &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Life is short but a smile is takes barely a second&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;b&gt;   &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sjzj1nXXPjI/AAAAAAAAALs/tm57YlvzNeU/s1600-h/image0033.jpg"&gt;&lt;img title="image003" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="image003" src="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sjzj241A3gI/AAAAAAAAALw/1g6s-kFSXdQ/image003_thumb.jpg?imgmax=800" width="244" border="0" height="162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Every tear has a smile behind it&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;b&gt; &lt;/b&gt;    &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sjzj4l_T_ZI/AAAAAAAAAL0/L2RIjUqRSGM/s1600-h/image0043.jpg"&gt;&lt;img title="image004" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="image004" src="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sjzj5r7RECI/AAAAAAAAAL4/wrVBYy-7ZOc/image004_thumb.jpg?imgmax=800" width="244" border="0" height="165" /&gt;&lt;/a&gt;      &lt;br /&gt;A smile is a curve that sets everything straight&lt;/p&gt;    &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sjzj7JYWBUI/AAAAAAAAAL8/O3V2ovslNnA/s1600-h/image0053.jpg"&gt;&lt;img title="image005" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="image005" src="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sjzj8OuovtI/AAAAAAAAAMA/bKga84q0C2Y/image005_thumb.jpg?imgmax=800" width="244" border="0" height="166" /&gt;&lt;/a&gt;      &lt;br /&gt;A good neighbor is a fellow who smiles at you over the back      &lt;br /&gt;fence, but doesn't climb over it&lt;/p&gt;    &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sjzj9jJcjcI/AAAAAAAAAME/gDZS4bQ6KmI/s1600-h/image0063.jpg"&gt;&lt;img title="image006" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="image006" src="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/Sjzj-l2Y4JI/AAAAAAAAAMI/pKMWIm9QQ0Q/image006_thumb.jpg?imgmax=800" width="244" border="0" height="162" /&gt;&lt;/a&gt;      &lt;br /&gt;If you see a friend without a smile; give him one of yours&lt;/p&gt;    &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkAJApXuI/AAAAAAAAAMM/3w59ojklWuM/s1600-h/image0073.jpg"&gt;&lt;img title="image007" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="image007" src="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkA5hGz4I/AAAAAAAAAMQ/Rx3S3fohzgg/image007_thumb.jpg?imgmax=800" width="163" border="0" height="244" /&gt;&lt;/a&gt;      &lt;br /&gt;A smile on the lips, a grin spreads to the eyes, a chuckle      &lt;br /&gt;comes from the belly, but a good laugh bursts forth from soul,      &lt;br /&gt;over flows, and bubbles all around&lt;/p&gt;    &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkCT-uu7I/AAAAAAAAAMU/FQXYKQgvc6E/s1600-h/image0083.jpg"&gt;&lt;img title="image008" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="image008" src="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkDgjVkHI/AAAAAAAAAMY/KYL3tn8_GyQ/image008_thumb.jpg?imgmax=800" width="166" border="0" height="244" /&gt;&lt;/a&gt;      &lt;br /&gt;Because of your smile, you make life more beautiful&lt;/p&gt;    &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkE_Qb1QI/AAAAAAAAAMc/qLrMAs4uxsQ/s1600-h/image0093.jpg"&gt;&lt;img title="image009" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="image009" src="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkGMrFpWI/AAAAAAAAAMg/HUaX87LT6Jo/image009_thumb.jpg?imgmax=800" width="244" border="0" height="244" /&gt;&lt;/a&gt;      &lt;br /&gt;Too often we under estimate the power of a smile,      &lt;br /&gt;which have the potential to turn a life around&lt;/p&gt;    &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkHzq-SoI/AAAAAAAAAMk/tRzzP3Z87aQ/s1600-h/image0103.jpg"&gt;&lt;img title="image010" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="image010" src="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkIxGe9dI/AAAAAAAAAMo/ZD2EmkMg18o/image010_thumb.jpg?imgmax=800" width="244" border="0" height="163" /&gt;&lt;/a&gt;      &lt;br /&gt;Smiles are the language of love&lt;/p&gt;    &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkMtyKhYI/AAAAAAAAAMs/3Abv90TbdUs/s1600-h/image0113.jpg"&gt;&lt;img title="image011" style="border-width: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="image011" src="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkNi39vFI/AAAAAAAAAMw/sX4yPfu2LC8/image011_thumb.jpg?imgmax=800" width="226" border="0" height="244" /&gt;             &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkMtyKhYI/AAAAAAAAAMs/3Abv90TbdUs/s1600-h/image0113.jpg"&gt;&lt;b&gt;The real man smiles in troble, gathers strength from distress,        &lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkMtyKhYI/AAAAAAAAAMs/3Abv90TbdUs/s1600-h/image0113.jpg"&gt;&lt;b&gt;and grows brave by reflection&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p align="center"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkQVee6GI/AAAAAAAAAM0/FTRkcoPBd48/s1600-h/image0123.jpg"&gt;&lt;img title="image012" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="image012" src="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkRBhKYfI/AAAAAAAAAM4/6VZzJg9C1MM/image012_thumb.jpg?imgmax=800" width="162" border="0" height="244" /&gt;&lt;/a&gt;    &lt;br /&gt;&lt;b&gt;A smile is an in expensive way to change your looks&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;b&gt;   &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkSsZKAbI/AAAAAAAAAM8/M_Mk8QYCcoE/s1600-h/image0133.jpg"&gt;&lt;img title="image013" style="border-width: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="image013" src="http://lh4.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkToPpQhI/AAAAAAAAANA/GL8MpChD5js/image013_thumb.jpg?imgmax=800" width="244" border="0" height="164" /&gt;             &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkSsZKAbI/AAAAAAAAAM8/M_Mk8QYCcoE/s1600-h/image0133.jpg"&gt;&lt;b&gt;All people smile in the same language&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;    &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkUrLkrhI/AAAAAAAAANE/KP4Um0MkMsk/s1600-h/image0143.jpg"&gt;&lt;img title="image014" style="border-width: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="image014" src="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkVWfFpeI/AAAAAAAAANI/lDOtQkmluVA/image014_thumb.jpg?imgmax=800" width="166" border="0" height="244" /&gt;             &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkUrLkrhI/AAAAAAAAANE/KP4Um0MkMsk/s1600-h/image0143.jpg"&gt;&lt;b&gt;Children smile on the average 400 times/day;        &lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkUrLkrhI/AAAAAAAAANE/KP4Um0MkMsk/s1600-h/image0143.jpg"&gt;&lt;b&gt;Adult: 15 times/day.  Ever wonder whay?&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;    &lt;p align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkWz1uZ3I/AAAAAAAAANM/OZETn72AH0E/s1600-h/image0153.jpg"&gt;&lt;img title="image015" style="border-width: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" alt="image015" src="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkYI5AYoI/AAAAAAAAANQ/IUyPNw0JLSQ/image015_thumb.jpg?imgmax=800" width="244" border="0" height="164" /&gt;             &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkWz1uZ3I/AAAAAAAAANM/OZETn72AH0E/s1600-h/image0153.jpg"&gt;&lt;b&gt;A warm smile is the uiversal language of kindness&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; &lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkY4oRIvI/AAAAAAAAANU/AjmIogatR-k/s1600-h/image0163.jpg"&gt;&lt;img title="image016" style="border-width: 0px; display: inline;" alt="image016" src="http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzkZug2JfI/AAAAAAAAANY/JpP0J2SRgYk/image016_thumb.jpg?imgmax=800" width="164" border="0" height="244" /&gt;&lt;/a&gt;    &lt;br /&gt;&lt;b&gt;If I thought that a smile of mine, might linger the     &lt;br /&gt;whole day through and lighten some heart with a      &lt;br /&gt;heavier part, I'd not with hold it -- Would you ???      &lt;br /&gt;Smile becouse God gave human this beautiful gift -      &lt;br /&gt;A smile.... I sometimes wonder do animals have      &lt;br /&gt;this beautiful gift of smiling      &lt;br /&gt;Smile, not because it costs you or not, but because      &lt;br /&gt;you can make someone smile and make their day      &lt;br /&gt;So smileeeeeee please :-)) ...... Hmmm ... good,      &lt;br /&gt;looks very good, in fact suits you! our the best :-)       &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-8012969599787633738?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/8012969599787633738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=8012969599787633738&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/8012969599787633738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/8012969599787633738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/06/smile-is-important.html' title='Smile is Important'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh5.ggpht.com/_22cV4fga7Nc/SjzjzWOHzoI/AAAAAAAAALo/I8L6U1KsH5A/s72-c/image002_thumb.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-4788502407070061959</id><published>2009-06-20T04:09:00.000-07:00</published><updated>2009-06-20T04:18:52.448-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Forgiveness'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/SjzFPIoSLMI/AAAAAAAAALc/cLts2VLAYcQ/s1600-h/Forgiveness.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 352px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/SjzFPIoSLMI/AAAAAAAAALc/cLts2VLAYcQ/s400/Forgiveness.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349367321214463170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Chendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Chendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Chendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:595.35pt 841.95pt; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bapak dan ibu Handoko tidak pernah mendapat firasat sebelumnya bahwa mereka harus kehilangan putri kesayangan mereka, Inge Handoko, akibat dibunuh oleh teman prianya yang berniat untuk memperkosanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Inge Handoko terbunuh akibat penggunaan obat bius yang belebihan oleh teman-teman kekasihnya itu. Semula kekasih Inge telah merancang sebuah perampokan bohong-bohongan bersama teman-temannya agar ia dapat melampiaskan nafsu terlarangnya kepada Inge. Apa dinyana akhirnya rencana busuk itu malah berakhir dengan tragedi, akibat kekurangpahaman teman-temannya mengenai ukuran obat bius yang dipakai untuk membuat Inge tidak sadar. Hari itu Inge bukan hanya tidur sementara, namun ia tertidur untuk selamanya. Sebuah kecerobohan yang akhirnya membawa kekasihnya itu (sebut saja namanya Rudi) ke dalam terali besi selama 17 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kedukaan yang begitu dalam kemudian menyebabkan orangtua Inge menjadi lebih sensitif sehingga sering terjadi “perperangan” di dalam rumah mereka, hanya karena masalah spele saja. Istana itu kini sudah tidak damai lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penghiburan dari famili dan teman ditanggapi dengan sinis bahwa mereka bisa berkata seperti itu karena mereka tidak merasakan bagaimana beratnya sebuah kehilangan. Kedua orangtua Inge sudah mulai kehilangan akal sehatnya akibat duka itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sampai akhirnya, adik Inge, mengajak kedua orangtuanya untuk bertemu dan memaafkan pelakunya, sebelum keluarga ini hancur. Meski dirasa berat, namun akhirnya kedua orangtua Inge akhirnya menyetujui usul putra mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada hari yang ditentukan, Rudy, sang pelaku datang dengan kawalan ketat polisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Hari itu perasaan saya bergetar tak karuan. Hampir seluruh bagian tubuh saya nyaris kaku karena perasaan yang campur aduk antara keinginan untuk memaafkan dan rasa marah serta rasa duka yang masih begitu dalam,” ujar ayah Inge. “Namun saat dia (Rudy) akhirnya berdiri di hadapan kami berdua, saya lalu kuatkan hati saya dan beranikan diri saya untuk menghampirinya. Sambil saya menggandeng mama Inge, perlahan saya lalu menuju ke arahnya. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja saya sudah memeluknya. Orang yang telah menyebabkan saya harus berpisah dengan putri kesayangannya, sekarang berada di dalam pelukan saya. Air mata saya menetes deras. Saya juga tidak tahu apa yang dirasakan Rudy saat itu. Perlahan saya kemudian berkata kepadanya, ‘Anakku Rudy, kamu jangan khawatir, kami sudah memaafkan kamu… Sekarang kamu bisa jalani hidup kamu dengan lebih tenang karena kami… telah sungguh-sungguh memaafkan kamu. Dan bila kamu sudah bebas nanti, jangan takut untuk datang ke rumah ini lagi, karena pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Usai itu, entah kenapa, hati saya sungguh merasa lega, seakan sebuah beban berat telah berhasil terlepas dari hidup saya. Walau tak lama kemudian, saya melihat bahwa Rudy lalu jatuh terduduk lemas. Kami akhirnya menyadari sesuatu bahwa rasa maaf dapat membantu membangun hidup kami yang seakan telah hancur. Rasa dendam tidak pernah akan mengembalikan Inge di tengah-tengah keluarga kami lagi. Pada akhirnya, rasa maaf itu telah menyelamatkan keluarga kami,” ucap ayah Inge mengakhiri sharing luar biasanya hari itu di acara Life Solution di O-Channel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;Source : dsp magz, no. 75 edisi Januari 2009 (Wedyanto Hanggoro).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-4788502407070061959?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/4788502407070061959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=4788502407070061959&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/4788502407070061959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/4788502407070061959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html' title=''/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/SjzFPIoSLMI/AAAAAAAAALc/cLts2VLAYcQ/s72-c/Forgiveness.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1050407101949106086</id><published>2009-06-02T02:49:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T03:14:12.506-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dhamma'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sad Paramita in Daily Life'/><title type='text'>SAD PARAMITA IN DAILY LIFE</title><content type='html'>&lt;ol&gt;   &lt;li&gt;&lt;b&gt;Dana (kedermawanan)&lt;/b&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Dana atau kedermawanan atau murah hati adalah salah satu paramita yang termudah untuk dilakukan. Seperti yang sudah banyak kita ketahui, melatih dana dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dengan memberi. Poin terpenting dari dana paramitha adalah niat kita yang tulus untuk memberi. Mereka yang memiliki materi yang berlebih, dapat memberikan sebagian dari materi yang dimilikinya kepada yang lebih membutuhkan. Dana juga dapat berupa pemberian non materi seperti ide pikiran, tenaga, ucapan yang baik, dsb. Berdana kepada vihara atau ikut serta dalam kegiatan-kegiatan social adalah juga merupakan salah satu bentuk yang mudah untuk dilakukan dalam melatih dana paramita.&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;&lt;b&gt;Sila (moralitas)&lt;/b&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Sila adalah peraturan-peraturan ataupun norma-norma. Sila paramita yang wajib dilatih oleh para umat awam adalah dengan melaksanakan Pancasila Buddhis. Bertekad untuk menghindari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, berkata yang tidak benar, dan menghindari mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran dan ketagihan.&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;&lt;b&gt;Kshanti (kesabaran)&lt;/b&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Melatih kesabaran mungkin menjadi salah satu paramita yang cukup sulit dilakukan di zaman yang penuh dengan stres dan tekanan ini. Namun seperti yang pernah disabdakan oleh Buddha, kesabaran adalah cara bertapa yang paling baik. Jadi jika kita termasuk orang yang malas untuk bermeditasi, berlatihlah untuk menjadi orang yang sabar atau bermeditasilah untuk menjadi orang yang sabar. Dan seperti juga proses berlatih diri, mulailah untuk menjadi sabar dengan orang-orang terdekat kita untuk kemudian dilanjutkan kepada yang lebih luas lagi. Satu hal yang perlu kita ingat dalam proses pelatihan kesabaran ini, tetaplah sabar jika pelatihan kesabaran ini belum juga menunjukan hasil.&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;&lt;b&gt;Viriya (semangat)&lt;/b&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Semangat! Untuk menjadi seseorang yang terus menerus bersemangat sangatlah tidak mudah. Ada satu waktu dimana kita bisa menjadi begitu bersemangat, namun di waktu yang lain, kita merasa jenuh untuk melakukan sesuatu. Cara untuk menjaga semangat kita adalah dengan terus mengingat tujuan awal kita. Ketika di dalam bekerja kita tidak lagi bersemangat, ingatlah apa tujuan kita bekerja. Ketika kita kuliah atau sekolah, ingatlah tujuan kita belajar, dan ketika kita lagi tidak bersemangat di dalam suatu organisasi, ingatlah apa yang menjadi tujuan kita ketika kita memutuskan untuk aktif di organisasi.&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;&lt;b&gt;Dhyana (pikiran yang terpusat)&lt;/b&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Melatih dhyana paramita atau pikiran terpusat memang sangat mudah jika kita bermeditasi, namun tidak semua dari kita memiliki bakat atau minat untuk berlatih meditasi. Jika kita termasuk orang-orang yang tidak suka bermeditasi, dhyana paramita masih dapat kita latih dengan menyadari aktivitas yang kita lakukan saat ini.&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;&lt;b&gt;Prajna (kebijaksanaan)&lt;/b&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Melatih kebijaksanaan, sesungguhnya sangatlah sulit. Contohnya dalam berbicara. Banyak orang bilang, mampu berbicara pada waktu dan kondisi yang tepat adalah bijaksana. Namun tidak sedikit dari kita yang tidak bisa melakukannya. Kebijaksanaan dapat kita latih dengan berbagai cara. Cara yang paling mudah adalah dengan membaca buku-buku yang bermanfaat. Dengan pikiran yang mengetahui apa yang baik dan apa yang tepat serta mengamalkannya, kita akan dapat meningkatkan kebijaksanaan kita. Mengetahui tanpa melakukan hanyalah menjadi orang pintar namun tidak bijak. Selain melakukan 5 paramita yang lainnnya, cara paling baik untuk dapat menjadi bijaksana adalah dengan bermeditasi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Source : dsp magz, no. 76 edisi Maret 2009.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1050407101949106086?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1050407101949106086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1050407101949106086&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1050407101949106086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1050407101949106086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/06/sad-paramita-in-daily-life.html' title='SAD PARAMITA IN DAILY LIFE'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-1417109493326165010</id><published>2009-06-02T02:48:00.001-07:00</published><updated>2009-06-02T03:54:40.200-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dhamma'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hidup yang Ceria'/><title type='text'>Hidup yang Ceria</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/SiUDaDcBAXI/AAAAAAAAALU/MvTO8tbBIYo/s1600-h/happy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 259px; height: 252px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/SiUDaDcBAXI/AAAAAAAAALU/MvTO8tbBIYo/s400/happy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342680279079256434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hidup lebih ceria semuanya terpusat dan berawal dari bentuk-bentuk pikiran kita.&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;&lt;b&gt;Tenang saja&lt;/b&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Yang dimaksud dengan tenang saja adalah suatu metode untuk menenangkan pikiran kita. Ketika pikiran kita tenang, akan menjadi lebih mudah untuk menyadari berbagai variasi bentuk-bentuk pikiran, perasaan dan sensasi yang ada di dalam tubuh kita. Setelah dapat menenangkan pikiran kita, hal ini dapat dilanjutkan dengan praktik bermeditasi analitis, yaitu melihat secara langsung ke dalam pikiran di tengah-tengah pengalaman, dan biasanya ditempuh ketika seseorang telah berlatih bagaimana menenangkan pikirannya. Ini merupakan suatu latihan dasar dimana kita mengistirahatkan pikiran kita dalam kondisi kesadaran yang rileks agar pikiran menjadi lebih tenang.&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;&lt;b&gt;Berdiam dalam obyek&lt;/b&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Setelah pikiran kita tenang, kita membutuhkan suatu obyek yang spesifik untuk difokuskan pada saat bermeditasi. Mengapa perlu suatu obyek? Karena meditasi tanpa obyek sangatlah berat. Kesadaran yang merupakan esensi alami pikiran terlalu dekat untuk disadari dan terus menerus bersama kita sepanjang waktu. Tanpa kita sadari hal ini membuat kita mudah sekali untuk terjebak dalam bentuk-bentuk pikiran, perasaan, dan sensasi yang secara alami adalah produk dari pikiran. Oleh karena itu kita membutuhkan suatu obyek dan metode yang paling sempurna, yaitu secara langsung menggunakan panca indera sebagai alat untuk menenangkan pikiran, seperti meditasi dengan obyek sensasi fisik, sakit, pada bentuk, suara, bau, rasa dan yang paling umum yaitu keluar masuknya nafas kita.&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;&lt;b&gt;Gunakan pikiran dan perasaan&lt;/b&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Perasaan cenderung dikenang dan bertahan lama serta bisa menjadi lebih berguna daripada bentuk-bentuk pikiran sebagai pendukung meditasi. Perasaan posesif seperti cinta, kasih sayang, persahabatan, dan kesetiaan membuat pikiran menjadi kuat. Dengan menggunakan kekuatan pikiran dan perasaan yang posesif akan sangat bermanfaat ketika kita menghadapi suatu kondisi dimana kita merasa tidak bahagia dan terpuruk dalam ketidakberdayaan yang disebabkan oleh kekotoran batin dalam diri kita. Setiap kekotoran batin sebenarnya adalah suatu pondasi bagi diri kebijaksanaan. Jika kita terjebak dalam kekotoran batin tersebut atau berusaha menekannya maka akan menghasilkan lebih banyak masalah bagi diri kita sendiri. Sebaliknya, bila kita langsung mengamatinya, hal-hal yang kita takutkan akan membunuh kita perlahan-lahan akan berubah menjadi pendukung meditasi paling kuat yang dapat kita harapkan.&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;&lt;b&gt;Welas asih (membuka lubuk hati)&lt;/b&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Welas asih yang dimaksud adalah kemampuan untuk melihat mahluk lain sama seperti diri kita sendiri. Sebuah penyadaran tentang apa yang kita rasakan atau yang disebut juga “ikut merasakan”. Welas asih dalam istilah Buddhis adalah mengenal mahluk lain secara sempurna dan kesiapan untuk membantu dengan cara apapun. Pada intinya adalah menyadari bahwa semua manusia dan semua hal adalah refleksi dari setiap orang dan setiap hal. Dengan memiliki welas asih yang tulus, dimana kita bisa berbuat, berkata dan berpikir demi kebahagiaan mahkluk lain adalah merupakan salah satu kunci untuk mendapatkan kebahagiaan dan keceriaan dalam hidup. Memang untuk mencapai hal ini tidaklah mudah, harus dilakukan tahap demi tahap pelatihan dan secara perlahan-lahan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Source : dsp magz, no. 76 edisi Maret 2009 (yuddy/disarikan dari buku &lt;i&gt;The Joy of Living &lt;/i&gt;karya Yongey Mingyur Rinpoche).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3785396248829240468-1417109493326165010?l=indahnyadhamma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/feeds/1417109493326165010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3785396248829240468&amp;postID=1417109493326165010&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1417109493326165010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3785396248829240468/posts/default/1417109493326165010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indahnyadhamma.blogspot.com/2009/06/hidup-yang-ceria.html' title='Hidup yang Ceria'/><author><name>Kurniawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00310663745481431298</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/TPicyJnMmfI/AAAAAAAAARM/GpV8dfoNNhA/S220/DSC04184.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_22cV4fga7Nc/SiUDaDcBAXI/AAAAAAAAALU/MvTO8tbBIYo/s72-c/happy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3785396248829240468.post-8726790782973395720</id><published>2009-06-02T02:48:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T03:06:57.374-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dhamma'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nobel Perdamaian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Noble Life'/><title type='text'>Noble Life</title><content type='html'>&lt;p&gt;Banyak orang yang kurang menghargai kehidupan mereka sebagai seorang manusia. Kita semua tahu bahwa alam manusia yang kita singgahi ini sangatlah langka dan sulit untuk ditemukan. Bagaikan seekor kura-kura yang yang hanya muncul menyembulkan kepalanya 100 tahun sekali di samudra bebas dengan sebuah cincin besar yang terapung tanpa arah di samudra tersebut. Ketika kepala kura-kura berhasil masuk ke dalam cincin, saat itulah kita memiliki kesempatan untuk dapat lahir sebagai seorang manusia. Betapa kehidupan kita sangatlah singkat dan tidak pernah ada yang tahu apakah kita memiliki kesempatan yang sama sekali lagi. Hal ini juga diumpakan oleh Guru Buddha, berikut,&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada suatu saat ketika berdiam di Vihara Jetavana di Savatthi, sang Buddha datang menghampiri para Biku dan bertanya kepada mereka, setelah sengaja menempelkan debu di kukunya, “Oh Biku, bagaimana menurutmu jika membandingkan debu yang ada di kuku Saya dengan debu yang ada di tanah?” “YM Bhante, jumlah debu di kuku terlalu sedikit dan dapat diabaikan bila dibandingkan dengan debu di tanah, yang jumlahnya jauh lebih banyak,” jawab para Biku dengan hormat. “Oh Biku, begitu juga dengan jumlah manusia yang akan kembali ke alam manusia setelah meninggal dunia, adalah sedikit seperti jumlah debu yang ada di kuku Saya. Jumlah orang yang akan terlahir kembali di alam rendah yaitu alam neraka, alam binatang, alam setan dan alam jin raksasa setelah meninggalkan alam manusia, adalah sebanyak debu yang ada di tanah,” sabda sang Buddha.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terlahir menjadi seorang manusia merupakan suatu karma baik yang luar biasa. Di alam manusia inilah, kita semua dapat menabur kebajikan-kebajikan dengan melaksanakan sila dan mengembangkan sifat-sifat luhur dalam diri kita. Bahkan ketika seorang Bodhisatva ingin menjadi Buddha, calon Buddha tersebut haruslah terlahir sebagai seorang manusia. Alam manusia tidak pernah terlepas dari penderitaan. Hal inilah yang menyebabkan kita dapat terus melatih parami-parami yang kita miliki. Sang Buddha telah menunjukkan jalan bagaimana caranya agar kita dapat terbebas sempurna dari penderitaan (dukkha). Kita hanya harus mengikuti dan menelusuri jejak-Nya saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hidup ini adalah sebuah pilihan. Kita semua memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan hidup kita dengan menjadikannya berharga melalui 3 pintu gerbang utama timbulnya sebuah sebab dan akibat, yaitu ucapan, pikiran dan perbuatan. Cara yang paling mudah untuk dilakukan pertama kali adalah dengan mempraktikkan sila (moralitas). Sebagai seorang umat awam ada 5 sila yang dapat kita praktikkan agar hidup kita menjadi bahagia. Antara lain, tidak membunuh, tidak mengambil hal yang bukan miliknya, tidak berbuat asusila, tidak berucap yang tidak benar dan tidak mengkonsumsi apapun yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran/menimbulkan ketagihan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah menjalankan sila dengan baik, maka kita dapat naik ke jenjang yang selanjutnya yaitu samadhi (konsentrasi). Sang Buddha pernah menjelaskan di dalam Dhammapada bahwa, “pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk… .” Dengan melatih pikiran kita dan dengan menyadari bentuk-bentuk pikiran yang muncul, maka kita dapat lebih waspada terhadap diri kita sendiri dan juga terhadap mahluk-mahluk yang lainnya. Kita juga dapat mencapai suatu ketenangan batin yang luar biasa. Hal ini dapat dilakukan dengan bermeditasi. Meditasi memiliki banyak cara dan metode, dan yang paling umum digunakan adalah ‘anapanasati’ (memperhatikan nafas yang masuk dan nafas yang keluar).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika pikiran-pikiran telah terjaga, maka akan timbul panna (kebijaksanaan) dalam diri kita. Hal yang satu ini membuat kita memahami semua fenomena yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari sebagaimana mestinya, sebagaimana adanya dan penerimaan terhadap segala sesuatu yang timbul tenggelam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ada 10 (sepuluh) hal yang membuat kehidupan kita sebagai seorang manusia menjadi sangat berharga :&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;Kita telah terlahir sebagai seorang manusia. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Terlah
